Bab 2. Kembali

1044 Kata
Suasana di bandara Soekarno-Hatta sudah hiruk pikuk, padahal waktu masih dini hari. Kupandang suasana di sini, tak banyak yang berubah dari bandara ini dari enam tahun yang lalu. Bedanya dulu aku pergi hanya dengan Almira dan bayi dalam kandunganku. Kini aku kembali dengan Almira dan Athar. Putra yang dulu ada dalam rahimku. Ada gelisah di hatiku, keringat dingin sudah mulai membasahi pelipisku karena gugup. Almira menatapku seakan mengetahui ketakutanku. Dia menggenggam tanganku, mengirimkan kehangatan dan ketenangan yang kubutuhkan. "Terima kasih, aku memang gugup sekali," ucapku penuh terima kasih. Dia membalas dengan senyuman. Cantik. Almira tak hanya cantik wajah, namun juga cantik hatinya. Kepulangannya karena khitba seseorang untuknya. Seseorang yang katanya memang cinta masa kecilnya. Semoga dilancarkan untuk segala urusannya. Amin. "Tenanglah," bisiknya. "Oh iya Al, kita beneran dijemput nih?" tanyaku celingukan sekiranya orang yang menjemput kami sudah tiba. "Bunda, Athar masih ngantuk," rengek putraku sambil menarik gamisku pelan. Aku duduk berjongkok menyamakam tinggi kami. Kubelai lembut wajah mengantuknya dengan sayang. Mirip siapa kamu, Nak? Maafkan Bunda yang tak pernah bisa menjawab pertanyaanmu tentang Ayah, sungguh Bunda tak mengenal siapa Ayahmu, maafkan Bunda. Dengan lembut kugendong putraku. "Assalamu'alaikum," sapa seseorang di belakangku. Suara itu. Mataku membola tak percaya. Suara yang selalu menghantui setiap mimpi burukku. Suaranya mirip suara seseorang. Seakan aku mengenal suara itu. Dengan tergesa kubalikkan tubuhku. Karena tergesa hampir saja aku terjerembab, untung saja Almira menahan tubuhku. "Wa'alaikum salam, akhwan," balas Almira. Aku hanya membalas salamnya dengan lirih. Seorang lelaki tampan dengan kemeja berwarna biru tersenyum dengan ramah. Aku menatap lelaki itu penuh selidik. Apa lelaki ini? Namun segera kuenyahkan prasangka bodohku. Begitulah reaksiku setiap menemui lelaki dengan suara mirip lelaki yang sudah merusak masa depanku. Aku bahkan tak punya pandangan seperti apa wajahnya. Hanya suara desahan dan geramannya saja yang kuingat. Atau pangilan sayangnya saat dia mendapatkan klimaksnya. "Mari ukhti," ujar lelaki itu tanpa mau menatap ke arahku. Pandangan matanya hanya tertuju pada Almira. Pasti lelaki ini, orang yang menghitba Almira. Alhamdulillah, semoga Almira mendapat jodoh terbaik untuk dunia dan akhiratnya, Amiin. Doaku tulus. Kulirik Almira, sahabatku itu hanya menunduk malu. Duh, baru kini aku melihat sahabatku itu malu-malu meong. Lelaki itu berjalan mendahului kami dengan membawa barang kami yang sudah disusunnya di troli. Lelaki yang bertanggung jawab. Almira menatapku, kukedipkan sebelah mataku menggodanya. Dan pukulan lembut di lenganku sebagai balasannya. Kami tersenyum berdua. Alhamdulillah, bahagia itu sederhana. Kita hanya perlu bersyukur atas semua nikmat yang sudah Allah berikan, maka Allah akan menambah nikmat-Nya. Percayalah akan janji Allah, sesungguhnya Allah tak pernah ingkar janji.   ***   Aku duduk di kursi belakang dengan Athar di pangkuanku, sedang Almira, tentu saja di depan menemani calon tunangannya. Mobil Espander warna hitam milik lelaki yang belum kutahu namanya—meluncur dengan pelan membelah kota Jakarta—yang selalu macet. Jakarta, sudah enam tahun aku meninggalkan kota kelahiranku ini. Bukan hanya demi menuntut ilmu, namun juga melarikan diri. Kegelisahanku kian menyesakkan dadaku kala tempat tujuanku kian dekat. Berbagai macam pertanyaan berputar di kepalaku. Apa Ayah dan Bunda akan menerima kehadiran Athar? Bagaimana kalo mereka tidak mau menerima anakku? Allah... Allahumma inni as-aluka nafsaan bika muthmainnah, tu'minu billiqooika'watardhoo bi qodhooika wataqna'u bi'athooika (Ya Allah, aku memohon kepadaMu, jiwa yang merasa tenang kepadaMu, yang yakin akan bertemu denganMu, yang ridho dengan ketetapanMu dan yang merasa cukup dengan pemberianMu), rapalku dalam hati berharap hanya keihklasan yang akan Allah berikan kepadaku, apapun reaksi keluargaku. Ya Allah, biarlah yang akan terjadi terjadilah... Berilah hamba kekuatan dalam menghadapinya... Ya Allah, hamba hanyalah UmatMu yang hina, tak ada daya dan upaya hanya karenaMu. Lembutkanlah hati kedua orangtua hamba, hingga mereka mau menerima kehadiran Athar dalam kehidupan mereka. Amiin. Berbagai macam bacaan kupanjatkan demi menenangkan kegundahanku. Tak kudengar dan kuabaikan interaksi antara Almira dengan calon tunangannya itu. Selain tak mau mengganggu, juga karena aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Kami sudah berada di komplek rumah keluargaku. Jantung-ku kian kencang bertalu. Keringat dingin kian deras mengucur dari pori-poriku. Tubuhku serasa melemas. Ya Allah, beri hamba kekuatan dalam menghadapinya. Tak mungkin hamba berlari terus dan menutupi adanya Athar dari keluargaku. Mereka layak tahu, begitupun anakku. Dia berhak bertemu dengan keluargaku. Ya Allah, semoga mereka bisa menerima Athar. Amiin. Mobil berhenti tepat di depan pagar rumahku. Tepatnya rumah kedua orang tuaku. Rumah itu masih sama seperti enam tahun yang lalu saat aku berpamitan untuk kuliah ke Kairo, namun bukannya ke Kairo aku malah pergi ke Boston dan selama enam tahun menetap di sana. Cat rumahnya masih putih dengan pagar bercat putih dengan ornamen gold di tiap detailnya. Tak ada yang berubah kecuali pohon mangga yang tumbuh kian rindang membuat asri rumah, serta beberapa tanaman yang baru kulihat. Bunda memang pecinta tanaman, jadi tak heran rumah dihiasi dengan beraneka jenis tanaman. Baik aneka tanaman buah maupun aneka bunga. "Sudah siap?" tanya Almira, dapat kulihat ada sedikit kekhawatiran terpancar dari wajahnya. Aku hanya mengangguk dan berusaha memberikan senyuman menenangkan padanya. Ya Aku harus siap menghadapi semuanya. Apa yang harus kutakutkan? Hanya Allah yang berhak. KarenaNya pemilik semesta alam dan isinya. "Ingat, kalau mereka menolak Athar, kau bisa meng-hubungiku. Aku selalu ada untukmu," janji Almira penuh tekad. "Terima kasih, dan maaf ya aku selalu merepotkanmu," ucapku serba salah. "Hei, kayak sama siapa aja," ujarnya sambil ikut turun dari mobil. Dengan menggendong Athar yang masih tertidur aku berhasil keluar dari mobil dengan bantuannya. "Huuh, anaknya Bunda ternyata sudah makin berat," ujarku sambil mengecup pipi tembem putraku yang masih setia terlelap dalam mimpinya. Almira memeluk kami sambil berbisik, "ingat jangan menyimpan masalahmu sendiri, ada aku." "Iya tenang saja," seruku karena dia sudah masuk kembali ke dalam mobil. Dia melambaikan tangan ke arahku sebelum mobil mereka berlalu. "Assalamu'alaikum, kuharap aku tidak merepotkanmu lagi. Semoga," bisikku. Entah karena terburu-buru atau apa sahabatku itu sampai lupa mengucapkan salam. Aku kembali menatap ke arah rumahku. Begitu sunyi, seakan tak ada penghuninya. Apa mereka pergi? Entah kenapa aku berharap mereka tak ada di rumah. Namun mungkin karena mendengar ada bunyi mobil di depan rumah, sang penghuni rumah memeriksa ke luar. Saat itulah aku melihat wanita yang sudah melahirkanku menatapku tak percaya. Berulangkali Bunda mengucek matanya, hingga senyuman terbit di bibirnya yang masih merah. "Safira!" teriaknya sambil berlari menghambur ke arahku. Namun langkahnya berhenti saat pandangannya mengarah ke Athar. Apa Bunda tak mau menerima putraku? Fira mohon Bunda, jangan menolak putraku, Fira mohon, rapalku dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN