Dira nyaris membanting pintu hotel mereka jika saja kewarasannya tidak mengambil alih di saat terakhir. Alih-alih membanting pintu tepat di depan wajah Ethan, Dira memilih mengabaikannya. Ia mengambil langkah lebar-lebar, tidak peduli jika sikapnya terlihat kekanakan. Saat ini ia benar-benar marah. “Dira…” Dira mengabaikannya. Ia berjalan ke kamar, melempar tas kecilnya ke atas ranjang. Ia bisa mendengar Ethan berjalan ke arahnya, dan ia melotot. “Aku sedang marah padamu, jadi sebaiknya kau hati-hati.” Ethan mengangkat kedua tangannya ke udara dengan sikap menyerah. “Aku perlu clue, kenapa kau marah?” Wah! Dira berjalan mondar-mandir, memandang Ethan seolah dia manusia paling bodoh di dunia. “Kau masih bertanya kenapa aku marah?” “Dira, kau bersikap berlebihan, jika ini karena ucap

