Penutup

291 Kata

Lima belas tahun kemudian. Air mata jatuh di atas pipiku, bibirku menyunggingkan senyum lebar, melirik suamiku yang juga sedang tersenyum dengan pandangan lurus ke depan. Menyaksikan Deolina dan Angkasa mengucapkan janji pernikahan, hatiku terasa sesak oleh haru dan perasaan hangat yang membahagiakan. Saat janji pernikahan itu selecai diikrarkan dan diakhiri dengan kedua mempelai yang saling mencium, kami semua bersorak senang. Menghambur ke arah kedua orang yang sedang berbahagia dan mengucapkan selamat. Leon merengkuh pundakku, mengecup samping kepalaku penuh haru. “Akhirnya putri kita menikah juga,” bisiknya. “Ya, dengan Angkasa, musuh bebuyutannya sejak SMP,” kekehku geli sekaligus haru. Teringat butuh waktu hampir tujuh belas tahun untuk kedua anak manusia itu menyadari arti cinta

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN