Lala keluar dari Salon dan SPA yang ia kelola. Ia berniat pergi menjemput Kakaknya di Bandara. Kakak satu-satunya itu ingin mengunjungi ia yang ada di Indonesia karena sebenarnya mereka tinggal di Istanbul, Turki.
Niat Lala yang hendak memasuki mobil terurungkan, sebab ia tak sengaja melihat sosok Reza. Motor Pria itu terparkir di teras Perusahaan miliknya. Malahan kendaraan mereka bersebelahan.
“Reza?” Pria itu menoleh. Sejenak ia tampak terkejut, namun raut wajahnya seketika senang melihat keberadaan Lala.
“Eh, Lala? Assalamu'alaikum, La. Beruntung banget bisa ketemu lagi dengan, kamu. Btw, ngapain bisa ada di sini?"
“Wa'alaikumsallam. Eum, Salon dan SPA Muslimah ini, aku pengelolanya.”
“Maksud, kamu... Gedung tinggi ini milik, kamu? Kamu yang mulai usahanya sendiri?” kepala Lala mengangguk pelan mengiyakan. Melihat Lala mengangguk diam-diam tersenyum, Reza juga ikut tersenyum.
Pandangan Reza menatap sekeliling bangunan tinggi di hadapannya. “Enak, ya? Kecil-kecil gini udah bisa punya Gedung gede.”
“Dari pada situ, kecil-kecil udah berani nikahi orang.” Lala semakin mengulum senyuman malu.
“Aku belum bisa di nikahi sama orang, makanya aku yang nikahi orang.” Reza mengambil jeda. “Setau aku, kamu gak ada minat mengelola bidang kecantikan gini, deh. Bukannya kamu mau jadi, Dokter?”
“Awalnya aku cuma coba-coba, eh jadinya seneng aja dengan usaha ini. Dan Alhamdulillah sukses.” jelas Lala.
“Kalo gitu, aku juga mau coba-coba dapati hati kamu, deh. Siapa tau bisa sukses.” ucapan Reza ini membuat Lala terbelalak. Wanita itu merasa malu sendiri.
“Mau ngedapetin hati Wanita itu gak akan berhasil kalo cuma coba-coba.” balas Lala sebenarnya ia merutuki ucapannya tadi. Reza yang mendengar, menghela napas masih mempertahankan senyuman. Tetapi senyumannya semakin terukir lebar.
“Oke... Oke, aku serius sekarang.”
“Kalo serius ya, lamar. Jangan ngajak main kode-kodean nggak jelas terus. Jangan sampai keterlambatan kamu, malah menghalangi orang lain yang berniat lebih serius.” untuk kedua kalinya Lala merutuki ucapannya. Mulutnya terasa sulit terkontrol.
“Sabar, ya. Do'a-kan saja rumahmu adalah tujuan akhirku, dan perjalananku menuju rumahmu selalu di ridhoi oleh-Nya.” kali ini Reza membalas dan Lala dibuat melayang seketika.
Obrolan mereka tiba-tiba teralihkan oleh sebuah mobil sport merah menyala yang berhenti tepat di pekarangan Salon SPA Muslimah Lala. Seseorang yang mengendarai mobil itu keluar, dan betapa terkejutnya Lala melihat orang itu ternyata adalah Kakaknya.
“Astaghfirullah, Kak Ozan... Kok, udah nyampe aja di sini? Ini mobil siapa lagi yang di pakek?” Lala langsung memeluk Kakaknya ketika baru datang. Kakaknya itu membuka kaca mata hitam yang ia kenakan.
“Barusan beli tadi. Kamu sih, jemput Kakak lama banget.”
“Ya, maaf... Tadi mau jemput Kakak, tapi...” Lala menggantungkan ucapan, karena ada sosok Reza di antara obrolan mereka. Kemudian Lala memperkenalkan kedua Pria itu. “Oh, ya, Kak, aku sampe lupa. Kenalin ini Reza. Dan Reza, ini Kakak aku. Kak Ozan.”
Kedua Pria itu saling pandang setelah berjabat tangan. Pandang dari dua orang itu berbeda-beda. Dari Reza yang memandang Ozan gugup, sampai Ozan yang memandangnya penuh ketidaksukaan.
“Oh... Jadi elo si Ketos famouse pas Lala SMA?” suara Ozan juga mendukung rasa ketidaksukaannya. Sekilas ia melirik Lala yang tampak panik. Sepertinya wanita itu juga merasakan aura ketidaksukaan. “Setelah kamu disakitin sama dia, masih aja kamu baik, La, dengan orang ini?”
Reza membeku di tempat. Tidak menyangka jika Kakak Lala akan berucap demikian. “Kak, saya tau saya salah, tapi saya menyesal dengan kejadian buruk itu. Dengan cara ini saya juga ingin memperbaiki keadaan.”
“Keadaan nggak akan membaik, selama lo masih berani nunjukkin diri di hadapan gue!” sela Ozan cepat, suaranya pun meninggi.
“Udah, Kak... Udah...” Lala berusaha menenangkan Kakaknya, tapi usahanya gagal. Ozan masih dalam emosi. Tatapan Ozan mengarah lurus ke arah Lala, namun jari telunjuknya menunjuk Reza. Napas Pria itu naik turun saking marahnya.
“Lala, litsen to me. In the past, he always lied. Don't trust him again!”
“No, i'm not lying! I'm serious about this!”
“Bodo amat! Lo tetap gak gue perbolehin ketemu Lala selamanya. Kelakuan jahat lo ke Adek gue, masih gue ingat sampai kapan pun!”
Awalnya Reza ingin membalas ucapan Ozan, namun ia urungkan saat menatap Lala yang memohon untuk tidak memperpanjang lagi. Reza pun menyerah. Ia lebih memilih pergi. Meskipun pergi, Reza bertekad tidak akan menyerah begitu saja.
°°°
“Assalamu’alaikum... Maaf, kamu nunggu aku lama, soalnya aku baru aja pulang dari Jerman.” Penjelasan Daniel yang baru datang, diangguki Aisy maklum.
“Wa’alaikumsallam, nggak juga.” Aisy tersenyum sekilas, lalu membuka laptopnya untuk memulai diskusi pembangunan food court.
“Gimana? Udah ketemu lahan yang bagus?” Daniel bertanya, sekaligus mulai mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah laptop Aisy.
“Eum, udah, sih... Tapi, gak tau cocok atau nggak menurut, kamu.”
“Aku sih, ngikut aja. Kalo kamu suka, aku juga suka.” Daniel memberikan seulas senyuman, supaya lebih meyakinkan.
Pembahasan mengenai food court mulai mereka bahas. Terkadang Daniel diam-diam melirik Aisy yang sibuk menjelaskan. Tak sepenuhnya penjelasan Aisy yang ia dengar. Dia lebih memfokuskan menatap berbagai macam ekspresi yang Aisy tunjukkan.
“Aku tuh, mau food court yang bernuansa Nusantara. Jadi... Semua makanan yang tersedia, khas masakan Indonesia. Biar turist banyak yang makan di food court ini juga.”
“Gak mau ada toko ice cream juga di sana?” ide yang Daniel cetuskan ini muncul secara tak sengaja. Pertemuan pertama ia dengan Aisy yang menjadi tonggak ide ini.
Aisy diam, tengah berpikir. “Boleh, sih... Bagus juga.” lantas ia tersenyum yang membuat Daniel meleleh.
Suasana hening untuk sesaat, lalu Daniel membuka obrolan. Ia berdehem terlebih dahulu. Posisi duduknya ia perbaiki. “Sy, ada yang kamu suka, gak?”
Topik pembicaraan Daniel membuat Aisy curiga. Mode intimidasi terpasang di wajahnya. “Pasti ada, lah! Emang kenapa? Please, jangan aneh-aneh.”
Daniel tertawa pelan. “Astaghfirullahal’adzim, Ukhty..., jangan seudzhon melulu.” tiga detik Daniel mengambil jeda. “Misalnya ada yang ngasih kamu sesuatu, apa kamu terima.”
“Tergantung siapa yang ngasih. Misalkan cowok, jelas aku pikir-pikir dulu. Apa lagi kalo niatannya untuk modus.”
Raut wajah Daniel sedikit berubah mendengar ucapan Aisy. Terlihat ia gugup. Tangan sebelahnya yang dari tadi di belakang, bergerak tak tentu arah.
“Kalo..., emang cowok yang ngasih, tapi dia sama sekali nggak niat modus, apa kamu terima?” Daniel menatap Aisy penuh harap. Aisy tidak menjawab, sebab ia tengah berkutat dengan pikirannya sendiri.
Bahu Aisy mengendik. “Gak tau juga. Emang kenapa kamu nanya kayak gini?”
Tangan Daniel yang sedari tadi bersembunyi di belakang, perlahan ia tunjukkan. Betapa terkejutnya Aisy, melihat kotak berwarna merah jambu yang Daniel berikan ke arahnya.
“Ini untuk, kamu. Aku harap kamu suka, dan terima. Demi Allah, demi Rasulullah, aku sama sekali nggak maksud modus. Hadiah ini aku kasih karena kepengen aja. Mohon di terima, Sy. Aku bakalan seneng kalo kamu terima.” Daniel memasang wajah memohon yang sangat Aisy benci jika ada orang memperlihatkan.
Merasa kasihan dengan Daniel, Aisy pun mengambil kotak tersebut. Untuk yang pertama kalinya ia menerima pemberian dari seorang Pria. Sebelumnya, hanya pemberian Ayahnya yang ia terima.
“Ayo, di buka. Pasti kamu seneng dengan kadonya. Aku jamin itu.” titah Daniel, merasa tak sabar Aisy membuka pemberian darinya.
Dengan pelan penuh keraguan, Aisy mulai membuka apa yang Daniel beri. Sebuah boneka imut berhijab, ternyata yang Daniel berikan.
“Boneka itu aku beli di Jerman. Nggak tau, boneka itu mirip aja sama kamu, makanya aku beli.”
“Makasih. Bonekanya bagus.”
“Suka?” wanita itu mengangguk mengiyakan. Hati Daniel merasa senang melihat senyuman wanita itu. Hanya dengan senyuman itu, Daniel bukan main bahagia. “Nama boneka itu Daisy!”
“Daisy? Artinya?” Aisy menatap Daniel bingung dengan tersenyum aneh.
“Daisy... Daniel... Aisy... Nama kita berdua, jadi satu dengan buktinya boneka ini.”
“Apa sih, Daniel! Gak kreatif, ah!” Aisy melirik Daniel sekilas. Sedikit pun pandangannya tak terlepas dari boneka cantik berhijab pemberian Daniel ini.
°°°