“Saya pamit dulu, yah?” sahut Alif yang membuat obrolan kedua Wanita itu berhenti. “Syah, aku pamit dulu.” seakan tahu maksud dari ucapan Alif, Aisyah mengangguk kecil. Sedangkan Nada yang sama sekali tak tahu memasang wajah bingung. Kalau dia susah bingung, pastinya jiwa keppo Nada akan muncul.
“Pamit ke mana, Lif?” memang benar, jiwa keppo-nya langsung muncul. Entah kenapa mata Nada menyipit penuh selidik. “Jangan bilang lo pamit mau pergi ke KUA?”
“Emang ngapain saya ke KUA?”
“Nikahin Aisyah, lah!”
Mata Alif dan Aisyah sama-sama melotot. Bahkan Nada berucap seakan tak ada beban. Malah Wanita itu cengar-cengir menunjukkan deretan gigi putihnya.
“Kalo itu nanti!” Alif mulai bersuara. "Saya mau ke panti Aisyah. Ngajar anak-anak ngaji.” Nada membalas dengan mulut berbentuk O panjang. “Dan juga ngajarin Abangmu mengaji.” lanjutan perkataan Alif setelahnya, berhasil Nada menoleh. Raut wajahnya tampak bingung sekaligus terkejut.
“What?!!” semua orang satu meja itu secara bersamaan menutup kuping. “Abang gue?! Abang gue yang mana, nih?!”
“Daniel. Lalu, siapa lagi selain dia Abang, kamu?” ada rasa geli ingin tertawa dalam diri Alif. Ekspresi Nada itu melebihi bodohnya orang bodoh.
“Demi Apa?!!”
“Demi cinta saya pada Aisyah.” kali ini mata Aisyah-lah yang melotot. Senyuman Alif juga makin mengembang melihat reaksi dari Aisyah.
“Ecieee... Seorang Aisyah salting, guys! Positif ini, mah! Udah bener-bener positif gue bakalan dapet undangan di Rumah. Gue tunggu yak, es kepal milo toping nasinya!” tatapan sangat aneh Alif, Aisyah dan David pasang saat menatap Nada.
“Nada bodoh! Mana ada es kepal milo pakai nasi!” sahut David frontal berucap kasar, namun Nada seolah biasa saja. Tak ambil hati dengan ucapan David. Itu sudah biasa baginya.
Bukan hanya Aisyah yang tadi sempat melotot. Tapi, Devina juga. Dari balik persembunyiannya, Devina mengepalkan tangan geram. Dia mengentak-entakkan kakinya kesal. Nama Aisyah yang diucapkan Alif sangat diketahui Devina. Aisyah sang pemilik toko kue ini. Namanya begitu mencolok, karena terpampang di miniatur depan toko.
Dan juga, Devina dapat menyimpulkan, Nada, Aisyah serta Alif saling mengenal.
°°°
“Maaf, gak sengaja!”
Devina menatap sinis orang yang bertabrakan dengannya. Lebih tepatnya, sengaja dia tabrak. Wanita berhijab syar'i itu memunguti barang-barang Devina yang terjatuh berserakan di lantai. Barang-barang Devina yang berserakan di lantai sudah dimasukkan Aisyah ke dalam tas wanita itu. Sembari tersenyum, Aisyah memberikan tas itu pada pemiliknya.
Tak seperti Aisyah yang menunjukkan aura ramah, Devina membalas dengan tatapan sinis. “Sini tas gue!” Devina menarik kasar tas tersebut dari genggaman Aisyah. “Najis tas gue dipegang sama tangan pelakor!”
Wajah Aisyah cengo menatap kepergian wanita itu keluar dari tokonya. Aisyah menggeleng tak habis pikir. Dadanya ia usap naik turun sambil beristighfar.
°°°
Tinggallah David bersama Nada di sana. Mereka belum beranjak pulang karena ingin menikmati terlebih dahulu kue toko Aisyah ini. Sudah dapat ditebak keinginan dari siapa. Yang pastinya keinginan Nada. Dengan wajah super imut ia memohon kepada David agar tetap di sini sembari menunggu kue yang baru saja dipesan.
“Bapak tuh, harus coba kue buatan Sahabat Nada.” ucapnya, lalu memasukkan sepotong kecil kue ke dalam mulut. “Rasanya eeenaakkk... Banget!” lanjutnya girang.
Kue buatan Aisyah memang diakui David rasanya begitu enak. Baru kali ini ia mencicipi kue selezat ini. Cita rasanya mengalahkan kue yang ada di luar Negeri.
“Gimana? Enak, kan?” David mengangguki pertanyaan dari Nada. Pandangannya fokus ke arah kue santapannya.
“Apa kue buatanmu juga enak?” garpu di genggaman tangan Nada berhenti di udara. Pertanyaan David menimbulkan atmosfer kecanggungan. Awalnya David tak ada maksud berkata demikian, tapi mulutnya seakan bergerak sendiri untuk berbicara.
“Waahh...! Sudah pasti enak dong! Bapak mau coba?” entah dorongan dari mana, lagi-lagi David mengangguk. Dalam hatinya David merutuki segala kebodohannya hari ini. “Kapan-kapan Nada bawain spesial buat Bapak. Tapi, jangan salahin Nada, kalau Bapak tiba-tiba harus tanda tangan surat wasiat di usia muda.”
Tatapan membunuh David di tunjukkan pada Nada yang tertawa geli. Keanehan sikap Nada harus David maklumi setiap harinya.
Prok! Prok!
Suara tepukan tangan mengintruksi dua orang manusia itu. Di hadapan mereka sudah berdiri Devina dengan angkuh. Sambil bersedekap d**a, Devina tersenyum licik.
Gadis modis itu menepikan ujung rambutnya. “Wah, wah.... Kejutan yang sangat besar! Big suprise! Gue terkesan!” selepas berucap seperti itu, Devina kembali bertepuk tangan berkali-kali.
“Yeuw..., nih bocah atu malah tepuk tangan, dikate gue lagi ikut lomba tarik tambang apa?” biasanya seorang Devina akan membalas ucapan gila seseorang dengan ucapan gila juga. Tapi kali ini tidak.
Mood nya untuk ikut melawak tak ada. Padahal Nada si kakak sepupu adalah lawan bicara konyol yang Devina suka setelah Daniel. Terlebih lagi kalau mereka bertiga sudah berkumpul.
“Kakak sepupu gue kepergok makan berdua sama musuh sepupunya sendiri! Bakalan jadi top news entar malam, nih!”
Nada cuma diam mendengarkan. Minat cerewetnya ia pending dulu sejenak. Dirinya membiarkan Devina terlebih dahulu berbicara.
“Gue kasih tau Daniel! Rasain!” ucap Devina langsung ke intinya. David sudah bersiap ingin membekap mulut gadis itu, tapi Nada mencegah.
Nada tertawa sombong. “Aduhin aja sama Daniel! Gue gak takut!” sontak mata David melotot tak suka akan ucapan Nada yang seakan biasa saja.
“Lagian lo punya bukti apa buat—“
Cekrek!
Kamera ponsel di genggaman Devina memotret. Devina menunjukkan ponselnya ke depan muka cengo Nada. Situasi berbalik. Kali ini, Devina lah yang tersenyum sombong.
“Dengan ini.” ucap Devina. Ponselnya dipermainkannya bagai sebuah bola lempar untuk Anjing.
“Laknatullah! Jangan macam-macam, lo!!!” teriakan kencang dari Nada yang sudah pasti dapat membuat pecah gendang telinga hanya dibalas tatapan datar oleh Devina.
“OKAY!" lanjut Nada pasrah. “Lo mau apa dari gue?”
Kalau Devina sudah ingin mengadu kelakuan buruknya pada Daniel, Nada sudah dapat menebak jika wanita itu ingin meminta sesuatu. Senyuman kemenangan pun terpampang di wajah Adik sepupunya itu.
“Gue mau minta nomor Hp cowok tadi.”
Alis Nada beradu. Bingung dengan maksud Devina. “Cowok yang mana? Cowok cuma ada pak David.” Jari telunjuk Nada mengarah ke David yang dari tadi diam tanpa tahu harus berbuat apa.
Devina berdesis kesal. “Cowok yang tadi! Cowok yang duduk di sebelah David! Cowok yang tampangnya macam Ustadz! Ya Allah, Kak Nada jangan pura-pura lupa deh, lo!”
Cukup lama otak Nada bekerja mencoba mengingat pria yang dimaksud Devina. Akhir-akhir ini, dirinya merasa sedikit telmi. Sebenarnya mungkin hanya perasaannya saja, karena dia memang telmi.
“Oh... Maksud, lo, Alif?”
“Cowok itu namanya Alif?" senyum Devina sejenak berganti. Dari tersenyum senang, mendadak tersenyum setan. “Gini aja! Lo kasih nomor WA Alif ke gue, dan gue gak akan kasih tau Daniel masalah ini.”
“Untuk apa lo minta WA Alif?” mata Nada mulai memicing curiga.
“Keppo loek, kayak Dora! Anggap aja ini merupakan sistem simbiosis mutualisme dalam IPA, dan sistem barter dalam IPS. Sama-sama menguntungkan!”
Jujur saja David yang sedari tadi mendengar percakapan dua wanita itu, cuma bisa mendengarkan. Berbicara pun ia enggan.
Tetapi, saat mendengar tawaran aneh dari Devina, mendadak David membuka suara. “Dari tadi kau selalu mengancam. Akanku tambal mulutmu itu dengan kaos kaki bila perlu.”
Devina menatap tajam David. Pria itu baru sekali berucap tapi langsung menohok hingga ke hati. “Eh, selo, lah.” ucapan Devina tergantung sejenak. “Lo gak usah ikut campur, bastard Prince! Diam saja! Ini urusan cewek!!"
Tolehan kepala Devina beralih kembali menuju Nada. “Gimana, Kak? Terima gak tawaran gue?” detik itu Nada masih terdiam. “Ya, kalo lo gak terima..., siap-siap aja perang dunia ketiga di mulai.”
“Iya, dah, iya”" senyum Devina mengembang lebar bertepatan dengan sahutan Nada yang terdengar pasrah. “Tapi, please, Dev! Kasih gue alasan, kenapa lo mau minta WA Alif? Karena gue gak enak ke Alif, karena ngasih WA dia ke sembarang orang.”
“Sembarang orang apanya? Gak lah! Dia kenal gue, dan gue juga kenal dia.”
“Maksud, lo?”
“Seperti yang lo denger dari Alif tadi, kalau misalnya Abang lo yang bad boy itu belajar ngaji sama dia.” jeda tiga detik, Devina menepikan sedikit anak rambutnya yang berantakan. “Jadinya, sebagai Adek Daniel, gue harus tau perkembangan hijrah Abang gue itu dari Guru agamanya langsung.”
Penjelasan panjang lebar Devina terasa bagai sebuah modus dipendengaran Nada. Walaupun begitu, ia tetap memberikan nomor Alif, agar dirinya terhindar dari luapan emosi si Kakak sepupu.
“Okay!!! Ma'acih, yah, Kakak sepupuku yang cantiknya sebelas dua belas sama Lady Gaga.” bertepatan nama Lady Gaga disebutkan enteng oleh Devina, mata Nada menatap tajam penuh luapan emosi. Seenaknya saja adik sepupunya mengatai dia mirip sebelas dua belas sama Lady Gaga.
“Entar malem lo buka TV!” langkah kaki Devina terhenti. Dirinya berbalik menoleh sebab suara Nada menyahutinya dari belakang.
“Bakalan ada film adzab yang judulnya, Adzab Si Jomblo yang terlilit janur kuning pernikahan mantan, karena meras Kakak sepupunya sendiri.”
°°°
“A'udzubillaa... himinassaitho... nirrojiim...”
“A'u... Dzu... Billaa... k*****t! Lupa, gue! Ulangin lagi!” sudah lebih dari dua kali Alif mengulang ayat sebelum membaca Hamdallah itu. Dan dua kali juga Daniel tak dapat mengulanginya dengan benar.
Alif berdecak samar. Menghela napas perlahan supaya rasa panas dalam dadanya cepat menghilang. Sepertinya Alif harus menyediakan stock sabar yang banyak untuk mengajari Daniel.
“Okay... Kita ulang sekali lagi!” Intruksi Alif yang diangguki patuh layaknya anak sekolah dasar. “A’udzubillaa...” ucap Alif setengah-setengah berucap, agar Daniel paham sedikit demi sedikit.
“A'u... A...” tatapan guru agama di depannya menanti lanjutan gagu ayat yanh diucapkan Daniel. “A'u... A.. Aaaa AISYAH! BOJOKU JATUH CINTA! PAPAPA PADA PAK ALIF TAPI DIA GAK CINTA!”
Beberapa pengurus panti yang berlalu-lalang sontak tertawa geli. Sama halnya dengan Daniel yang geli juga akibat leluconnya sendiri. Apa lagi ekspresi kesal yang Alif tunjukkan padanya. Tambah membuat Daniel tertawa keras. Yang tambah membuat diri Alif kesal, sebab Aisyah juga ikut tertawa. Tapi, tawa Aisyah terdiam cepat begitu Alif melontarkan tatapan maut untuk wanita itu.
“SAVAGE! WOHOOO...” bukannya diam tertawa, Daniel malah meneriaki Alif.
“Astaghfirullah, Daniel... Ayatnya jangan dimainin, atuh!”
Gigi putih Daniel berjejer, menunjukkan senyum canggungnya saat Aisyah menyahuti. Wanita itu menyuguhkan dua gelas teh untuk dua pria itu. “Susah bener ayatnya, Syah! Sesusah ngedapetin cinta Aisy!”
Penuturan blak-blakan Daniel atau bisa dibilang curhatan sebentar itu membuat Aisyah terkekeh geli. Lagi, lagi sebab sahabatnya itu.
“Yaudah... Sekarang lo berusaha memantaskan diri aja dulu. Karena bukan perkara yang sulit bagi Allah untuk menyatukan para hamba-Nya yang berjodoh.”
°°°
“Jika kau mencintainya, nyatakan saja, Tuan.” suara seorang wanita sontak membuyarkan lamunan David yang tampak menatap kosong foto Nada. Kemudian pria itu mendongak. Tatapannya menatap tajam wanita yang sudah berdiri tepat di hadapnnya sekarang.
“Patricia, kau selalu datang tiba-tiba.” David berucap ketus, lantas segera menutup album foto tadi. “Biasakanlah mengetuk pintu sebelum masuk!”
“Untuk apa aku mengetuk pintu?” Patricia menaruh secangkir kopi di atas meja. Ia duduk di hadapan David. Menatap dalam mata pria itu. “Kau sudah ku anggap seperti anakku sendiri, Tuan.”
Jika dipikir-pikir, perkataan Patricia benar. David sudah seperti anak kandungnya sendiri. Dari ia masih bayi sampai sekarang, Patricia-lah yang mengurus David sepenuhnya. Waktu begitu cepat berlalu. David yang dulunya masih kecil, sudah dewasa sekali. Bahkan David yang tidak pernah merasakan apa itu cinta, kini sudah merasakannya.
“Kalau Nona Nada tau kau menyimpan fotonya, dia akan sangat marah, Tuan. Itu melanggar privasi seseorang.” rupanya Patricia sempat melihat bingkai foto yang David sembunyikan. Padahal David sudah cepat-cepat menyembunyikannya, tetapi ternyata mata Patricia begitu tajam.
“Salahkan dia. Jangan salahkan aku! Salah sendiri memintaku, memotret ribuan fotonya untuk endorse i********: miliknya. Jadinya, ya..., tersimpan di album.” Alibi David rendah sekali. Tampak jelas dari pandangan Patricia, jika tuannya ini berbohong. Bahasa tubuh David menyatakan kebohongan. Selalu saja begitu. Pria itu tak pernah jujur.
“Apa susah sekali untuk jujur kepadaku?” tanya Patricia berjeda sejenak. “Tak apa jika kau jujur, tuan. Kejujuran tak akan membunuhmu. Kau menyukainya? Nyatakan saja kepadanya,”
“Tidak semudah itu untuk menyatakannya, Patricia. Kau belum pernah berada di posisiku. Aku bukanlah pria puitis atau pun romantis yang bisa mengungkapkan ribuan kata gombal untuk para wanita.”
Akhirnya setelah berkecamuk dengan ego, barulah David mau berkata terus terang. Ada perasaan lega dalam relung hati Patricia, ketika untuk pertama kalinya David mau berkata jujur. Terlebih masalah hati.
“Lagi pula...,” ucapan David mendadak menggantung. “Wanitanya ini bukan seperti wanita pada umumnya. Maksudku... Eum..., ini Nada! Gadis gila dengan ribuan keanehan dalam dirinya. Jika didefinisikan, kami ini bagaikan langit dan selokan!”
Sontak Patricia tertawa lepas begitu David selesai berucap. Sudah dapat diduga Patricia maksud dari David yang mengumpamakan Langit dan Selokan.
“Gila-gila begitu, tapi kau mencintai dia, Tuan.”
David mendengus, pertanda ucapan Patricia memang benar adanya. Sekaligus tak habis pikir dengan dirinya sendiri, kenapa bisa mencintai wanita yang tipenya seperti Nada.
“Virus gilanya sudah menyebar. Buktinya sekarang aku gila karena mencintai dia yang tentunya gila.” David menghela napas panjang, lantas ia geleng-geleng kepala tak habis pikir. “Sungguh kisah yang gila.”
Lagi-lagi Patricia tertawa. Tidak sekencang tadi. Hanya tawa kecil yang sekejap langsung hilang. Belum pernah ia melihat tuannya ini tampak frustasi sedemikian rupa. Ucapan David dibenarkan Patricia dalam hati. Dia memang sudah gila akibat virus dari Nada yang gila.
“Lalu, tunggu apa lagi? Ayo, nyatakan perasaanmu!”
Kembali David menghela napas akan ucapan enteng dari Patricia itu. Nampaknya Patricia sangat mendukung sekali perasaan David kali ini. Berbeda ketika David menyukai para wanita sebelumnya selain Nada. Patricia menolak dengan keras kalau sampai David mencintai para wanita yang asal-usulnya kebanyakan tak jelas.
“Susah, Patricia!” sentak David spontan menggerbak meja. Pria itu memijit pelan keningnya. “Nada seorang muslim! Dia adalah salah satu orang yang harus ku benci setelah mereka berdua.”
Patricia sangat tahu siapa mereka berdua yang David maksud. Mereka yang David anggap berniat untuk membunuhnya, padahal tidak. Mereka yang seharusnya David sebut sebagai Orang Tua.
“Tapi tidak salahnya kau mencoba, Tuan. Setidaknya kau sudah menyatakan perasaanmu. Dari pada kau pendam sendiri, dan ujung-ujungnya kau sendiri yang menuai rasa sakit juga."
Kalau dipikir-pikir, ucapan Patricia ada benarnya. Lebih baik ia nyatakan perasaannya itu. Dari pada dipendam, pasti akan membuat hati serta diri sendiri yang sakit. David tampak menimbang-nimbangkan perkataan Patricia. Hatinya ingin sekali berucap jujur, tetapi otaknya menolak keras.
“Masalah agama, nanti dipikirkan.” sambung Patricia lagi. “Entah nantinya kau yang akan mengikuti agamanya atau dia yang keluar dari agamanya, itu menjadi urusan belakangan.”
“Ucapanmu ada benarnya.” bibir Patricia menyunggingkan senyuman tipis. Setelah lama berdebat, akhirnya David setuju juga. “Besok adalah pesta ulang tahun perusahaan cabang. Aku akan mengungkapkan semuanya.”
°°°