PART 1

1496 Kata
“Hei, dek kamu nangis” aku pun mendongak ke atas dan menghapus air mataku yang mengalir di pipi. “Kak…mamaku udah meninggal. Gak ada lagi yang bisa marahin aku lagi kalau aku nakal. Aku janji gak akan nakal lagi kak yang penting mama kembali,” ucapku terisak. Sesaat cewek itu tersenyum dan mengelus bahuku perlahan, ternyata saat aku pandangi wajahnya dia sangat cantik dan menarik. Rambut panjang kecoklatannya, kulit putih mulus, dan senyumnya yang menawan. Andaikan saat itu aku tidak sedih, pasti habis aku godain. Cakep gitu. “Kamu tau gak, katanya orang yang sudah meninggal itu, kebaikannya sudah cukup di dunia ini. Dia pergi karena tau bahwa orang-orang yang di sekelilingnya sudah siap untuk ditinggalkan” “Kakak, siapa yang meninggal. Orang tua kakak?” tanyaku karena saat ini dia juga sedang berada di pekuburan. “Gak, nenekku. Hanya dua bulan sejak kakek meninggal dia nyusul kakek. Cinta sejati kadang begitu, gak akan betah pisah di dunia dan akan bersatu di akhirat. Udah yah kamu yang tegar, banyak kok pasti yang sayang sama kamu. Aku udah harus ke kampus nih, persiapan ospek besok” “Iya kak. Terima kasih” “Iya udah, kamu jangan nangis lagi yah. Masa cowok lemah gitu, gimana ngejaga cewek kamu nanti,” ucapnya sembari mengacak-acak rambutku dan berlalu. “Aku bisa loh jagain kakak!” teriakku karena dia sudah jauh berjalan. “Ah, gaklah. Kamu bocil” singkat, padat dan jelas meremehkanku. Gadis inilah cinta pertamaku, saat usiaku 14 tahun kelas 2 SMP. Namaku Zlatan Putra Utama, Zlatan karena ayahku ngefans pemain bola Zlatan Ibrahimovic, kalau Putra Utama gak perlulah aku jelasin udah ketauan artinya. Aku anak bungsu dari tiga bersaudara, dua kakakku perempuan dengan umur terpaut jauh dari umurku. Mereka sudah kuliah dan yang satunya sudah bekerja. Karena umurkulah yang terpaut jauh ini dan anak laki-laki satu-satunya membuatku manja dan nakal. Mereka tidak pernah menegur atau memarahiku, bahkan kakak pertamaku yang bekerja selalu menyisihkan gajinya untuk uang jajan bulananku, sesayang itu mereka sama aku. Bolos dan berkelahi di sekolah alasan orang tuaku datang ke sekolah, tapi Ayah biasanya hanya pura-pura memarahiku di depan guru BK. Setelah kuantar keluar pekarangan sekolah, dia hanya tertawa dan bangga anak lakinya jadi jagoan. Apalagi setelah tahu cerita sebenarnya, aku berkelahi karena mereka kalah main fustal dan tidak terima, cari gara-gara namanya. Untung saja guru olahragaku cepat melerai, hampir aja si b******k itu gak liat matahari besok. Gak tahu dia, aku juga ikut taekwondo. Sekali tendang, hilang ingatan besok. Setelah ketemu kakak cantik itu, aku mendapatkan mimpi basah pertamaku, dan yang aku bayangin ternyata dia. “Eza, iya gitu. Cepat, ah….enak banget” suaranya yang seksi memacuku untuk semakin mempercepat goyanganku. Wajahnya, senyumnya dan tubuhnya habis kucumbui. Keesokan paginya celana bokserku sudah basah karena mimpi erotisku itu. Aku tahu itu mimpi basah karena aku blak-blakan bicara sama Ayah yang memang aku dan dia tidak pernah sekalipun gengsi untuk bercerita bahkan cerita vulgar sekalipun, karena dia percaya lebih baik aku belajar penddikan seks dari dia daripada aku dapatkan di luar dan tidak jelas bahkan menyesatkan. Sejak saat itu cewek itulah yang aku yakini cinta sejatiku. Tapi hingga saat ini, saat aku sudah SMU, gak pernah sekalipun ketemu dia lagi. Perjalanan panjangku mencari cinta sejatiku, cukup berliku-liku yah bahkan bisa dibilang b******k. Masa iya, gak pernah pacaran, culun dong akunya. Gaklah, cipokan sama megang-megang sih pasti. Enak gitu. Aku pacaran pertama kali saat SMU kelas satu, SMP aku hanya mikirin futsal dan main motoran sama teman-teman sekolahku. Berbeda saat SMU, apalagi pas MOS aku ditaksir sama kakak kelas yang cakep, tapi si Mirot masih kalah jauh lah, Mirot aku namain si cewek itu “Mimpi Erotis” keren kan. Pacaran pertama kali aku masih polos dan culun, berbeda dengan si kakak kelasku yang aku tahu sudah berpengalaman. Awalnya dia malu-malu, lama-lama makin manja, pengen diantar kemana-mana, orangtuanya yang sering ke luar kota membuatku kadangkala menemaninya seharian di rumah sehabis pulang sekolah. “Masuk gak,” ajaknya saat turun dari motor. “Gak deh, gue janjian sama temen latian fustal,” tolakku masih berada di atas motor. “Kan ini masih jam 2 kali, kamu mainnya palingan sore kan. Aku takut sendirian di rumah,” bujuknya lagi, dasar ini yang dinamakan setan perempuan menggoda iman. “Okey deh, tapi gue belum makan siang ini, laper banget. Tadi lo gak pengen singgah di warung bakso. Alesan panas” aku memegang perut dengan wajah cemberut. “Gampang nanti aku masakin telor ceplok deh. Suka kan?” ajaknya. “Iya itu aja” jawabku sambil memarkirkan motorku di pekarangannya “Aku tutup pagar dulu yah, kamu masuk aja. Gak ada orang kok” malah bahaya kali kalau kita berdua aja, yang ketiga setan. Astaga Ayah tolong anakmu ini. Setelah buka sepatu, dan masuk ke rumah. Sambil nunggu dia ganti baju, aku menjelajahi rumahnya, melihat foto-foto yang terpajang di dinding. Tidak lama dia keluar dari kamarnya dengan baju kaos pas badan dan celana pendek sepaha, paha mulusnya jelas banget terekspos. Dia langsung berlalu menuju dapur, aku sih menunggu sambil rebahan dan bermain game online di hapeku. Mau bantu juga gak tahu masak, lagian telor ceplok juga gampang banget, apalagi badan sudah lemes gini. “Sayang, ini udah. Makan gih,” ucapnya sembari membawa piring berisi nasi dan telor ceplok dua biji, dan sosis. Pikiranku traveling lah, dua telor sama sosis, teringat senjata tempurku. Si Dinosauraus singkatan si adik yang selalu diurus.  Aku tiap malam nutupin dari gangguan nyamuk, dan paginya dia selalu terbangun karena kasih sayangku sepanjang malam. Si Dinoku selalu berdiri tegak dan gagah berani. Yah haruslah, laki-laki tuh dinonya harus bangun tiap pagi, kalau letoy perlu ditanyakan orientasi seksualnya. Selama menghabiskan makan, si kakak kelasku ini udah mepet-mepet terus membuatku gagal fokus untuk menghabiskan makanan, bahkan sesekali membuat aku tersedak makan. “Uhuk….uhuk” “Eh ini minumnya, kamu pelan-pelan aja makannya buru-buru amat sih” tegurnya sambil memberikanku air putih. “Lo sih mepet-mepet gitu bikin gue gak konsen makan” keluhku. “Kan pacaran yah harus mepet-mepetan lah.” Ngelesnya Akhirnya makanan di piringku habis tak bersisa bahkan sebiji nasipun gak ada di piring. “Udah, aku bawa dulu piringnya ke dapur yah. Sekalian bikin minuman dingin” akupun hanya mengangguk. Udah kenyang, bahkan berefek ke mata pengen tiduran, bentaran doang sih. Futsal utama, gak bisa dibatalin bisa ngamuk teman se-teamku, striker tampan mereka gak dateng. Habis aku dikeroyok besok di sekolah, apalagi ini pake taruhan segala. “Inih” ucapnya menyodorkan minuman dingin di depanku “Zat, kamu pernah pacaran gak sih sebelumnya” tanyanya yang sudah kembali duduk di sofa di sampingku. “Gak, lo yang pertama. Males gue pacaran, kalo bukan lo yang nembak duluan. Gue males banget, buang waktu” jawabku polos “Hmm…gitu. Pantesan kurang inisiatif” kata-katanya sih seakan mengejek. “Maksud lo” “Mau aku ajarin gak pacaran yang seru” tangannya sudah mengelus-elus lembut pahaku, efeknya si dino kayak udah bangun dari tidur lelapnya. Gak lama, dia sudah duduk mengangkang di pahaku. Ini betul-betul cobaan dunia, kayaknya aku salah milih pasangan deh. Dipegangnya kedua pipiku, kemudian mencium lembut bibirku, tapi sesekali kudengar lenguhan erotisnya, mirip seperti mimpiku tapi sensasinya belum setara si Mirot deh. Dia sudah berpindah ke leherku, jangan tanya sensasinya, panas dingin cuy. Enak banget, basah-basah di leher, ketemua panas di badan. “Gini” diarahkannya tanganku memegang bukit kembarnya, kayak kenyal-kenyal gitu. Tapi ini gede banget deh, dan agak dower gitu kebanyak diremas kali yah jadi bukitnya kayak longsor gitu. “Kayak gini” tanyaku polos “Iya kayak gitu, ah…enak banget” ucapnya udah dengan napas terengah-engah, aku bales meremas lembut bukitnya sambil mengecup lehernya, yah karena dia yang kayak ngasih kode gitu, lehernya kayak diserahkan gitu. Matanya merem melek, seolah-olah menikmati setiap sentuhanku, aku sih biasa aja. Hanya napsu aja, gak ada cinta. Jadi gak ada nikmat-nikmatnya. Setelah pengalaman pertama itu, intensitas megang-megang dan remas-remas kami sudah seperti jadi kebiasaan. Belum sampai make love, gak berani akunya. Takut hamilin anak orang, mana aku juga mau kejar cita-cita jadi desain grafis gitu. Impianku bisa aja kukubur dalam-dalam karena kenikmatan sesaat. Dia sih udah memasrahkan diri, tapi selalu kutolak karena alasan dosa. Padahal cuddle gitu, sama aja dosa gak sih. Satu yang aku agak risih dari dia, dia selalu ikutin aku main futsal dan tebar pesona sama cowok-cowok disana. Bikin males dan keliatan murahan banget. Berapa kali sih aku tegur dia. Tapi dasar dianya bebal, masih aja tebar pesona. Dia sih ngasih minumnya ke aku, tapi matanya ngeliat yang lain. Akhirnya aku hanya bertahan pacaran dengan dia selama tiga bulan, setelah kudapati dia pacaran di belakangku dengan musuh tanding futsalkuu. Udah aku benci sama itu cowok, eh berani-beraninya dia gangguin pacar aku. Sayang sih enggak, gengsinya itu. Karena dia udah kalah main futsal, menangnya lewat jalur rebut cewek aku, kan b******k. Untung aja karena aku gak cinta mati, jadi yah udah biasa aja. Setelah putus santai gitu. Udah diremes-remes juga, udah bosen.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN