Praaaang! Aku menghela napas, sepertinya suara benda pecah sudah menjadi musik rutin pagi hari di rumah ini. Namun tak urung aku segera menuju ruang makan, menemukan Delana yang sedang memungut pecahan keramik dengan tangan gemetar. “Biar Mama saja, Delan.” Aku mengatakannya dengan sangat pelan, tapi masih saja pria muda itu tersentak kaget hingga yang aku khawatirkan pun terjadi, tangannya tergores beling. Delana melihat darah keluar dari telapak tangannya berteriak ngeri sambil mengibas-ngibaskan tangannya. “Nggak apa-apa, nggak apa-apa, cuma tergores,” kataku sambil membawa Delana ke wastafel dapur dan mencuci lukanya. Teriakan Delana makin keras. “Ada apa?” “Stop! Tetap di situ, Deolina!” tahanku dan membuat gadis itu berhenti tepat di depan serakan pecahan piring keramik. “Kamu

