BAB 13

1488 Kata
Ethan menatap Noah, bocah kecil berusia empat tahun yang berdiri di hadapannya. Anak itu tampak begitu polos dengan mata bulat dan rambut cokelatnya yang ikal. Ada jeda di mana Ethan hanya menatapnya, seolah sedang mencoba menyelami sosok mungil yang baru saja dikenalnya. Dira berdiri tak jauh, mengamati mereka berdua dengan d**a yang terasa sesak. Ekspresi di wajah Ethan tampak begitu tenang, seperti biasanya—tetapi Dira bisa melihat kilatan emosi yang sulit di tutupi di mata biru lautnya. Ethan berjongkok, sejajar dengan Noah. “Beberapa orang tua mengatakan kau mirip sekali denganku saat aku seusiamu,” ucap Ethan parau. “Benarkah?” Ethan mengangguk, tiba-tiba merasa kesulitan bersuara. “Sangat mirip, kau mau tahu kenapa?” Jantung Dira berdebar kencang saat menunggu respon putra mereka. Telapak tangannya berkeringat. Putra mereka memang cerdas yang terkadang justru membuat Dira kerepotan. Anehnya selama ini Noah tidak pernah sekalipun mempertanyakan keberadaan ayahnya—hingga saat ini. Noah menatap Dira kemudian kembali ke Ethan, mata biru terangnya mengerjap penuh kerinduan dan juga penuh harap, tapi mata itu juga terlihat ragu-ragu yang membuat tenggorokan Ethan tercekat. “Apa kau ayahku?” Ethan mengerjap seolah ada debu yang membuat matanya perih. “Ya, aku ayahmu,” akhirnya Ethan menjawab. Tidak ada adegan dramatis seperti di film di mana si anak berlari kemudian memeluk ayahnya erat. Adegan emosional seperti itu hanya ada di film. Bocah itu hanya tersenyum kecil, mengangguk pelan, seolah menerima kehadiran Ethan sebagai bagian dari dunianya. Saat mereka mulai berjalan menuju yacht, Dira melihat jemari Noah menggapai tangan Ethan. Pria itu pun memegang serta menggenggam tangan kecil putranya erat-erat, sembari memandang ke depan, seakan ada pasir terbang ke matanya. Hari itu mereka lewatkan dengan bermain menemani Noah yang kelihatannya menjadi lebih aktif sejak pengakuan Ethan. Pria itu hampir tidak pernah melepaskan pandangan dari putra mereka seolah dia tidak ingin melewatkan setiap detik waktu yang berlalu. Sementara Dira di sisi lain memutuskan untuk menjadi penonton dan hanya terlibat saat Noah menanyakan keberadaannya. “Apa Mommy tidak menyukai tempat ini?” Ethan mematung mendengar pertanyaan itu. Ia sedang meraih pakaian tidur untuk putranya saat pertanyaan itu terlontar. Ethan tersenyum. “Tentu saja suka, Mommy senang dengan tempat ini.” Wajah Noah menjadi murung, terlihat tidak yakin. “Tapi Mommy jarang tersenyum sejak ada di sini.” Mengabaikan pukulan telak di dadanya Ethan berhasil memaksa senyumnya terbit. Ia memegang pundak putranya, kemudian mengacak-acak rambut cokelat gelapnya. “Mommy mungkin kelelahan. Setelah istirahat dia akan kembali seperti biasa. Ayo, sikat gigi, setelah itu tidur.” “Noah mau Mommy.” “Bagaimana kalau Dad temani? Noah keberatan?” tanyanya hati-hati. Anak kecil itu menggeleng, menolak bujukan Ethan. “Noah mau Mommy.” Ethan mendesah, menyerah. “Baiklah kalau begitu, malam ini Mommy yang akan menemani Noah.” Setelah memastikan Noah mengganti pakaian dan naik ke tempat tidurnya, Ethan bergegas keluar untuk mencari keberadaan Dira. Ia mencari wanita itu ke kamarnya dan mendapati tempat itu kosong. Kedua alisnya terangkat. Apa mungkin di dapur? Ethan mencari ke sana dan tidak juga menemukan sosok Dira. Dalam perjalanan menuju