03
Gegap gempita suasana dekat panggung peragaan busana, malam itu terdengar hingga ke luar ruangan. Penonton membludak, karena masing-masing peserta membawa tim pendukung yang banyak.
Para fotografer dan kameramen bergerak cepat mengabadikan suasana. Panitia penyelenggara hilir mudik sembari sekali-sekali berhenti, untuk menonton para peragawan dan peragawati, yang tengah berlenggak-lenggok di catwalk.
Setelah semua pakaian dipamerkan, pemandu acara memanggil semua perancang busana, untuk menaiki pentas, dengan didampingi dua model masing-masing.
Dahayu berdiri berderet dengan kedelapan rekan sesama desainer, sambil memegangi buket bunga. Mereka berulang kali merunduk untuk memberi penghormatan pada penonton yang masih bertepuk tangan. Meskipun lelah, tetapi kesembilan perancang busana tersebut merasa senang dan lega, karena acara itu sukses serta berjalan lancar.
Masing-masing wakil dari butik peserta memberikan buket bunga pada desainer masing-masing. Demikian pula dengan beberapa perancang senior kenamaan Indonesia.
Dahayu tertegun ketika salah satu perancang terkenal mendatanginya, dan memberikan pita biru yang disematkan di dekat d**a kanan. Dahayu mengulaskan senyuman lebar, karena itu merupakan tanda bila hasil karyanya disukai sang senior.
Dahayu menyalami perempuan tua berkonde dengan takzim. Mereka berpelukan sebentar, sebelum sang senior memundurkan badan sambil memberikan ucapan selamat buat Dahayu, yang membalas dengan berterima kasih berulang kali.
Sekian menit berlalu, Dahayu tengah mengobrol dengan Westi, sahabat sekaligus asistennya, ketika ponselnya bergetar. Dahayu meraih benda itu dari tas kecil dan mengecek nama pemanggil, sebelum menekan tanda hijau, lalu menempelkan ponsel ke telinga kanan.
"Assalamualaikum," sapa Dahayu.
"Waalaikumsalam. Acaranya udah selesai?" tanya orang di seberang telepon.
"Sudah, baru aja."
"Good, aku tunggu di tempat parkir. Mobil putih butut."
Telepon diputus secara sepihak oleh orang tersebut. Dahayu mengulum senyum dan menggeleng perlahan, kemudian memasukkan ponsel kembali ke tas dan memberi kode pada Westi yang langsung mengangguk paham.
Kedua perempuan berbeda tampilan, berpamitan pada rekan-rekan mereka. Keduanya melangkah bersisian menuju pintu sambil bergandengan tangan.
"Kayaknya Mas Imran mau pedekate ke kamu, Yu," tukas Westi, sahabat Dahayu, sesaat setelah mereka berada di koridor.
"Enggaklah, dia tahu aku udah nyaman sendiri," jawab Dahayu sembari mengusap dahi dengan tisu.
"Feelingku nggak pernah salah. Dari zaman Mas Zay, Mas Elang, dan sekarang dia."
"Kamu itu kayak Maya dan Rini, sibuk ngejodohin aku, padahal aku nggak kepikiran buat nikah lagi."
"Jangan gitu, Yu, kamu masih muda, baru tiga puluh tiga tahun. Jalanmu masih panjang."
"Wes, stop, deh. Biarin aku kayak gini, dan tetap doakan yang terbaik buatku. Kalau di depan sana ternyata aku memang masih punya jodoh, doakan juga biar semuanya dilancarkan."
"Dari dulu doaku juga cuma itu. Tapi sekarang ditambah dengan semoga saat ada yang serius melamar, kamunya nggak kabur lagi kayak dulu."
"Duh, diingetin lagi."
"Habisnya, kesel! Mas Elang itu kurang apa coba? Wajah manis, badan tinggi walaupun agak gemuk sedikit. Dia juga baik, Ayah penyayang. Pokoknya high quality duda, susah tau nyari yang model gitu."
"Ya, udah, kamu aja yang ngedeketin dia."
"Terus Mas Hendra di ke manain?"
"Entah."
Westi merengut, sementara Dahayu mengulaskan senyuman lebar. Langkah mereka terhenti ketika tiba di tempat parkir dan seorang pria melambai dari bagian tengah.
"Nggak ada yang ketinggalan, kan?" tanya Imran, teman kuliah Westi dan Dahayu.
"Ada, hatinya Dahayu," jawab Westi yang seketika dicubit orang yang dimaksud, sementara Imran tersenyum lebar.
"Yok, kita berangkat. Yang lainnya sudah nunggu." Imran membukakan pintu bagian depan, Dahayu beradu pandang dengan Westi sekilas, sebelum merunduk dan memasuki kendaraan. Sementara Westi menempati kursi tengah.
Tak berselang lama mobil HRV putih sudah meluncur di jalan raya. Menembus kepadatan yang sudah lumrah di Ibu Kota yang tidak pernah tidur. Obrolan ringan dilakukan ketiga orang tersebut hingga Imran menghentikan mobilnya di tempat parkir, di depan sebuah restoran milik Ivana, di kawasan Tebet.
"Nia masih di kantor nggak, ya?" tanya Dahayu, sesaat setelah keluar dari kendaraan. Nia adalah manajer restoran itu.
"Kayaknya udah pulang, ini udah lewat jam 8," sahut Westi sembari merapikan gaun abu-abu yang dikenakan. "Aduh, perutku makin buncit," keluhnya.
"Namanya juga ada bayi, Wes. Pasti begitu," sela Imran. "Dahayu juga pasti gitu kalau hamil," sambungnya tanpa menyadari bila wajah Dahayu dan Westi langsung berubah. "Yuk, masuk," ajaknya sembari melangkah terlebih dahulu memasuki tempat tersebut.
"Sabar, Yu," bisik Westi sambil mengusap punggung sahabatnya.
Dahayu memaksakan senyuman, kemudian mengangguk. "Enggak apa-apa, dia, kan, nggak tau kondisiku. Dan nggak perlu tau juga, karena dia cuma teman."
Westi hendak menjawab, tetapi tangannya sudah ditarik Dahayu dan akhirnya terpaksa melangkah untuk mengikuti perempuan berjilbab tersebut. Kehadiran mereka disambut pelukan hangat dari teman-teman perempuan, sementara para lelaki hanya menyalami sambil tersenyum.
Sementara itu di tempat berbeda, Arya menggendong Alfian yang sejak tadi merengek tanpa diketahui sebabnya. Bayi yang baru berusia hampir 4 minggu, menolak untuk menyusu.
Alfian juga tidak mau dipindahkan ke kedua neneknya ataupun pada pengasuh. Arya sudah lelah sekaligus mengantuk, karena belakangan hari jam istirahatnya kacau dan tidak pernah bisa tidur nyenyak.
Tiba-tiba rengekan Alfian berhenti ketika suara Dahayu terdengar dari video yang tengah diputar Aldi di tablet milik papanya. Arya terdiam, begitu juga dengan Jamilah dan Aminah. Ketiga orang tersebut saling beradu pandang, sebelum tangisan Alfian kembali terdengar saat suara Dahayu menghilang.
"Diputar lagi, Kak," pinta Jamilah yang langsung dikerjakan Aldi, dan rengekan Alfian langsung berhenti. "Kayaknya dia kangen sama Ayu, telepon, gih, Mas," pintanya pada sang putra.
"Ehm, takutnya ganggu, Bu," jawab Arya sambil memelankan suara karena takut putranya kembali menangis.
"Dicoba dulu, sekalian direkam, kali Alfi bisa tenang dengar suara Ayu."
Arya menghela napas, kemudian mengerjakan permintaan ibunya. Detik demi detik menunggu panggilan diangkat membuatnya gundah, tetapi rasa itu langsung menghilang setelah mendengar suara sapaan salam Dahayu.
"Yu, maaf ganggu, tapi Alfi nangis terus," terang Arya.
"Kenapa? Lagi sakit?" tanya Dahayu.
"Enggak, sih, cuma ... dia kayaknya kangen sama kamu. Nangisnya berhenti setelah mendengar suaramu dari video yang lagi diputar Aldi."
Di seberang telepon, Dahayu terkesiap, kemudian berdiri dan jalan menjauh dari meja yang dipenuhi teman-temannya. Dia berhenti di luar ruang VIP dan memikirkan sesuatu sebelum berkata, "Aku rekam video, ya, Mas. Nanti putarin terus biar Alfi dengar."
"Ya. Makasih sebelumnya. Dan ... sorry, aku ngerepotin terus," ungkap Arya.
"Enggak apa-apa. Aku juga lagi nyantai."
"Hmm, sekali lagi, makasih."
"Kembali kasih."
Telepon diputus Dahayu, kemudian dia merapikan penampilan sebelum membuat video dan mengucapkan kata-kata lembut buat Alfian. Terakhir dia bersalawat, hal yang selalu dilakukannya kala ikut mengasuh bayi tersebut selama satu minggu di rumah Arya.