Five

1161 Kata
“Ck, gue harus gimana nih? Pasti Giana ngambek kalau aku hari ini enggak kasih dia uang. Bapaknya emang separah itu ya? Sampai harus hari ini banget! Hem, belum jadi mertua aja udah nyusahin, gimana nanti!” gerutunya sambil berjalan menuju parkir motor. Barry bergegas menyalakan mesin motor matic itu, masalah cara bagaimana mendapatkan uang bisa dia pikirkan nanti. Yang penting sekarang jalan saja terlebih dahulu, begitu pikirnya. Di gerbang depan, satpam yang biasa berjaga menghentikan laju matic yang dikendarai Barry. “Eit! Eit! Mau kemana? Mau kemana? Udah mau bell!” ujarnya menekan bagian depan matic dengan dua buah tangannya, bermaksud menghentikan kendaraan roda dua itu. “Pa, ada buku yang ketinggalan!” Barry beralasan. “Alah, enggak mempan! Gue tahu, elu mau bolos kan? Kebiasaan!” “Ya ampun, bener pak!” “Enggak percaya gue! Eh, Barry! Dengerin ya! Elu udah kelas tiga, fokus belajar biar lulus terus dapat kampus yang bagus! Bukan malah kelayaban begini!” “Pak, saya itu mau ambil buku yang ketinggalan!” “Serius?” “Ya iya, Pak! Masa saya bohongin bapak, bohong sama orang tua kan dosa!” “Bener nih?” “Bener, Pak! Lagian kalau saya mau bolos, pasti keluar pager bertiga sama dua kunyuk.” “Iya sih.” “Yaudah pak, minggir dah ya! Buruan!” “Iya deh, jangan ngebut! Helmnya pake!” “Beres!” barry menarik gas maticnya dan mengikuti keinginan hatinya untuk datang ke kediaman Cherry. Sesampainya di sana, dia menunggu dengan sabar. Barry memarkirkan motor di depan rumah tetangga Cherry. Berharap mobil Cherry akan segera keluar dan selanjutnya rencana akan berjalan sesuai keinginannya. Benar saja, tak lama kemudian sebuah mobil berwarna putih dengan label huruf H itu keluar perlahan dari halaman rumahnya yang megah. Barry bersiap, dia sengaja membuka helmnya agar Cherry dapat mengenalinya dengan jelas. Saat mobil Cherry melaju, dia buru-buru berusaha mendahului Cherry. Barry sudah berada di depan mobil Cherry. Dia menghitung sampai tiga, menerka bahwa setelah hitungan ketiga Cherry sudah mulai mengenalinya. “Satu-dua-tiga!” ucapnya mantap. “Ttiinnn!!! Ttiiinn!!!” suara klakson mobil Cherry. Barry memperlambat laju kendaraanya, kemudian menepi. Memberi kesempatan agar Cherry bisa menyapanya. Seolah kebetulan sekali mereka bertemu di jalan seperti ini. Cherry membuka kaca mobilnya, berseru dengan suara agak keras agar Barry bisa mendengarnya. “Barry, enggak sekolah?” tanyanya. “Kenapa, Tan?” Barry meninggalkan motornya dan menghampiri Cherry, berdalih tidak dengar ucapan Cherry. Padahal, sebetulnya dia ingin pamer ketampanan agar wanita itu terpana karenanya. “Kamu kenapa masih di jalan jam segini? Enggak sekolah?” Cherry mengecek jam tangannya, sudah pukul delapan. Harusnya para siswa sudah berada di kelas masing-masing. “Sekolah kok, Tan. Cuma..” “Cuma apa?” “Hehe.” “Kok malah ketawa?! Cuma apa?” “Ini, Barry belum bayar spp tante. Jadi hari ini suruh pulang dulu minta uang ke Babeh Barry.” “Spp? Terus gimana? Udah ada uangnya?” “Tadi sih Barry udah pulang.” Barry menggaruk tengkuknya meski tak gatal sama sekali. “Terus? Bapak kamu ada?” “Bapak sih ada, cuma duitnya yang enggak ada hehe.” “Ya ampun! Berapa sih spp kamu, Bar? Kebetulan tante lagi bawa uang cash nih semoga cukup.” “Duh, enggak tante! Enggak usah!” barry pura-pura menolak tawaran Cherry. Masih termasuk dari modusnya untuk mendapat banyak uang dan keuntungan dari Cherry. “Enggak apa-apa! Berapa? Ini cukup enggak ya? Coba sebentar!” Cherry merogoh ke dalam tasnya, menemukan sebuah dompet branded dan mengecek isinya. Ada lima lembar uang seratus ribuan. Barry memasang wajah melas dan sungkan, dia tak begitu saja menerimanya. Image dia di depan mangsanya amatlah penting saat ini. Apalagi, kemungkinan besar dia akan menghasilkan banyak uang dari Cherry yang terlihat baik dan ramah padanya. “Nah, ini Barry. Cuma ada segini, apa cukup?” Barry mengangkat telapak tangannya, menggerakkannya dengan cepat berdalih menolak pemberian Cherry. “Enggak, Tante! Enggak usah! Barry pamit ya tante!” barry berbalik dan berharap Cherry segera berseru memanggil namanya lagi. ‘Satu-dua-tiga!’ “Barry! Tunggu sebentar!” Cherry turun dari mobil. ‘Yes! Bidikan gue tepat sasaran! Batu yang gue lempar ke pohon biasanya mengenai burung dara, tapi kali ini beda, ini burung bukan sembarang burung. Kalau diibaratkan burung, tante Cherry ini burung cantik yang langka dan mahal. Kira-kira burung apa ya yang cantik dan mahal? Het dah ngapa jadi mikirin burung sih!’ Barry kemudian menoleh perlahan, mencoba terlihat tampan dari sisi kanan. Cherry sudah berdiri di belakangnya sekarang. Barry menunduk, agar Cherry yakin dan semakin tersentuh oleh keadaan dan sikap Barry. Wanita cantik yang hari ini mengenakkan heels dari Christian Louboutin yang harganya selangit itu perlahan menyentuh tangan Barry dan menariknya, kemudian dia menyelipkan uang tadi ke tangan Barry. “Tante, tapi...” “Udah, sekarang Barry balik ke sekolah dan belajar yang tekun! Oke!” “Tapi, Barry enggak tahu kapan bisa balikin uang tante ini.” Wajah Barry sangat mengundang rasa kasihan. “Udah, ini buat Barry aja. Jangan mikir harus balikin ini.” “Tapi tante..” “Udah sana, tante berangkat dulu ya. Udah siang! Kamu cepet kembali ke sekolah ya, Barry!” “I-ya tante, Barry enggak enak nih ngrepotin tante.” “Enggak apa-apa, jangan sungkan ya Barry. Tante seneng kok bisa bantu Barry.” “Iya, tante. Barry makasih banyak! Tante Cherry ini sudah cantik, baik pula!” “Bisa aja kamu, Barry! Ya sudah ya!” Cherry kembali ke mobil dan duduk dibelakang kemudi. Tiba-tiba Barry teringat soal nomo ponsel Cherry, secepat kilat dia berlari dan kini sudah berada di samping mobil lagi. “Tante, maaf. Bo-boleh minta nomor tante? Nanti kalau Barry udah ada uang, biar Barry telepon tante buat balikin uang ini.” Cherry tersenyum, Barry mengulurkan ponsel miliknya yang usang dengan layar retak. Cherry jadi kasian sekali pada anak muda baik hati itu. kemudian Cherry menyimpan nomornya di ponsel barry. “Sebenernya kamu enggak butuh nomor telepon tante, kan Barry tahu rumah tante.” “Hehe, iya ya Tan.” “Kalau ada apa-apa, main aja ke rumah ya!” “Iya tante, sekali lagi makasih banyak ya tante.” “Iya, bye Barry!” cherry tersenyum tipis, disaat yang bersamaan kedua matanya menyipit dengan sangat cute. Bagi Barry, Cherry itu nampak seperti tokoh webtoon kesukaannya. Tubuh ramping, mata besar berkilau indah, kemudian bibir tipis dan rambut panjang yang agak bergelombang. Mobil putih itu melaju pergi meninggalkan Barry yang masih berdiri dengan lima lembar uang di sakunya. Hari ini dia lumayan puas, ternyata skill tipu-menipunya masih sangat tajam dan tidak akan memudar hingga beberapa tahun lagi. Dia kembali ke motornya, mematut wajahnya di spion sebelah kanan. Mengusap dagu, menjilat tangannya dan menyapukan liurnya ke rambut depan. “Barry-Barry! Inget ya, asal elo ganteng gini. Apapun bakal elo dapetin! Seisi dunia sekalipun! Hahaha!” Dia tergelak seorang diri. “Sebaiknya gue cepet balik ke sekolah, Giana pasti udah cemas banget sama kondisi bapaknya.” Gumamnya kemudian setelah puas tertawa hingga batang tenggorokannya kering kerontang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN