"Lepasin! Lepasin!" teriak Kefin kasar seraya meronta hendak melepaskan diri dari tangan satpam yang menyeretnya keluar.
"Cher! Cherry!" serunya.
Satpam melepaskannya saat sudah di luar rumah.
"Kan bisa dibicarakan baik-baik! Jangan begini! Kalau masih tetap ribut nanti saya panggil polisi!" Ancam satpam Cherry.
"Huh! Satpam seperti kamu jangan ikut-ikutan!" Kefin hendak masuk kembali tapi satpam itu menangkapnya lagi, membuat adegan smack down hingga tubuh Kefin terpelanting ke lantai.
"Argh!" erang Kefin memegangi kepalanya yang terantuk bagian bawah teras rumah Cherry.
"Sebaiknya Mas Kefin pulang dulu! Semua masalah bisa dibicarakan baik-baik."
Kefin beranjak bangun, mendengus dan akhirnya pergi setelah satpam itu mengambil ancang-ancang akan menghajarnya kembali.
Hari Kefin sakit sekali, bagaimana wanita yang sangat cintai berbuat seperti itu. Bahkan mereka sudah merencanakan sebuah pernikahan, tapi seperti ini keadaan keduanya sekarang. Segalanya kandas hanya karena seorang bocah yang menyita perhatian Cherry.
Sementara itu di dalam rumah, Cherry begitu cemas pada kondisi Barry. Dia panik dan menyentuh Barry yang kesakitan.
"Barry, kamu enggak apa-apa?"
Si Mbak yang baru saja turun dari lantai atas karena mendengar keributan itu bergegas mengambil kotak P3K saat melihat luka di wajah Barry.
"Ini, Non. Obati lukanya!" ujarnya sambil membawa nampan berisi kotak obat dan mangkuk besar dengan air hangat dan kain untuk mengompres luka lebam.
"Barry, kamu enggak apa-apa kan?" Cherry menyesal sekali bahwa semua ini terjadi pada Barry.
Dia sangatlah bodoh, mengizinkan Barry masuk ke hidupnya dan membuatnya jadi menerima hal buruk seperti ini.
Si Mbak kembali pergi meninggalkan mereka berdua. Pak satpam juga hanya berdiam diri di luar setelah berhasil memukul mundur Kefin.
Cherry menyeka wajahnya Barry yang terluka, menutul-nutul dengan kain secara perlahan dan hati-hati.
"Aku enggak apa-apa kok, Tante." Barry masih bisa tersenyum di saat seperti ini.
Darah dalam tubuhnya seolah terpompa dengan sangat keras. Entah karena ciuman mesra tadi, atau karena rasa kejut dari serangan tiba-tiba pria yag yang dipanggil Fin tadi.
Jantungnya berdetak dengan sangat keras. Dia kini bersandar di sofa sementara Cherry berada di hadapannya dengan raut wajah cemasnya.
"Maafin Tante ya, Barry."
"Sungguh, Tante. Barry enggak apa-apa." bisiknya sambil tersenyum.
Cherry hampir menangis, disentuhnya wajah Barry dengan jemarinya. Barry mengulas senyum lagi.
"Tante makin cantik kalau dilihat dari Deket begini." goda Barry.
"Ish, kamu ini lagi luka lho! Sempet-sempetnya gombal!" Cherry mencubit bagian pinggang Barry.
"Aduh! Aduh!"
"Eh! Eh! Sakit ya?"
"Hehehe, enggak kok Tante."
"Ish, kamu ini!"
Cherry mengoleskan obat anti infeksi ke bagian wajah Barry yang luka. Sementara Barry fokus memandang wajah Cherry yang amat dekat dengannya sekarang. Ingin rasanya Barry mengecup bibir pemilik senyum indah itu lagi.
Gairahnya sebagai pria terus bermunculan. Seakan dia tak akan mampu menahan apapun di depan Cherry yang terlihat sangat membuka hatinya, untuk Barry tempati.
Tiba-tiba saja Barry meraih tangan Cherry yang memegang cutton buds. Dua tangan itu menggantung di udara saat kedua pemiliknya lagi-lagi bertatapan dengan canggung.
'Ya ampun, nafas gue kenapa jadi kaya habis lari maraton?' Barry menatap lembut Cherry yang tertegun, karena Barry seperti akan melahapnya kali ini.
"Apa aku boleh?"
"Emh?" Cherry menatap Barry tak berkedip.
"Apa aku boleh jadi pemilik hati Tante?" tanya Barry perlahan dengan suara hampir seperti berbisik.
Cherry terdiam, matanya masih bertumbukkan dengan mata cowok yang tak lain adalah mahasiswanya sendiri.
Tak disangka olehnya bahwa Barry akan mengatakan hal demikian. Baginya, dia memulai segalanya hanya untuk bersenang-senang dan menentramkan hatinya pasca memutuskan hubungannya dengan Kefin karena sebuah alasan kuat.
Barry dan tingkahnya yang sering meminta uang meski dengan cara tak langsung itu dianggap Cherry sebagai tempat untuknya menemukan bahagia sementara sebelum akhirnya dia pergi untuk selamanya. Pergi dengan harapan tak ada satu orangpun yang akan merasa kehilangan dirinya.
"Boleh aku jadi pemilik hati Tante?"
Ingin rasanya Cherry menjawab "Iya." Tapi kemudian dia tersadar bahwa itu hanya akan menjadi perangkap saja. Yang tersisa nantinya hanyalah hati terluka Kefin dari dalam diri Barry.
Cherry menggeleng pelan, Barry tak percaya dirinya ditolak begitu saja. Cherry menarik tangannya, tapi Barry menahannya. Sekali lagi dia mendekatkan wajahnya ke wajah Cherry. Berniat melakukan hal yang serupa dengan tadi. b******u dengan Cherry dengan melumat bibirnya yang manis.
Tapi Cherry kali ini menolak. Dia mengindari Barry dan mendorong pelan tubuh Barry agar menjauh darinya. Cherry kini menjadi wanita dewasa yang hanya punya rasa bimbang dan cemas .
"Ke-kenapa Tante?" lirih Barry kecewa karena kali ini mendapat penolakan.
"Ayo, biar Tante antar kamu pulang!" Cherry bangkit berdiri.
Barry terbelalak tak percaya dengan sikap Cherry yang berubah drastis seperti ini.
"Tante, apa Tante masih mencintainya? Cowok tadi!" Barry berdiri di belakang Cherry.
Cherry hanya memunggungi Barry.
"Barry, tolong jangan tanyakan lagi hal-hal yang seperti ini."
"Tapi, Tante!" Barry yang sudah merasakan gejolak dalam hatinya tak mau menyerah begitu saja setelah mendapatkan penolakan yang tak masuk akal ini.
Dilihat dari cara Cherry menerima ciumannya tadi. Dia yakin bahwa Cherry juga menyukainya. Barry tak mau mundur barang selangkah. Dia sudah merasa hampir gila dibuatnya, benar-benar tergila-gila pada pesona Cherry.
Cherry hendak berjalan keluar, Barry mengejarnya kemudian memeluknya dari belakang.
"Tante." Barry mendekap tubuh Cherry yang lebih rendah darinya.
Cowok tinggi itu tak berdaya ditikam oleh hasratnya terhadap Cherry. Dia tak akan membiarkan mangsanya itu lepas begitu saja. Yang dia kejar kali ini bukanlah uang, tapi hati Cherry.
Nafas Barry terasa di tengkuk Cherry. Wanita dengan rambut panjang itu berusaha keras menahan diri agar tetap menolak Barry.
Dia menggeliat pelan, memberikan pemahaman bahwa dia ingin Barry melepaskan pelukannya. Tapi Barry tak mau, dia semakin mempererat dekapannya.
Bahkan kini Barry mulai menyesap harum rambut Cherry. Dia menempelkan wajahnya di sana, menciuminya dengan penuh gairah.
"Barry. Sebaiknya kamu pulang! Ayo Tante antar!" Cherry memakai tenaganya untuk melepaskan diri dari Barry.
Kini Barry benar-benar tercengang. Cherry menolaknya lagi.
Cherry keluar lebih dulu, Barry masih tertegun di tempatnya berdiri tadi. Ditatapnya tubuh indah itu hingga pandangan mata Barry terhalang oleh tanaman hias di teras rumah besar itu.
Bibir lembut itu, Barry menyentuh bibirnya sendiri. Merasa nelangsa karena mendapat penolakan saat dirinya tengah amat b*******h seperti ini. Tak pernah dia merasakan hal semanis ini selama hidupnya.
Hubungannya dengan Giana tak pernah memicu hasratnya seperti ini. Entah kini dia mulai dewasa atau entah karena hal lain.
"Tante Cherry." lirihnya.