ruang tamu ia akhirnya melihat Dira. Wanita itu berdiri diam di tepi dek, memandang ke langit malam yang penuh dengan bintang. Rambut panjangnya yang terurai tertiup angin, tampak seperti sutra hitam yang mengalir bebas. Siluetnya yang mungil terlihat rapuh namun kuat di saat yang bersamaan. Ethan berhenti sejenak, membiarkan dirinya mengambil napas dalam-dalam sebelum melangkah lebih dekat. “Noah mencarimu.” Dira berbalik dengan sangat cepat. “Ethan!” Ethan berdiri di samping Dira, ikut menikmati sapuan angin malam yang menusuk-nusuk kulit. Lewat ekor matanya, ia melihat para pengawal bergerak mundur untuk memberikan mereka privasi. “Apa yang kau lakukan di sini?” Pertanyaan itu sejenak berputar-putar di anatara mereka sebelum akhirnya suara lembut Dira terdengar. “Apa yang kau lakukan di sini? Kupikir kau bersama Noah. Apa dia sudah tidur?” Ethan menoleh, ekspresinya tidak terbaca. “Apa yang kau harapkan saat menyetujui ikut denganku ke sini, Dira?” Pertanyaan tak terduga itu mengejutkan Dira menilik dari bola matanya yang membesar, tapi Dira pulih dengan cepat. “Noah membutuhkanku, begitupun sebaliknya.” “Benarkah? Itukah alasan satu-satunya kenapa kau setuju datang ke tempat ini?” Dira menoleh, merasa terganggu dengan nada remeh yang digunakan Ethan. “Apa maksudmu? Apa seharusnya aku punya alasan lain selain karena Noah?” Ethan mengedikkan bahunya. “Kau yang tahu hal itu, tapi aku ingin mengingatkanmu, kalau tujuanmu datang ke sini untuk Noah sebaiknya kau memperbaiki sikapmu.” Ethan tidak bermaksud mengatakannya dengan cara sekasar itu, hanya saja pengakuan polos Noah membuatnya sangat terganggu lebih daripada yang sanggup ia akui. Dira jarang tersenyum sejak di sini? Ia tidak tahu atau memilih tidak ingin tahu. Kemarahannya pada Dira membuatnya melupakan perasaan wanita itu. “Apa maksudmu aku harus memperbaiki sikapku?” tekan Dira tajam. Ethan menoleh. “Noah menyadari sejak di sini kau jarang tersenyum,” balasnya tenang. Kedua mata Dira melebar karena terkejut. “Noah mengatakannya?” “Dia menyadari perubahanmu, jadi, kecuali kau ingin membuat semuanya semakin rumit sebaiknya perhatikan sikapmu. Aku tidak ingin Noah merasa terganggu.” “Jadi, sekarang aku semacam gangguan, begitu?” Dira tidak menyembunyikan sakit hatinya mendengar kalimat kejam Ethan. Pria itu benar-benar dingin dan tidak berperasaan. Saat melihat bagaimana Ethan begitu mudah menerima dan juga menyayangi putra mereka, Dira merasakan tikaman kekecewaan menghantamnya. Pada awal pernikahan mereka, Ethan selalu menekankan padanya kalau dia tidak ingin punya anak. Dira menyetujuinya waktu itu karena berpikir kalau Ethan akan berubah seiring berjalannya waktu. Manusia berubah, itulah pikiran naif yang ia tanamkan pada dirinya kala itu. Sampai akhirnya Dira disadarkan pada kenyataan bahwa Ethan tidak pernah mencintainya dan laki-laki itu hanya menganggap pernikahan mereka sebagai upaya dalam membentuk kestabilan hidup. Dira bahkan masih berusaha bertahan saat menyadari kalau Ethan tidak pernah benar-benar peduli padanya kecuali saat laki-laki itu membutuhkan dirinya untuk menemaninya menghadiri pesta demi pesta yang diadakan kolega bisnisnya. Pada akhirnya, Ethan melakukan kesalahan fatal yang tidak termaafkan dan tanpa pikir panjang Dira memutuskan untuk melarikan diri tanpa menoleh ke belakang. Jika Ethan benar-benar tidak menginginkan anak, lalu bagaimana pria itu begitu mudahnya menyayangi putra mereka? “Ada yang ingin kutanyakan,” tutur Dira saat melihat Ethan hanya diam. Pandangannya lurus, menatap lampu-lampu yang terlihat seperti titik-titik bercahaya dari tempat mereka berdiri. Dira menarik napas panjang sebelum mengajukan pertanyaan yang mengganggunya. “Saat kita menikah, kau bilang tidak ingin punya anak, lalu kenapa? Kenapa sangat mudah bagimu menyayangi Noah?” Ethan tidak langsung menjawab. Laki-laki itu tetap diam, menatap ke depan. “Karena aku tidak ingin putraku mengalami nasib yang sama denganku.” Dira berkedip. “Apa maksudmu?” Ethan menoleh, matanya yang biru tampak semakin gelap seperti badai yang sebentar lagi akan mengamuk. “Ayahku tukang mabuk yang menghabiskan seluruh hartanya di meja judi dan ibuku seorang sosialita yang terbiasa dengan kehidupan jetset. Saat keluargaku mengalami kebangkrutan, ibuku menggoda pria-pria kaya—tidak peduli jika mereka sudah berkeluarga, demi mengincar hartanya. Tumbuh besar dengan kedua orang tua yang begitu mengerikan, apa menurutmu aku sanggup menjadi orang tua bagi siapapun?” Dira menelan ludah, terkejut dengan pengakuan tidak terduga pria itu. Dira tidak tahu kalau kehidupan masa kecil Ethan begitu mengerikan. Media tidak pernah menceritakannya kecuali keluarga Ethan mengalami kebangkrutan yang membuat kedua orang tuanya mati karena serangan jantung. Tidak sedikitpun terpikir di benaknya kalau kejadian sebenarnya ternyata sangat menyakitkan. Ethan memasukkan tangannya ke saku celana. “Aku tidak pernah ingin menjadi orang tua bagi anak mana pun, itu adalah janji yang kutanamkan pada diriku sendiri. Aku tidak ingin menghancurkna kehidupan seorang anak karena ketidakmampuanku membesarkan mereka. Kenapa aku ingin menjadi orang tua ketika pengalaman menunjukkan kalau peran itu hanya menghancurkan kehidupan seorang anak?” “Ethan…” “Setiap kali pria b******k itu kalah di meja judi, tangannya akan melayang menghantamku seolah kekalahannya karena kesalahanku, sementara ibuku…” Ethan tertawa mencemooh. “Wanita itu berganti pasangan semudah mengganti pakaian. Pada akhirnya, tidak seorangpun yang peduli padaku,” lanjutnya pahit. Dira mengangkat tangannya, ingin mengusap lengan Ethan sebagai bentuk penghiburan, tapi akhirnya tangannya kembali ke posisi semula, takut pria itu menolaknya. Tidak ada yang bicara, hanya keheningan dan suara angin yang mengisi kesunyian di antara mereka. Dira menghela napas, seketika memahami keengganan Ethan memiliki anak. Pria itu tumbuh besar di tengah keluarga yang sakit dan juga mengabaikannya. Tidak heran Ethan memiliki pandangan negatif tentang menjadi orang tua. “Tapi kau menyayangi Noah, Ethan, dan aku tahu kau tidak akan melakukan hal buruk padanya,” kata Dira, memecah keheningan. Ethan menoleh, tatapan matanya dingin dan tajam. “Ya, aku menyayanginya, jadi kau pasti paham kalau aku tidak suka melihatmu menunjukkan wajah sedih palsumu itu di depan Noah, kan?” Dira menahan napas. “Wajah sedih palsuku?” “Aku tidak melihat ada alasan kenapa kau harus terlihat sedih, kecuali tentu saja kesedihanmu itu karena hal lain.” “Hal... lain?” Ethan menatap langsung ke dalam mata gelap milik Dira. “Mungkin saja kesedihanmu itu disebabkan karena pria lain, apa aku salah?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN