Bab 05

1077 Kata
05 Langit siang yang cerah telah berubah menggelap, pertanda senja telah tiba. Dahayu menggeliat sambil merentangkan tangan. Perempuan berkulit kuning langsat mengerjap-ngerjapkan mata yang lelah, sebelum merapikan meja kerja dan berdiri sembari menyambar tas dari meja. Dahayu mematikan mesin penyejuk udara dan lampu besar. Dia hanya meninggalkan satu lampu kecil di dekat pintu yang masih menyala. Perempuan berjilbab ungu muda, berbalik dan menyusuri koridor hingga tiba di anak tangga teratas. Dahayu menuruni anak tangga sambil berpegangan pada besi penahan. Tinggal beberapa langkah lagi tiba di tempat tujuan, Dahayu berhenti sembari menatap seorang pria yang tengah berdiri di dekat anak tangga terbawah. "Mas, kok, bisa ada di sini?" tanya Dahayu setelah sampai di dekat pria tersebut. "Kebetulan lewat, terus aku nanya pegawaimu, katanya kamu masih belum pulang," jawab Imran. "Kenapa nggak langsung masuk ke ruangan?" "Aku pikir kamu lagi sibuk, jadinya kuputuskan buat nunggu. Nggak lama, kok, cuma sepuluh menit lalu aku nyampe sini." Dahayu manggut-manggut sembari jalan terlebih dahulu dan menghampiri asisten keduanya setelah Westi untuk membicarakan sesuatu. Tidak berselang lama lama Dahayu menoleh pada Imran dan menggerakkan kepala untuk memberi isyarat. "Mau langsung pulang atau ke mana dulu?" tanya Imran, sesaat setelah mereka menduduki kursi masing-masing di mobilnya. "Aku pengen beli sesuatu. Bisa antarin?" Dahayu balik bertanya sambil memasang sabuk pengaman. "Boleh, mau dianterin sampai ke bulan pun, aku siap." "Ngapain di bulan?" "Main congklak. Kan, bolong-bolong itu permukaannya, pas buat biji congklak." Dahayu terkekeh sambil menutupi mulutnya dengan tangan kanan. Imran turut mengulaskan senyuman. Pria itu merasa senang mendengar suara tawa Dahayu yang tidak terlalu sering dilakukan perempuan tersebut. Mobil HRV putih melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya Kota Jakarta yang padat di penghujung senja. Saat mendengar suara azan magrib, Imran membelokkan kendaraan di depan masjid terdekat dan mengajak Dahayu untuk menunaikan ibadah. Belasan menit terlewati, Dahayu yang baru selesai melipat mukena, segera mencari-cari ponselnya yang berdering di tas. Perempuan itu tanpa sadar tersenyum ketika melihat nama pemanggil. Dahayu berdiri dan menekan tanda hijau pada layar sebelum menempelkan ponsel ke telinga kanan yang tertutup jilbab, sambil jalan ke luar. "Waalaikumsalam, Mas Aldi dan Aldo, sudah salat?" Suara lembut yang sangat berbeda spontan Dahayu keluarkan bila tengah berbicara dengan kedua anak Arya. "Udah, Bu," jawab Aldi mewakili saudaranya. Hubungan yang sudah sangat akrab membuat kedua anak itu menyematkan panggilan Ibu pada Dahayu. "Ibu udah salat?" tanyanya. "Udah, ini baru beres. Ehm, papanya ada? Ibu mau bicara sebentar." Suara teriakan khas anak kecil dari seberang telepon membuat Dahayu menjauhkan ponsel sambil tersenyum lebar. Saat mendengar sapaan salam Arya, barulah Dahayu mendekatkan ponsel kembali ke telinga dan berbincang dengan santai. Imran yang memerhatikan Dahayu sejak tadi, bertanya-tanya dalam hati tentang siapa orang yang tengah berbincang dengan perempuan tersebut. Imran menunggu Dahayu selesai mengobrol, kemudian dia mengajak perempuan tersebut kembali ke mobil untuk meneruskan perjalanan. "Tadi yang nelepon itu siapa?" tanya Imran. "Aldi, anaknya Mas Arya. Dia tiap hari memang nelepon aku walaupun cuma sekadar nanya aku udah makan atau belum," terang Dahayu. "Bukan yang pertama, tapi yang kedua." "Oh, itu Mas Arya." "Apanya kamu?" "Sobatku dari SMU. Dia usianya satu tahun di atasku, tapi mainnya sama teman-teman sekelasku, jadi kayak teman seangkatan." Imran manggut-manggut, kemudian berucap, "Pantesan, tadi kalian ngobrolnya akrab banget. Kalau nggak tahu dia udah nikah, mungkin orang lain yang dengar akan berpikir kalian itu pasangan." "Masa, sih?" "Iya, habisnya kamu detail banget ngejelasin seharian ini ngapain aja, bertemu dengan siapa dan sekarang ada di mana, dengan siapa serta tengah melakukan apa." "Kok, kayak lagu?" "Kirain kamu nggak tahu kalau aku nyomot lirik lagu." Dahayu terkekeh dan memancing Imran untuk melakukan hal serupa. Sepanjang perjalanan menuju pusat perbelanjaan, Imran beberapa kali melirik Dahayu yang sibuk dengan ponselnya. Tiba-tiba Imran mengulurkan tangan kiri dan menyambar ponselnya Dahayu serta memasukkan benda itu ke saku jas hitamnya. Perempuan bertunik ungu muda spontan membulatkan mata dan hendak mengajukan protes, tetapi kemudian diurungkan ketika melihat Imran mengangkat tangan kiri dan mengembangkannya, seakan-akan meminta Dahayu untuk tetap diam. *** Suasana ramai yang melingkupi restoran yang dikunjungi, membuat Dahayu sedikit tidak nyaman. Obrolan orang-orang di sekitar yang bernada tinggi membuatnya beberapa kali menggeleng. Imran yang melihat hal tersebut, mempercepat gerakan hingga makanannya habis dan mengajak Dahayu keluar. Berteman sejak lama membuatnya mengetahui bila Dahayu adalah pribadi yang sedikit tertutup dengan orang asing. Kedua orang tersebut jalan bersisian, tetapi tetap memberikan jarak agar tubuh mereka tidak menempel. Tiba-tiba dari arah depan tampak tiga orang anak kecil berlari mendekat sambil tertawa-tawa. Menuruti intuisi, Imran berpindah ke depan Dahayu dan menangkap salah seorang anak yang hendak menabrak. "Hati-hati, Dek. Jangan sampai nabrak orang," tukas Imran yang seketika membuat bocah itu menengadah dan mengerjap-ngerjapkan mata. Dahayu tanpa sadar memegangi lengan kiri Imran sambil mengusap bagian tengah tubuhnya sendiri. Dia mengucap syukur dalam hati, karena bisa terhindar dari peristiwa tabrakan tersebut. Dari kejauhan terlihat dua orang perempuan menghampiri dengan tergesa-gesa. Setelah meminta maaf pada Imran dan Dahayu, kedua perempuan itu menjauh sambil mengomeli ketiga bocah tersebut. Imran melirik Dahayu yang masih berlindung di sampingnya. Pria berkemeja putih mengulaskan senyuman karena Dahayu masih memeganginya. Hal itu membuatnya senang, karena telah berhasil menjadi pahlawan buat perempuan pujaan. "Yuk, lanjut belanja," ajak Imran yang menyadarkan Dahayu dari lamunan. "Ehm, iya." Dahayu melepaskan pegangan, tetapi dia kembali terkejut kala Imran menarik tangannya dan mengarahkan untuk memegangi lengan pria tersebut. "Digeser aja pegangannya, jangan dilepas," ungkap Imran. "Enggak, ahh," tolak Dahayu sembari hendak menarik tangan, tetapi Imran menahannya dan menggeleng pelan. "Pegangan, Yu. Biar aku bisa terus ngelindungin kamu." "Tapi ...." "Udah, nurut aja!" Dahayu menyipitkan mata sambil merengut. Sekali lagi dia tidak bisa membantah perkataan pria tersebut, dan akhirnya terpaksa mengikuti langkah Imran menyusuri selasar hingga tiba di pusat perbelanjaan. Seperti pasangan pada umumnya, Imran mendorong troli dan Dahayu yang memilih barang-barang yang hendak dibeli. Sekali-sekali mereka akan berbincang bila Dahayu meminta urun saran. Selebihnya mereka akan kembali diam. Hampir enam puluh menit berlalu, mereka sudah kembali berada di mobil. Dahayu yang mulai mengantuk akhirnya menyandar ke pintu. Imran sekali-sekali menoleh untuk memastikan kondisi penumpangnya. Setibanya di tempat tujuan, Imran membangunkan Dahayu yang mengerjap-ngerjapkan mata dan tampak linglung. Imran turun terlebih dahulu sambil mengangkat tas belanja. Imran menunggu Dahayu turun baru kemudian jalan bersisian menuju lobi utama gedung apartemen yang disewa Dahayu dari Westi, setelah sahabatnya itu menikah dan pindah ke rumah suaminya. "Sampai sini aja, Mas. Makasih," tutur Dahayu saat Imran turut menunggui lift. "Aku antar sampai unitmu. Nggak bisa kamu dibiarkan jalan sendirian kayak gitu. Mana sempoyongan lagi," sanggah Imran. "Liftnya udah kebuka, ayo," ajaknya tanpa mengindahkan ringisan Dahayu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN