6. New Life

916 Kata
Alice Point of View Aku melangkahkan kakiku masuk kedalam kamar yang akan menjadi tempatku berlayar ke pulau mimpi bersama Jace mulai hari ini. Mike yang berdiri di belakang kami sambil membantu membawakan koperku masuk kedalam, ia berdehem pelan. "Kau suka?", tanyanya. Aku menoleh kebelakang dan mengangguk. "Terima kasih, Mike", "Mommy, I'll go to the Kim's room", ujar Jace. Ia melepaskan tangannya dari gandenganku dan segera berlari keluar dari kamar. Aku dan Mike hanya bisa menatap kepergiannya. "Aku tak menyangka bahwa Jace bisa sangat pintar. Ia sangat mirip sekali dengan Jaseper. Sangat-sangat mirip. Hanya saja, dalam versi wanita. Dan tak hanya fisik tapi sifat dan kepribadiannya sama", ujar Mike. "Ya, aku tahu. Dan kemiripannya membuatku sangat susah untuk melupakan Jasper", Mike memelukku dari belakang. Ia menyandarkan dagunya pada bahuku. "Anugerah yang diberikan Tuhan itu selalu punya maksud atau tujuan. Seperti Jace yang memiliki kemiripan yang sangat persis dengan Jasper. Mungkin, dibalik itu semua, Tuhan memberikan maksud agar kita tidak melupakan Jasper. Bagaimana wajahnya, sifatnya. Tapi, kau selalu menganggap anugerah itu seperti sesuatu hal yang salah. Kau membidik kesalahan, bukan kebenaran", Aku menghela napasku, "Kau benar Mike. Tapi, rasanya sulit sekali melupakan Jasper", Mike menggeleng, ia merapikan rambutku, "Kita tidak harus melupakan Jasper. Kau hanya butuh seseorang yang menggantikan posisi Jasper", "Aku belum siap. Jace masih kec-", "Justru karena ia masih kecil pasti lebih mudah untuk direbut hatinya. Jika ia sudah dewasa nanti. Lebih sulit rasanya...", sergah Mike cepat. "Mulailah membuka hatimu untuk orang lain. Aku tak menyalahkanmu bila kau tidak mau menikah lagi jika Jasper masih hidup. Tapi, kenyataannya Jasper telah tiada. Tidak ada yang bisa menjagamu meski aku mampu. Aku tak bisa berlama-lama menjagamu terus jika aku sudah punya keluarga sendiri", Aku melepaskan tangan Mike dari pinggangku. Kuputar tubuhku menghadap padanya dan kupeluk pria itu. "Aku akan berusaha, Mike. Setidaknya aku lega bahwa Jace tahu kebenarannya", Mike menepuk-nepuk punggungku pelan. "Jadi, kau siap menapaki hidup barumu, Alice?", tanya Mike. Aku mundur sedikit. Kukerutkan keningku bingung, "Sepertinya 'hidup baru' yang aku pikirkan tidak sama dengan apa yang kau pikirkan", Mike mengangguk, ia tersenyum, "Besok, ikutlah denganku", katanya. "Kemana?", "Kau akan tahu nanti", jawabnya sambil tersenyum misterius kearahku. .... Aku melangkahkan kakiku perlahan menyusuri hutan itu. Hutan yang ada dipikiranku dengan apa yang ada dihadapanku sangat berbeda. Tumbuhan hijau yang menjulang tinggi bagaikan payung yang menghiasi sangat kontras dengan cahaya matahari yang menembus. Semerbak aroma wangi memasuki indra penciumanku secara tiba-tiba. Aku tersenyum, aku ingat jelas aroma itu. Aku menoleh kebelakang mendapati Jasper tersenyum kearahku. "Jasper?", panggilku. Ia tersenyum sambil melebarkan tangannya. "Kau tidak ingin memelukku?", tanyanya. Dengan cepat aku berlari kearahnya dan memeluknya erat. Kupeluk tubuhnya seerat yang aku bisa sambil mencium aroma yang aku rindukan ini. Teramat rindunya diriku padanya membuat air mataku mulai mengalir membasahi kemeja putih Jasper. "Jangan menangis, Alice", katanya sambil mengusap punggungku. "Aku sangat rindu padamu", lirihku. "Aku tahu", balasnya singkat. Kami terdiam sejenak menikmati waktu yang kami dapatkan saat ini. Tapi, dihatiku, aku merasa takut akan sesuatu. "Alice?", "Ya?", "Aku tahu kau masih mencintaiku", Aku melepaskan pelukanku darinya. Kutatap mata Jasper. "Ya, aku mencintaimu", Jasper tersenyum. Ia mengusap pelan pipiku, lalu ia menangkup wajahku, "Aku juga mencintaimu. Lebih dari yang kau pikirkan", Aku mengangguk sambil memejamkan mataku membuat air mataku kembali turun. "Percayalah... Meski aku tak bersamamu. Kau selalu ada dipikiranku, hatiku, bahkan kau ada di dalam jiwaku. Begitupun sebaliknya, aku akan ada di dalam hatimu selalu. Tapi, aku kini tak bisa ada di dalam pikiranmu dan jiwamu lagi saat ini", "Apa maksudmu?", "Kau membaca surat dariku?", tanyanya. Aku mengangguk, "Suatu saat surat yang kutulis akan menjadi kenyataan. Dan yang aku katakan tentang pikiran dan jiwa tadi.. Akan ada seseorang yang menggantikan posisiku. Didalam pikiran, jiwa, dan bahkan hatimu. Tapi, kau tak perlu khawatir. Aku tidak akan marah padamu jika tadinya hati itu untukku menjadi milik orang lain, karena, aku tahu bahwa kau pernah mencintaiku. Dan dihatiku, akan ada dirimu selamanya. Itu sangat cukup bagiku...", Aku memeluknya erat, aku menangis. "Dan aku harap, tangisan sedihmu ini hanya untuk saat ini saja. Kedepannya, kau akan menangis bahagia, Alice. Kau akan menangis bahagia karena orang itu bisa mencintai dirimu lebih dari padaku. Berhentilah menangis...", pintanya. Aku menarik napasku dan mengangguk. Kurasakan tangan lembut nan hangat Jasper mengusap air mataku. "Ini akan menjadi pertemuan terakhir kita, Alice. Aku tak akan datang lagi ketika ada orang yang akan menggantikan posisiku agar semuanya mudah", Aku menggeleng, "Jangan, jangan lakukan itu...", Jasper tersenyum. Ia memelukku erat. Begitupun diriku. Aku memeluknya, bukan aku menahannya. "Kau harus melepasku", katanya pelan sambil memegang kedua tanganku yang berada di punggungnya. "Biarkan untuk sebentar. Sebelum aku kembali kekehidupan nyataku dan menyadari bahwa kau akan pergi selamanya. Pergi selamanya dari hidup dan mimpiku", Jasper menganggukan kepalanya dan membiarkanku puas memeluknya, mencium aroma tubuhnya sedalam mungkin agar aku tak akan lupa dengan aroma itu. Cukup lama kami dalam posisi seperti itu. Jasper perlahan melonggarkan pelukanku dari tubuhnya. Ia menangkup wajahku dan menundukan kepalanya. Ia menciumku, melumat bibirku perlahan dengan bibir hangatnya. Kubiarkan mataku terpejam menikmati sentuhannya, bahkan kurasakan napas Jasper menderu di wajahku. Rasanya seolah kami ada di kehidupan nyata. Ketika bibirnya mulai menjauh. Perlahan mataku terbuka dan mata kami langsung bertemu. Ia tersenyum, "Do you remember? The last words that you said to me?", Aku mengangguk. Jasper tersenyum lagi kepadaku. Ia melepaskan tangannya dari wajahku. "With all of my heart..." ujarnya. "Honestly..." tambahku. "Truly..." ujarnya lagi "I..." kataku. "Will..." ujarnya. "Always..." kataku. "Love..." ujarnya. "You..." kataku. "Jasper" , "Alice", kata kami besrsamaan sebelum tubuh Jasper menghilang perlahan dan lenyap seperti kupu-kupu berterbangan. ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN