Part 21

2523 Kata
Uhuk! Uhuk!  Suara batuk dari Lala menggema di ruang makan. Melihat Adiknya yang terbatuk-batuk, segera Ozan memberikan segelas air putih. Air putih tadi Lala minum terburu-buru. Setelah meminum, barulah tenggorokan Lala terasa lebih normal.  “Apa, Pah? Menikah?” tanya Lala tak percaya, coba mengulang ucapan sang Ayah beberapa detik lalu. Erkan mengangguk, semakin membuat Lala menunjukkan ekspresi tak percaya. “Kenapa— maksudnya kenapa Lala harus nikah?!” “Loh? Kok malah nanya?” kini Syifa turut andil berbicara. “Jelas kamu harus nikah, Lala. Umur kamu udah cukup untuk menikah.” Sepasang Suami Istri yang berbicara pada Lala ini adalah kedua orang kandungnya termasuk Ozan. Beberapa detik lalu mereka berdua baru sampai di Indonesia dari asal Negara Istanbul, Turki. Perusahaan cabang Papa Lala—Erkan Wijaya ada sedikit masalah kecil. Maka dari itu, mereka berdua datang.  “Tapi, Kak Ozan belum nikah, Mah! Lala gak mau ngelangkahi!” sebisa mungkin Lala mencari alasan.  “Kalo Ozan mah, gak perlu dipikiri! Dia mau menulis namanya di dalam deretan nama-nama jomblo ter-abadi di Indonesia.” tawa Erkan langsung pecah, begitu mendengar ucapan Syifa yang menyindir. Tampak orang yang disindir, kini memasang wajah cemberut. Apa lagi, saat ini sang Ayah tengah menertawainya.  “Eh, ralat! Sedunia tepatnya!” ralat Syifa cepat, dan ia tertawa juga seperti Suaminya. “Hey, ghibah, hey! Ingat adzab, hey!” teriak Ozan, tapi tetap tidak menghentikan tertawaan sepasang Suami Istri itu. “Heran, deh! Perasaan Mama always nonton film adzab di Indosiar, tapi tetap aja nge-gibahin orang!’ “Itu beda, yah!” sahut Syifa selepas ia berhenti tertawa. “Mama nge-ghibahin anak sendiri, bukan kayak emak-emak di film itu yang hobby-nya nge-ghibahin tetangga!” “Nah, yang kayak gini nih, adzab-nya double!" dan, akibat permasalahan adzab, ibu dan anak ini jadi perang mulut. Gara-gara membahas adzab, mereka jadi lupa jika topik pertama yang dibahas tentang masalah pernikahan Lala.  “Sudah-sudah... Kenapa malah bahas adzab?” suara tegas Erkan yang menengahi, barulah berhasil menghentikan adu mulut antara Anak dan Ibu itu. “Balik lagi ke topik semula.” Kepala Erkan menoleh sembilan puluh derajat. Tatapannya berubah. Kini matanya menatap serius Putrinya yang sedari tadi diam saja. “Bagaimana, sayang? Apa kamu mau? Kalau mau, kami sudah mempunyai calon yang pas untukmu.” Untuk beberapa detik Lala masih diam. Menatap kosong pada satu titik. Ia bingung harus menjawab apa. Namun dengan tekad yang bulat, Lala berusaha menjawab. “Siapa calonnya?” “Mustafa Gulpinar.” Mustafa? Siapa itu Mustafa? Bahkan Lala tak mengenal Pria itu sama sekali. Lala menggeleng. Ia sungguh tak terima dengan perjodohan ini. Hatinya sangat menolak keras.  “Nggak, Pah! Lala gak mau!” “Kenapa kamu menolak?” tanya sang Papah tenang, namun aura Pria itu berubah menyeramkan.“Menikahlah, Nak. Demi kebahagiaan dunia dan akhiratmu.” sambungnya lagi, dengan ekspresi yang sedikit menghangat.  “Menikah memang menjamin kebahagiaan kehidupan dunia serta akhirat, tetapi tidak menjamin hati seseorang bahagia atau tidak jika dalam keterpaksaan.” setelah berkata seperti itu, Lala berlalu pergi meninggalkan meja makan. Ozan hendak mengejar kepergian adiknya, tapi sebelum itu dia berbalik menatap Ayah dan ibunya bergantian. “Ridho orang tua memang penting dalam pernikahan seorang Anak, tapi yang nantinya menjalankan pernikahan mereka, bukan kalian para orang tua. Kalian tidak merasakan suka dukanya pernikahan, tapi mereka sendiri yang akan merasakannya. Jika nantinya pernikahan itu tak berjalan baik seperti apa yang kalian harapkan, bukan kalian yang akan merasakan kepedihan, tapi mereka.” °°° “Assalamu'alaikum...” “Wa'alaikumsallam...” secara bersamaan, Daniel dan Devina menjawab salam dari dua orang yang baru saja datang.  Tampak Aisy datang dengan senyuman manisnya. Di belakang, juga hadir Aisyah sebagai teman Aisy di acara makan malam ini. Seperti pada ucapan Aisy kemarin malam di telepon. Ternyata memang benar, Aisyah mau menemaninya. “Alhamdulillah, ternyata kamu datang! Aku kira nggak.” Aisy hanya membalas ucapan antusias Daniel dengan seulas senyuman. Ia sempat melirik Devina. Wanita itu membalas senyumannya. Tak seperti kemarin yang menampakkan raut wajah angkuh.  “Ayo, Kak Aisy dan temannya silahkan duduk.” sahut Devina tak kalah antusias dari temannya. Aisy beserta Aisyah pun duduk.  Nuansa ruang makan Daniel benar-benar mewah. Aisy akui itu. Tetapi, Aisy juga berpikir dari mana Daniel mendapatkan uang sebanyak ini. Padahal, bisnis yang ia jalani hanya food dan travelling saja.  “Eh, ini bukannya Mbak pemilik toko kue, yang kemarin gak sengaja nabrak aku?” mata Aisyah menyipit. Mencoba mengingat-ingat wajah Devina.  Sedangkan Devina, sudah mengetahui itu Aisyah si pemilik toko kue. Ini semua hanyalah aktingnya semata. Ada kejutan besar yang telah ia buat. Sebentar lagi, kejutan itu akan datang.  “Oh... Iya-iya, saya ingat.” “Kalian saling kenal?” tanya Daniel, menatap Aisyah dan Adiknya bergantian.  Kepala Devina mengangguk samar. Bersemangat sekali ketika mengangguk. “Iya, Bang! Gue gak sengaja nabrak Mbak Aisyah.” pandangan Devina beralih menatap Aisyah. “Sorry, ya, aku kemarin nabrak Mbak.” “Gak masalah,” ujar Aisyah sembari tersenyum. Bagi Aisyah, kejadian kemarin itu sudah berlalu. Walaupun saat menabrak, Devina sempat marah-marah tak jelas. Padahal sudah jelas dia yang menabrak Aisyah.  “Okay... Bisa kita mulai aja acara makan malamnya?” semua orang di sana mengangguk sepakat apa yang Daniel katakan. Mereka pun memulai acara makan malam tersebut. Suasana hening menyelimuti.  Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu. Baru beberapa sendok makan, suara orang memberi salam mengintrupsi keheningan.  “Assalamu'alaikum...” “Wa'alaikumsallam...” mereka serentak menjawab. Pandangan mereka saling bertatap-tatapan satu sama lain. Ekspresi mereka bertiga sangat terkejut. Berbeda pula dengan Devina yang tampak sumringai. Orang yang datang itu juga menunjukkan ekspresi terkejut layaknya Daniel, Aisy, apa lagi Aisyah.  “Alif?” “Aisyah? Kamu... Kamu kenapa ada di sini?” “Harusnya aku yang tanya kayak gitu sama, kamu.” Aisyah berucap lirih. Memandang nanar Alif yang kaku di tempat. “Kamu kenapa ada di sini?” “Aku... Aku di undang Daniel makan malam.” dua orang wanita berhijab dalam satu meja makan itu, sontak menatap Daniel bersamaan. Terlebih lagi Aisy. Wajahnya terkejutnya semakin terkejut saja. Memandang Daniel tak percaya.  “Daniel, maksud kamu ngundang Alif itu untuk apa?!” tanya Aisy meninggikan sedikit intonasi bicaranya.  “Demi Allah, Sy, aku sama sekali nggak tau. Bukan aku yang ngundang!” “Aku kok, yang ngundang!” sahut Devina mengintruksi dua orang yang sibuk berdebat itu. Wanita itu menunjukkan senyumannya yang begitu lebar. Lebih terlihat seperti, senyuman yang dipaksakan. “Kenapa? Gak boleh, ya?” Mereka tak menjawab. Diam, tanpa merespon. Bingung harus bagaimana membalas ucapan Devina itu. “Kalian saling kenal?” tanya Aisy pada akhirnya. “Di mana kenalnya?” "Oh... Waktu itu aku hampir aja kecopetan, Kak. Tapi, untung aja ada Ustadz Alif yang nolongin.” jelas Devina, masih saja tersenyum manis. “Bang Daniel juga udah tau, kok.” setelah Devina berucap demikian, Aisy menolehkan kepalanya ke samping. Menatap raut wajah menegang Daniel dengan pelototan maut.  “Ayo, Ustadz Alif, silahkan duduk.” perlahan walaupun gugup, Alif duduk bersebelahan dengan Devina. “Eh, kayaknya aku jangan manggil kamu dengan sebutan Ustadz, deh.” kembali Devina berbicara. Tampak wanita itu tengah berpikir.  “Gimana kalau Kak Alif? Iya, panggilan Kak Alif cocok deh, buat kamu.” ucapan Devina yang kelewat girang, sama sekali tak dibalas Alif maupun yang lainnya. Semua orang terdiam kaku, hanya Devina saja yang tampak senang di sana. “Okay, semua orang sudah lengkap, mari makan!” Makan malam berlanjut, namun atmosfer ketegangan yang menyelimuti ruang makan super mewah itu.  “Eum..., Aisy,” panggil Daniel ragu-ragu, melihat mood Aisy yang terlihat buruk.  “Apa?!” Daniel terpelonjak kaget. Memang benar kalau mood wanita berhijab itu dalam keadaan buruk.  “Ada yang mau aku bicarain sama, kamu. Berdua aja.” “Aku juga.” mata Daniel mengerjap beberapa kali. Ia sungguh tak menyangka, jika Aisy juga ingin berbicara dengannya. Selepas acara makan malam berlangsung, Aisy dan Daniel pamit menuju taman belakang yang terdapat kolam renang di dalam ruangan. Mereka secara tak sengaja meninggalkan tiga orang yang tengah mengalami cinta segitiga dalam satu ruangan.  “Maksud kamu ngundang Alif itu, apa?! Kamu tau sendiri kan, kalo hubungan Alif dan Aisyah itu bagaimana?!” baru saja sampai, Aisy langsung berbica pada inti permasalahan. Terlihat jelas aura kemarahan dalam diri wanita berhijab itu. Tangannya tampak bersedekap d**a, menatap Daniel tajam sebagai pertanda meminta penjelasan.  “Aku udah bilang, Sy, aku sama sekali gak ngundang Alif. Tadi kamu denger sendiri kan, kalo Devina yang ngundang. Kalo kayak gini akhirnya, aku gak bakalan setuju acara makan malam dari ide Devina.” Aisy menghembuskan napas lelah. Dirinya masih sedikit kesal dengan kejadian tadi. Pastilah Aisyah, sahabatnya itu sangat sedih sekarang. Mengingat Alif itu adalah pria yang pernah ia cintai di masa lampau, namun kini sepertinya sedang disukai seseorang.  “Apa jangan-jangan Adek kamu suka sama Alif?” Daniel terkejut akibat pertanyaan Aisy. “Keliatan banget, kalo dia itu suka sama Alif.” Sambungnya menatap sinis Daniel dengan tangan yang masih saja bersedekap d**a.  Daniel menggeleng acuh. “Aku gak tau, dan gak perduli.” Hati Aisy semakin memanas kala mendengar kata akhiran Daniel yang berkata, kalau dia tak perduli. Berarti dia tidak perduli dengan rasa sakit sahabatnya, Aisyah. Itu sama saja Daniel juga tak perduli dengan dia, sebab Aisy coba merasakan rasa sakit yang sedang menimpa Aisyah saat ini.  “Oh, jadi kamu juga gak perduli sama aku, gitu?” Spontan Daniel terbelalak. “Bu—bukan gitu, Sy—“ “Udahlah, Niel. Gak perlu dibahas lagi. Gak penting.” potong Aisy langsung. Bahkan Aisy tampak tersenyum kecut. Ada rasa tak enak dalam diri Daniel.  Sungguh ia menyesal akan hal ini. Andai saja ia tak menyetujui ide gila adiknya untuk mengadakan acara makan malam, bisa jadi ia tak mengalami kejadian bersih tegang bersama Aisy sekarang.  “Kamu mau ngomong apa ke aku?” tanya Aisy to the point.  “Aku mau bahas tentang ini.” Sebuah dokumen ber-materai diserahkan Daniel ragu-ragu. Karena terlarut akan emosi, jadinya Aisy tak menyadari jika sedari tadi Daniel memegang sebuah dokumen.  “Tolong kamu baca baik-baik isi dokumen itu.” walaupun agak ragu, tapi Aisy tetap membaca dokumen tersebut sebagaimana yang Daniel minta. Bola matanya bergerak lincah, membaca dengan seksama setiap kata yang tercantum di sana.  “Saham judi? Maksudnya apa ini?!” tanya Aisy mulai emosi kembali. Daniel gugup setengah mati. Pria itu tak menjawab, atau lebih tepatnya dia mencari alasan yang jelas untuk diucapkan.  “Jawab, Niel?! Kenapa diem aja?! Kenapa di dalam saham judi ini, nama kamu sebagai salah satu dewan direksi?! Apa benar, kamu terlibat dalam saham judi ini?!” dengan ketakutan yang teramat dalam, akhirnya Daniel mengangguk perlahan. Anggukan Daniel itu menjadi jawaban atas pertanyaan Aisy. Hati Aisy mencelos. Tak menyangka jika Daniel mempunyai pekerjaan yang sangat menjijikkan.  “Apa dana pembangunan Food Court berasal dari sana?!” sekali lagi Daniel mengangguk. Senyuman kecut terbit dibibir Aisy. Mata Aisy serasa memanas. Butiran bening terjatuh dari pelupuk matanya. Namun, Daniel berusaha menjelaskan.  “Tapi, Sy, aku akan berhenti dari bisnis judi ini, kok. Aku—aku bakalan tukar dana food court dari uang pribadi aku!” “Udahlah, Niel,” Daniel terdiam. “Aku udah terlanjur kecewa sama, kamu. Kamu udah bohongin aku! Seharusnya kamu jujur!!!” “Aku takut, Sy...” “Takut?” suara Aisy terdengar lirih. “Takut mana, kamu sama laknat Allah?!!! Itu haram, Daniel... Dan saat hijrah pun, kamu masih melakukan bisnis judi itu!!!” Mata Daniel terpejam sekejap. Ia menunduk, saat dimarahi Aisy. Bertepatan dengan bentakannya, Aisy beristighfar. Takut jika Setan merasuki hatinya.  “Daniel, kamu tau... Sebenarnya hari ini aku mau memberi jawaban dari lamaran, kamu.” ucapan lirih Aisy sontak membuat Daniel terbelalak. Ia sungguh tak menyangka. Jawaban yang sudah lama ia tunggu, hari ini nyatanya akan terjawab. Tetapi, Daniel harus menerima pernyataan pahit, selamanya ia tak akan mendapatkan jawaban pasti.  “Tapi, aku udah terlanjur kecewa. Sekarang aja kamu bohongin aku, apa lagi kalau sudah jadi Suami aku.” sambung Aisy semakin lirih. °°° Beralih ke Alif dan Aisyah. Sejak sepeninggalan Aisy dan Daniel, tak ada obrolan yang tercipta dari mereka. Mereka terdiam bisu. Suara Devina yang asyik berceloteh sendiri, yang sedari tadi menghiasi seisi ruangan.   “Loh, Kak Aisyah makanannya kenapa gak di makan? Gak enak, yah?” suara Devina membuyarkan lamunan nanar Aisyah yang menunduk ke bawah. Wanita itu dari tadi memang diam, sebab ia mencoba menahan tangisan yang sebentar lagi tumpah.  “Nggak, Saya udah kenyang.” Devina hanya menjawab dengan ber O ria ucapan Aisyah itu. “Aduh, es jeruknya pakek abis segala...” dua orang yang duduk bersama dalam satu meja itu menoleh secara bersamaan, ketika suara Devina terdengar.  “Bentar, ya, aku ambil lagi es jeruknya.” Lantas Devina berlalu pergi menuju dapur. Tinggal-lah Alif dan Aisyah dalam satu ruangan itu. Mereka berdua tak saling berbicara, ataupun sekedar melirik.  “Apa hubungan kamu sama Adeknya Daniel?” tanya Aisyah terdengar dingin.  “Nggak ada,” jawab orang yang ditanya. “Cuma sekedar temen biasa. Lagian aku baru kenal saat ini.” Aisyah tersenyum kecut. “Temen biasa atau temen luar biasa?” “Sebenarnya kamu ini kenapa, sih, Syah? Kamu cemburu?” mata Aisyah terbelalak. Memang benar, ada sedikit perasaan tak suka saat Aisyah melihat interaksi antara Alif dan Devina. Interaksi itu memang interaksi biasa.  Aisyah juga tak bisa menyimpulkan dengan benar, apa ini perasaan sekedar tak suka melihat interaksi dua pasang yang bukan mahrom, atau cemburu.  “Jangan mengalihkan pembicaraan, ya, Lif.” “Aku nggak ngalihin pembicaraan, tapi aku mengungkapi sebuah kenyataan. Sebuah fakta kalo kamu itu masih ada rasa sama aku walaupun sedikit, Syah!”  Aisyah terdiam, layaknya maling yang tertangkap basah.  “Susah, ya, jujur? Kamu gengsi?” sambung Alif.  “Cukup, Lif, jangan dibahas lagi,”  Alif tampak tertawa getir. “Giliran kayak gini aja, kamu bilang cukup. Coba kalo masalah nyudutin aku, pasti paling cepet.” “Aku bilang cukup, Lif!!!” saking kesalnya, Aisyah langsung berdiri dari posisinya yang terduduk.  Sampai...  Byur!!!  Jus jeruk tumpah, membasahi baju gamis Aisyah. Mulut Devina menganga, saking kagetnya karena nampan jus yang berada ditangannya terjatuh. Dan sekarang, tumpahan jus jeruk itu mengenai bajunya Aisyah.  “Ups, sorry...” ucap Devina berjeda tiga detik. “Mbak Aisyah juga, kenapa mendadak berdiri, jadinya tumpah, deh.” entah itu sebuah ketidak-sengajaan atau tidak, hanya Allah lah yang tahu. Insiden ini sangat memalukan. Rasanya Aisyah ingin menangis sekarang.  Tanpa permisi lagi, Aisyah segera pergi meninggalkan ruang makan. Alif hendak mengejar, namun suara Devina menyahuti.  “Kak Alif mau ke mana? Sini aja,” bagaikan di hipnotis, Alif menuruti kehendak Devina. Dia duduk kembali ke posisi semula.  Aisyah pergi mencari sosok Aisy berada. Setiap sudut rumah Daniel, ditelusuri Aisyah. Tetapi, sosok sahabatnya tak kunjung di temukan. Sampai, pandangan Aisyah berhenti di satu titik.  “Aisy...” panggilan lirih itu menghentikan percakapan antara Daniel dan Aisy. Ketika menoleh, Aisy terbelalak kaget melihat gamis Aisyah yang tampak basah.  “Syah, lo kenapa? Baju lo kenapa basah?” tanya Aisy bertubi-tubi. “Masih lama, ya? Gue mau pulang...” pertanyaan Aisy tadi tak dijawabnya. Pandangan Aisyah yang nanar, sudah dapat Aisy simpulkan jika ada sebuah masalah yang telah menimpanya. Penyebab masalah juga Aisy ketahui pasti.  Pasti karena Alif.  “Iya, kita pulang sekarang.” °°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN