Part 5

1837 Kata
Kedatangan Faisal dan Sandryna di Tokyo, seolah sudah direstui dan diperhitungkan oleh alam. Rupanya saat ini waktu di mana musimnya bunga sakura bermekaran lebat. Sepanjang perjalanan, Faisal hanya fokus ke layar ponselnya saja. Entah apa yang lebih menarik di sana selain keindahan bunga sakura di sekililingnya. Hal itu membuat Sandryna berulang-ulang kali menghela napas. Suara riuh tepuk tangan, mengintruksi mereka berdua. Ternyata ada sepasang kekasih yang tengah di sorot banyak orang. Sang lelaki tampak berlutut sembari memegang sebuket bunga di tangan kirinya, dan sekotak cincin di tangan kanannya. “Waaahhh! Lihat, deh, Mas!" Faisal langsung menoleh ke arah yang Sandryna tunjuk. "Cowok itu lagi ngelamar pacarnya. Romantis, yah, Mas?! Apalagi pakek bunga sama cincin segala.”  "Kamu pengeng kayak gitu?" Sandrnya mengangguk sangat semangat. “He'em! Sandryna pengen juga dikasih bunga sama cincin kayak begitu!”  Lantas Faisal mengangguk berkali-kali. “Nanti saya akan beliin kamu bunga sama cincin.”  Mata Sandryna berbinar menatap Faisal. “Mas Faisal serius?” Faisal kembali mengangguk lagi dan tambah membuat senyuman di bibir Sandryna melebar. “Iya, saya akan beliin, tapi pas tunggu kamu meninggal dulu. Bunga itu baru dikasih pas meninggal. Liat aja di pemakaman. Orang yang udah meninggal, pasti dikasih bunga. Makanya saya bakalan kasih, pas kamu udah meninggal nanti.” Jujur perkataan Faisal sangat menyakiti hati Sandryna, namun sebisa mungkin ia memberikan seulas senyuman. Ia berusaha tegar. “Kalau Mas Faisal emang bener mau kasih Sandryna bunga, Sandryna mau minta satu buket bunga mawar putih. Kan, orang meninggal itu suci jadinya harus warna putih, karena warna putih itu melambangkan kesucian. Bunga mawar putih juga kesukaan Sandryna. Jangan lupa cincinnya, Mas.” Faisal mengangguk dengan wajah cengo, sebab melihat Sandryna yang tetap tersenyum mendengar ucapan kasarnya tadi. Padahal ia sendiri merasakan ucapannya tadi sungguh menyakitkan, tapi Sandryna malah tersenyum seakan itu biasa saja.  “Dear hati... Sabarlah dalam penantian. Teruslah perbaiki keimanan dan sabarlah dalam cobaan. Janji Allah itu pasti dan benar-benar nyata adanya. Wahai hati... kamu hanya perlu bersabar sebentar saja. Tak akan lama, karena Allah tahu kapan waktumu bahagia.” batin Sandryna.  °°° Di ruang prakteknya, dokter Juna tampak melamun menatap sekotak cincin berbentuk hati. Pikirannya terbagi menjadi dua, antara memikirkan honeymoon Sandryna bersama suaminya tepat hari ini, dan hal bodoh yang pernah ia lakukan. Cincin ini salah satunya. Sebenarnya saat Sandryna datang memberitahu pasal perjodohannya itu, dokter Juna ingin melamarnya. Namun takdir berkehendak lain. Sandryna telah memberitahu semuanya. Pikiran dokter Juna melayang memikirkan kejadian itu.  °°° “Assalamu’alaikum...” “Wa’alaikumsallam... Sandryna, kenapa kemari? Baru aja saya mau datang ke rumah kamu malam ini, tapi kamu deluan yang datang.” “Sandryna mau ngomong sesuatu sama, dokter.” Ucap Sandryna langsung, tanpa basa-basi.  “Saya juga, tapi kamu dulu aja. Mau ngomong apa?” “Dokter aja dulu,” “Nggak, kamu aja. Saya nanti. Kayaknya apa yang kamu ingin bicarakan, lebih penting. Keliatan banget dari wajah, kamu.” Sandryna memasang wajah lesu. “Memang...” “Jadi... Sesuatu penting apa yang mau kamu omongin, sampai wajah kamu lesu begitu?” “Sandryna di jodohin, dok!” potong Sandryna cepat, berhasil membuat tubuh dokter Juna membeku di tempat. “Mama baru kasih tau kabar ini seminggu yang lalu. Karena itu, Sandryna ke sini. Kita gak bisa ketemu lagi, mungkin...” “Si—siapa orangnya? Ap—apa... Kamu mengenalnya?” Sandryna menghela napas panjang, lantas ia menggeleng lemah. “Sama sekali nggak. Mama sih, mau kasih tau Sandryna siapa orangnya, tapi Sandryna sendiri yang nggak mau. Biarlah ini jadi rahasia.” “Berarti kamu nggak cinta sama dia?” “Memang belum, tapi gak tau nanti.” Alis dokter Juna mengkerut bingung, mendengar ucapaan Sandryna itu. Terpancar begitu jelas, jika dokter itu tidak menyukai apa baru saja yang Sandryna ucapkan tadi. “Apa maksud kamu nanti?” “Ya... Karena udah kewajiban Sandryna sebagai pasangan dia, untuk mencintainya, bukan? Mencintai Suami sah Sandryna nantinya.” Ketidaksukaan dalam diri dokter Juna semakin bertambah, di saat mendengar kalimat terakhir yang meluncur mulus di bibir Sandryna.  “Jadi... Sampai sini saja—“ “Kita masih menjalin silahturami kok, Dok. Sebatas itu aja, gak sedekat ini.” Sandryna mengambil jeda tiga detik. “Jangan menyalahkan diri dokter, ya? Ini murni Qodarullah. Ini bagian rencana dari Allah untuk Sandryna, dan mungkin ini yang terbaik untuk kita kedepannya. Sama halnya seperti Wanita di luaran sana, Sandryna juga butuh kepastian. Dan inilah kepastian itu.” seulas senyuman terbit di bibir Sandryna. Wanita itu beranjak berdiri dari posisi duduknya.  “Terima kasih atas kebahagiaan dan kebaikan yang telah dokter berikan ke Sandryna selama ini. Sandryna hargai semuanya. Assalamu'alaikum, dok. Undangannya bakalan dokter terima, kok. Jangan lupa datang yah, dok.” Kepergian wanita itu di tatap Dokter Juna hampa. Tubuhnya tidak bergerak sedikit pun. Tetap pada posisi semula. Sekian lama terdiam, barulah dokter Juna dapat menjawab salam dari Sandryna.  “Wa’alaikumsallam... Maaf atas kebodohan saya selama ini. Saya pantas mendapatkannya. Ini balasan yang setimpal.” °°° “Dokter Juna!” kedatangan Jenny, membuyarkan lamunannya. Matanya berkedip berkali-kali, menatap bingung Jenny yang ada di hadapannya.  “Kenapa, Jen?” “Nih, Rekam Medik pasien Ruang Lavender nomor dua pagi ini. Bisa dokter cek dulu.” Dokter Juna mengambil tumpukkan Rekam Medik yang di berikan Jenny. Tak sengaja, Jenny menatap kotak cincin yang berada tepat di sebelah dokter itu. Jenny sangat mengetahui rencana lamaran yang akan di ungkapkan dokter Juna, namun sayangnya kandas.  “Dokter, apa yang Dokter rasakan, memang gak bisa di ungkapkan oleh siapa pun. Tapi, Dok... Mencintai itu tidak selamanya menggunakan hati. Sesekali gunakanlah akal sehat dan mata. Ikhlaskanlah jika terlalu jauh untuk di kejar. Relakanlah jika terlalu sulit untuk digapai. Tuhan tidak menciptakan cinta untuk membuat dokter terluka.” “Jenny, saya sudah coba melupakan dia, tapi rasanya sulit sekali. Entah kenapa, terlebih melihat wajah Dokter Faisal kemarin. Tidak ada sedikit pun rasa bahagia, dan cinta. Itu yang saya lihat. Dari pandangan saya, pernikahan mereka adalah sebuah kesalahan.” “Dok, semua yang telah terjadi itu, merupakan bagian rencana Allah. Rencana Allah itu gak ada yang salah, cuma hamba-Nya aja yang salah menafsirkan. Dan, dokter... Mengikhlaskan beda dengan melupakan. Melupakan belum tentu bisa mengikhlaskan, sementara mengikhlaskan dengan menyerahkan hati sepenuhnya pada Allah, pasti mudah sekedar melupakan saja.” “Apa... Saya bisa melakukannya, Jen?” Jenny tersenyum. “Tentu saja bisa, Dok. Gak ada yang mustahil di dunia ini. Jangan sampai karena ini, dokter sibuk memanah cinta seseorang yang sudah tidak bisa di miliki lagi, sehingga lupa melihat ke belakang, ternyata ada seseorang juga yang susah payah memanah cinta, dokter.” Ketika mendengar segala yang di ucapkan Jenny, hati dokter Juna merasa ada yang ganjal. Apa lagi melihat cara Perawat itu menatapnya. Terlihat berbeda sekali seperti biasa. Yang pastinya, hanya Allah yang tahu apa maksud dari tatapan Jenny itu. °°° Dering telepon mengejutkan Nada yang tengah melaksanakan Sholat Tahajud. Alis Nada mengkerut bingung melihat nomor tak di kenal yang meneleponnya di jam dua pagi. Sambungan telepon mulai tersambung.  “Halo, Assalamu’alaikum. Dengan siapa saya bicara?” “Ini bosmu, Riznada!!!” bariton tegas ini sangat ia kenali. Tubuhnya seketika membeku di tempat. “Dasar bodoh, kenapa kau tak menyimpan kontakku?! Aku ini bosmu atau tidak, hah?!”  “Eh... Pak! Selo, Pak. I can explain, right? Okay, sorry, i’m forget. Karena pekerjaan yang menumpuk di Kantor, makanya Nada lupa simpan. Bapak jangan marah-marah terus, entar cepat tua loh, Pak.” Di seberang sana, David berdecak. “What ever you say, i don’t care! Dan kenapa kau belum tidur jam segini? Aku tak ingin melihat Karyawatiku yang tertidur saat jam kantor berlangsung!” Nada yang mendengar, hanya bisa tertawa garing. Ia menggaruk kepalanya yang tertutup hijab. Dengan ragu-ragu ia menjawab. “Nada Sholat Tahajjud, Pak. Harusnya Nada yang nanya gitu, kenapa Bapak gak tidur? Bapak Sholat aja nggak, karena Bapak, kan... Atheis.” “Bukan urusanmu, Nada! Ini sudah kebiasaanku.” hening sejenak. “Besok kau harus ke Rumahku. Tidak ada kata penolakan.” “Loh? Ngapain Nada ke Rumah Bapak? Besok kan minggu, Pak. Nada mau refreshing.” “Aku bilang tidak ada penolakan, Nada! Jam delapan kau sudah berada di depan pintu rumahku, kalau tidak gajimu aku potong selama sebulan!” Tut~tut~tut Tanpa menunggu balasan Nada lagi, sambungan tersebut langsung dimatikan. Nada hanya bisa menghela napas, memperbanyak istighfar dengan Bosnya yang tak percaya adanya Tuhan.  “Gue heran sama nih, orang. Mungkin Emak-nya dulu hamil dia ngidam ngemilin pedal gas mobil kali, makanya hobby ngegas.” °°° Sesuai apa yang diinginkan David, Nada datang ke Rumahnya. mobil Nada melaju menelusuri setapak jalan pekarangan rumah mewah bosnya itu. Sampai suatu ketika, Nada spontan menginjak rem. Matanya membulat saat melihat David menyeret seorang wanita berpakaian minim. Di saat David ingin melayangkan tamparan di pipi wanita itu, Nada bergegas keluar mobil. “Pak David, JANGAN!!” Tangan David menggantung di udara. David begitu terkejut melihat Nada yang terduduk di lantai sembari memeluk wanita itu. Kelihatan sekali Nada ingin melindungi wanita berpakaian minim itu dengan baju Syar'inya. “Nada,” gumam David tak berkedip, menatap lurus ke arah Nada yang memeluk wanita itu. Bahkan mata Nada masih terpejam takut. “Hey, b***h! Menjauhlah dariku!!!” Tubuh Nada terjolak lebih jauh dari Wanita itu. Wanita itu kembali berdiri, segera memeluk David hingga membuat Nada terkejut bukan main. “David, aku mohon jangan menolak cintaku! Aku mencintaimu, jadi tolong jangan mencampakkanku seperti ini!”  “Lepas! Cepat kau pergi dari sini! Aku sudah muak melihatmu!!!” David menyentak genggaman wanita itu di lengannya. “RYAN!!!” Mr. Ryan datang dengan dua orang lelaki kekar berpakaian serba hitam. “Seret jalang ini keluar!!!  Dua orang Lelaki yang berpakaian serba hitam tersebut, lantas menarik kasar kedua lengan wanita itu. Tapi, wanita itu tak mau beranjak pergi. Ia terus meronta ingin dilepaskan. “Kau kejam, David!! Kau bilang kau mencintaiku, tapi, nyatanya?! Kau malah membuangku layaknya sampah!!”  “Kau memang sampah, jalang! Dan memang seharusnya kau di buang ke tempat asalmu! TEMPAT SAMPAH!!!”  Tatapan yang semulanya tertuju pada David, entah kenapa kini tatapan wanita itu menoleh ke Nada yang tengah beranjak bangun. Nada dibuat terkejut dengan wanita berpakaian minim itu, karena wanita itu sudah berani mencengkram dagunya.  “Semua ini pasti ulahmu! Katakan berapa nominal uang yang diberikan David untukmu dalam satu malam?! CEPAT KATAKAN, b***h!!” Dengan gerakan cepat, David langsung melepaskan cengkraman tangan wanita itu dari dagu Nada. Melihat situasi ini, rasanya udara tak bisa di hirup Nada. Penyakit asmanya kembali kumat.  Plak! Tamparan keras dilayangkan David kepada wanita itu. Kejadian ini sama persis dengan tragedi Nada dahulu, membuat Nada mengingat masa lalunya yang kelam. Suara tamparan yang keras terus terngiang di kepalanya. Rasa nyeri sangat terasa sekarang di sekujur kepala Nada. “Tolong...” tangan Nada mulai mencengkram d**a kirinya. Terdengar bunyi suara melengking, yang berasal dari deru Napasnya. Lambat laun pandangan wanita berhijab itu buram. Beberapa kali Nada coba untuk mengedipkan kedua matanya supaya pandangannya kembali normal. Hingga suatu ketika, Nada tidak mampu menahan rasa nyeri dan sesak di dadanya lagi. Bruk!  °°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN