"Enggak usah, Nad, di sini aja. Ayah mau ngomong sama kamu," lirihnya terbaring lemah. Sementara itu, Tania yang baru saja keluar dari kamarnya lalu menuju kamar sang ayah. Dia hanya berani mengintip dari luar kamar. Ia merasa takut karena baru saja ia dan ayahnya bertengkar sampai membuat sang ayah terkena serangan jantung. Jari tangannya terlihat gemetar. Ia bahkan menggigit ujung kuku sebelah kanan sampai berdarah. "Kenapa Ayah, Ayah mau ngomong apa?" tanya Nadia. "Tolong jaga Tania, kakakmu, buat dia bahagia seperti dulu," lirih pria itu seraya berlinangan air mata. "Pasti Ayah, aku akan selalu jaga Kak Tania dan buat dia bahagia. Ayah juga harus ada buat nemenin aku jagain Kak Tania, jagain aku juga, ya..." "Maafkan, Ayah ya Nad... " pria itu mengusap pipi putrinya dengan lembut,

