Concealer menutup dengan sempurna bengkak pada mataku. Meski begitu aku masih menambahkan bulu mata palsu dan eye shadow gelap untuk meyakinkan mata sembabku sudah tersamar. Terakhir kusapukan lipstik warna merah cerah pada bibirku. Aku menegakkan tubuh, memandang pantulan diriku di dalam cermin. Sekarang, aku sudah siap ke kantor.
Dengar Dewi! Hari ini, detik ini juga, kamu adalah Dewi yang berbeda. Tidak ada Bram lagi di hatimu, jauhkan pikiran untuk memperbaiki hubungan dengan pria berengsek itu. Yang harus kamu lakukan sekarang, melanjutkan hidupmu. Jika perlu, segera urus surat gugatan cerai untuk Bram.
Sebuah senyum sinis terulas di bibirku. Kuraih tas dan melangkah mantap keluar dari kamar.
Aku sadar diriku menjadi pusat perhatian dari sejak keluar mobil hingga sekarang berjalan di lorong kantor menuju ruanganku. Aku juga tahu mereka merasa heran dengan penampilanku hari ini yang berbeda seperti biasanya. Memang aku masih mengenakan blazer dan rok kerja, tapi sengaja memilih rok di atas lutut dan blazer tanpa kancing, memperlihatkan bagian depan blus hitam berpotongan leher rendah yang kupakai. Kacamata yang biasa bertengger di hidungku kuganti dengan lensa kontak warna grey. Kulemparkan senyuman manis seperti biasanya pada mereka.
Shit! Korset ini membuatku sesak napas.
Aku buru-buru menutup pintu begitu sudah berada di dalam ruanganku. Membuka kaitan rokku dan menarik napas panjang-panjang. Akan kucari tempat gym terbaik di Jakarta hari ini juga. Aku butuh menghilangkan lemak pada tubuhku sesegera mungkin.
Sebuket bunga yang tergeletak di meja kerja menarik perhatianku. Aku mengambilnya dan mengamati dengan seksama. Segerumbulan mawar merah segar yang menawan, diselipi bebeapa tangkai mawar putih yang ukurannya lebih kecil. Pandanganku tertuju pada amplop yang terselip, dan segera meraihnya. Saat kubuka, yang pertama kulihat adalah kartu kredit milikku, kemudian secarik kertas tebal dengan ornamen bunga-bunga di sudutnya. Aku membaca kata-kata yang tertulis di sana.
For: My dearest Busty Lady.
Dan tiga huruf yang sebelumnya pernah kulihat terbubuh di bawahnya.
Ald.
Segera saja, sebuah lintasan memori di malam panas itu hadir dalam ingatanku. Tanpa kuinginkan menimbulkan golakan di dalam perutku. Jantungku berdebar lebih kencang ketika menyadari ada pria lain yang pernah bercinta denganku selain Bram. Dan anehnya, debaran itu terasa menyenangkan.
Aku memasukkan kartu kreditku ke dalam dompet tanpa ada keinginan untuk memeriksa berapa yang sudah ditarik oleh pria itu dari sana. Tidak ada yang perlu kukhawatirkan soal uang. Warisan dari orangtuaku sendiri bisa untuk membiayai kehidupanku sampai tujuh turunan, belum lagi penghasilanku selama bekerja dengan mertuaku.
Hari itu, aku bekerja seperti biasa. Papa mertuaku sempat berkunjung untuk memastikan aku baik-baik saja setelah kejadian kemarin, tentu saja aku berakting semua dalam keadaan baik, tanpa menyinggung apa yang sudah dilakukan Bram padaku.
Bram sendiri tetap bekerja. Penampilannya jauh dari rapi, wajahnya seperti pria yang habis begadang semalaman. Aku melihatnya saat dia melintas di depan ruanganku.
Begitu mendekati sore, aku menghubungi Lilian, memintanya datang ke ruanganku. Tidak sampai lima menit wanita itu sudah berada di hadapanku. Lilian sekretaris papa mertuaku yang ditugaskan membantu sampai aku punya sekretaris baru. Meski selalu bersikap profesional, dia termasuk dekat denganku. Andai saja boleh, aku akan memintanya menggantikan Viona. Sayangnya papa mertuaku sudah terlanjur sayang dengannya. Tidak salah karena dia pekerja yang energik dan cekatan.
“Tolong rekomendasikan tempat gym terbaik di sekitar sini, Li,” kataku sambil masih terfokus pada laptopku.
Sementara aku sibuk dengan pekerjaanku, Lilian mulai mencari melalui smartphone-nya.
“Aku benar-benar butuh sekretaris baru secepatnya,” gumamku lebih pada diriku sendiri.
“Ya, Bu. Anda sangat membutuhkannya,” senyum Lilian. Kemudian dia menunjukkan layar smartphone-nya padaku. “Sepertinya ini bagus, Bu,” ujarnya.
Tanpa melihat aku menjawab, “Okay, tolong atur saja, Li. Aku mau mulai sore ini juga.”
Lilian mengangguk.
“Dan pastikan aku memiliki instruktur terbaik mereka,” lanjutku sambil mengangkat telunjuk sesaat.
Lilian kembali mengangguk, mengetikkan sesuatu pada smartphone-nya. “Sudah, Bu. Ibu akan bertemu dengan….” Dia melirik kembali layar ponselnya. “…Pak Leon. Leon Alden.”
“Okay,” sahutku pendek.
Kemudian perhatianku teralih pada suara ketukan di pintu. Aku menoleh, melihat Aldebaran berdiri di depan ruanganku dengan sopan sambil membawa kopi yang aku pesan.
Aku mengangguk memberinya izin.
“Kamu mau sesuatu, Li?” tanyaku saat Aldebaran meletakkan cangkir kopi di atas meja.
Lilian menggeleng, aku melihatnya memperhatikan Aldebaran hingga pria muda itu berlalu dari ruanganku.
“Kamu naksir dia?” tanyaku menyelidik.
Wanita itu tidak menjawab, terlihat sekali tidak mendengar pertanyaanku.
“Li.”
“Eh, iya … Bu?” Lilian menjawab gugup.
Aku mengulas senyum penuh arti. “Kamu naksir Aldebaran ya?”
Mata sipit wanita di depanku melebar hingga terlihat lucu. “Tidak sama sekali, Bu,” jawabnya dengan wajah merah.
“Terus kenapa kamu memperhatikan dia sampai tidak mendengarku?” senyumku melebar.
“S-saya cuma kasihan sama dia,” jawab Lilian terbata, dengan menahan senyum malu.
“Kasihan? Kenapa?”
“Maksud saya, dia berpendidikan tapi mau saja jadi office boy di sini. Tapi memang zaman sekarang mencari pekerjaan itu susah, lulusan S1 seperti Aldebaran pun tidak bisa mendapatkan pekerjaan kantoran.”
“Hmm … begitu ya,”gumamku sambil menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. Pandanganku menerawang, sebuah pemikiran terlintas dalam benakku begitu saja.
Bersambung....