“Kalau begitu, jadilah pacarku kalau memang kamu masih sendiri. Aku sudah jatuh cinta sama kamu sejak pandangan pertama, Arumi.”
Arumi balik menatap Rangga dengan tatapan serius. “Aku mau menyelesaikan kuliahku dahulu baru setelahnya aku akan memikirkan tentang hubungan asmara. Aku mau menyelesaikan kuliah dan menjadi orang sukses dengan kerja kerasku. Agar aku bisa melanjutkan cita-cita almarhum kedua orang tuaku.”
“Aku akan mendampingi kamu sampai kamu bisa mewujudkan cita-cita almarhum kedua orang tua kamu.”
***
Suasana restoran hari ini tidak terlalu ramai. Mungkin karena bukan akhir pekan. Oleh karena itu Arumi bisa sedikit bersantai sambil menyandarkan punggungnya di depan pintu masuk restoran. Tugas Arumi hari ini adalah sebagai penerima tamu dan juga yang memberikan menu pada pengunjung. Rangga memberikan tugas yang sedikit santai pada Arumi juga karena Arumi baru sembuh dari sakitnya.
Dari kejauhan Arumi melihat sepasang lelaki dan perempuan yang berjalan mendekat ke arahnya. Senyum Arumi langsung terkembang setelah mengetahui siapa mereka.
“Lia! Lio!” teriak Arumi sambil melambaikan tangannya.
Adelia dan Adelio pun membalas lambaian tangan Arumi. Kemudian Adelia terlihat menarik kakak kembarnya itu berlari menghampiriku.
“Rumiii!!” Adelia melompat memeluk diriku.
“Duh Lia, jangan peluk-peluk gitu dong! Kan malu kalau dilihat pengunjung yang lain!” seru Arumi seraya melepaskan tangan Adelia yang melingkar di lehernya.
“Kalau aku yang peluk, kamu malu juga gak Rumi?” goda Adelio.
“Ya apalagi dipeluk sama kamu! Bisa bikin salah paham nantinya!”
“HAHAHAHA!!”
Mereka bertiga tertawa serempak. Namun tiba-tiba tawa Adelio terhenti saat melihat tanda di leher Arumi. Kerah seragam Arumi masih belum bisa menutupi tanda merah keunguan itu.
“Rumi!” seru Adelio.
“Ya?”
Adelio langsung meletakan tangannya pada tanda di leher Arumi. Adelio pun menatap Arumi dengan tajam, mempertanyakan tanda apa yang ada di lehernya tersebut.
Arumi segera menyingkirkan tangan Adelio lalu menutupi tanda merah keunguan dengan tangannya sendiri.
“A—anu, ini…”
“Devandra?” tanya Adelio.
Arumi mengangguk membenarkannya. Adelio mengepalkan kedua tangannya berusaha menahan cemburu yang langsung bergejolak. Adelio tidak menyangka jika Devandra dengan beraninya meninggalkan kissmark di leher Arumi. Dan juga mengapa Arumi membiarkan Devandra melakukan itu padanya?
Melihat perubahan raut wajah dari kakak kembarnya, Adelia menarik tangan Adelio untuk masuk ke dalam restoran. Adelia pun meminta Arumi untuk melayani mereka berdua dengan baik.
Arumi memilihkan tempat yang bersebelahan dengan jendela kaca, jadi mereka berdua bisa menikmati pemandangan di luar restoran. Adelio membungkam mulutnya saat Arumi menanyakan menu yang ingin mereka makan. Namun Adelia dengan sangat pintar menjawab Arumi dan tidak membiarkan Arumi merasakan keanehan dari sikap kakak kembarnya tersebut.
“Lio..” panggil Adelia saat Arumi sudah tidak bersama dengan mereka.
“Hmm..”
“Kamu kenapa sih? Kok jadi bad mood gitu?”
Adelio mengerlingkan matanya pada Adelia. Dia enggan menjawab sang adik karena nanti adiknya itu akan dengan jelas mengetahui perasaannya pada Arumi.
“Kamu gak perlu nutupin itu, Lio!” seru Adelia.
“Maksudnya?” Adelio menatap bingung sang adik.
“Aku udah tahu kok kalau kamu sebenarnya suka sama Rumi. Tapi kan Rumi sudah menikah, kamu gak boleh merusak pernikahan mereka.”
“Tapi mereka masih merahasiakan pernikahan mereka, dan juga perjanjian mereka hanya berlaku sampai Arumi lulus kuliah kan?”
Adelia mengernyitkan dahinya, “Lalu maksud kamu?”
“Setelah Arumi lulus nanti, aku gak akan biarkan mereka tetap hidup bersama. Devandra terlalu egois membiarkan pernikahan mereka menjadi sebuah rahasia hanya demi karirnya.”
“Kamu gak boleh gitu! Arumi juga kan masih mau fokus kuliah! Gak sepenuhnya salah Devandra kalau mereka merahasiakan pernikahan mereka!”
“Apa? Arumi? Devandra? Maksud kalian siapa?”
Tiba-tiba Sasha mencuri dengar perbincangan Adelia dengan Adelio dan menanyakan siapa yang dimaksud. Adelia dan Adelio pun terkejut dan langsung menghentikan perbincangan mereka tentang Arumi dan Devandra.
“Eh, kamu siapa?” tanya Adelia.
“Aku pelayan disini, mau naruh minuman di meja sini. Maaf kalau aku sudah ikut-ikutan. Aku hanya kaget nama Arumi yang kalian bicarakan sama dengan Arumi pelayan disini juga!”
“Sha, kok bengong! Minumannya ditaruh di meja!” dari belakang Arumi menegur Sasha.
“Oh iya, sekalian kenalin. Ini Adelia dan itu Adelio. Mereka berdua sahabatku dari kecil. Mereka kembar loh! Hehehe..”
Arumi memperkenalkan Sasha pada si kembar. Namun raut wajah Sasha langsung berubah dan mengingat permbicaraan yang didengarnya barusan.
“Eh, hmm.. Kamu jangan salah paham dengan apa yang kami bicarakan tadi ya! Aku ini penulis novel online, dan tadi itu aku lagi ngobrolin karakter di dalam novelku. Saking serunya jadi terdengar seperti betulan ya?” Adelia mencoba membuat Sasha percaya jika dia adalah penulis novel online.
“HAHAHAHA!!”
Adelio tertawa mendengar jika sang adik adalah seorang penulis novel online. Dia tak bisa menahan tawanya. Adelia mencubit tangan Adelio yang ada di atas meja. Memintanya untuk berhenti tertawa.
“Iya, iya benar! Dia memang penulis novel online! Maaf aku ketawa karena merasa lucu jika da yang percaya dengan yang dia katakan tadi!”
“ADELIO!!” sentak Adelia.
Namun pada akhirnya Sasha mempercayai ucapan Adelia dan menganggap jika Adelio tertawa karena Sasha mempercayai perbincangan mereka. Padahal Adelio tertawa karena Adelia mengaku jika dirinya adalah penulis novel online.
“Maaf ya aku sudah salah paham!” seru Sasha.
“I—iya gak apa-apa!” jawab Adelia.
Kemudian Sasha pun pergi setelah meletakan minuman untuk si kembar. Arumi menatap Adelio dan Adelia secara bergantian. Kemudian Arumi berkata, “Aku baru tahu kalau Adelia itu nulis novel online! Memangnya benar?”
Adelio kembali tertawa, “Hahahahaha!! Kamu percaya Rumi?”
“Lio udah deh! Ini juga kan gara-gara kamu aku jadi bohong gitu!” seru Adelia.
“Tapi gak apa-apa sih, jadinya kan Lio ketawa. Moodnya jadi bagus lagi gak kayak tadi!”
“Eh, kamu tahu ya Rumi kalau si Lio bad mood tadi?”
“Ya tahulah, Lia! Kita kan sahabatan udah dari kecil! Kalian berdua gak bisa menutupi apapun dari aku!”
Adelio langsung menatap Arumi yang sedang tersenyum ke arahnya. Debaran di jantungnya menjadi tak beraturan hanya karena Arumi memberi perhatian padanya. Padahal perhatian itu memang karena mereka bertiga adalah sahabat dari kecil. Namun sedikit berbeda untuk Adelio, dia merasa Arumi benar-benar mengerti akan dirinya. Hal itu membuat Adelio semakin menginginkan Arumi menjadi miliknya.
***
“Bos Dave, setelah pemotretan selesai kita langsung ke lokasi syuting ya!” kata Ghani sambil melihat jadwal padat Devandra di tabletnya.
“Lokasi syuting? Kita bakal pulang malam ya?”
“Iya, Bos! Ini kan sinetron kejar tayang, jadi kalau bisa sekali syuting itu dikebut untuk 2 sampai 3 episode, Bos!”
“Si Arumi pulang malam juga gak?” Devandra malah menanyakan Arumi pada Ghani.
“Kalau itu saya gak tahu, Bos! Karena Non Arumi gak pernah kasih jadwalnya sama saya!” jawab Ghani.
“Kok lo gak tahu mulu sih kalau gue tanyain tentang Arumi!”
“Yak an saya gak pegang jadwalnya Non Arumi, Bos! Kenapa Bos Dave gak tanya langsung saja sama Non Arumi? Kan Bos Dave bisa langsung telepon dia!”
“Gak mau! Gengsi dong kalau gue telepon dia duluan!” jawab Devandra seraya menyandakan punggungnya di kursi denga tangan dilipat.
“Ah, Bos Dave mah gede gengsinya! Malu-malu kucing juga!” sindir Ghani.
“Apa lu bilang tadi?!”
“Eh, enggak Bos! Gak bilang apa-apa kok!”
Tak lama kemudian Devandra menyelesaikan pemotretannya dan langsung menuju ke lokasi syuting. Di sana Quinsha sudah menunggu Devandra di ruang tunggunya.
“Hai, Dave! Aku udah nungguin kamu loh!” sapa Quinsha saat Devandra masuk ke ruang tunggu bersama Ghani.
Devandra menoleh pada Ghani, “Ghan, kita gak salah ruangan?” tanya Devandra berbisik.
“Enggak kok, Bos! Benar ruang tunggu kita disini!”
“Terus kenapa ini cewek ada disini?” lanjut Devandra berbisik.
“Mungkin dia emang udah nungguin Bos Dave!”
“Dave, kamu bisa tanya langsung aja sama aku! Asisten kamu juga kan gak tahu kenapa aku disini!” sahut Quinsha.
“Sorry, bisa keluar dari sini? Aku mau ganti baju!” titah Devandra dengan dingin.
“Aku udah lama nungguin kamu loh! Kok kamu malah ngusir aku?”
“Gak ada yang nyuruh kamu nunggu disini! Awas! Gue mau ganti baju!” Ucapan Devandra menjadi kasar pada Quinsha.
Dengan raut wajah kesal Quinsha melangkah pergi dar ruang ganti Devandra. Dia menuju ke tempatnya seharusnya sambil menggerutu kesal. “Dasar Dave! Dia masih aja nolak gue! Apa pesona gue masih kurang memikat dia ya? Gue gak mau tahu pokoknya gue bakalan bikin lo bertekuk lutut sama gue Dave!”
Saat di hadapan kamera, Devandra dengan lihai memainkan perannya sebagai pemuda bernama Raja, pemuda sederhana yang mengejar cinta Ratu yang diperankan oleh Quinsha.
“Ratu, lihat kemari! Semua ini sudah aku siapkan untuk ulang tahun kamu!” kata Devandra yang berperan sebagai Raja. Kemudian Devandra menunjukan sebuah lukisan wajah Quinsha di sebuah kanvas kecil. Quinsha tersenyum melihat lukisan dirinya.
“Itu kamu yang melukisnya, Raja?”
“Tentu saja! Kamu selalu memenuhi pikiranku, Ratu! Oleh karena itu aku membagi pikiranku di atas kanvas ini, dan menunjukan betapa aku sangat mencintaimu Ratu!”
Devandra mengucapkan dialognya dengan menyunggingkan senyum dan juga sorot mata penuh cinta. Hati Quinsha bergejolak mendengar pernyataan cinta dari Devandra seperti itu. Quinsha tahu ini semua hanyalah acting. Namun hati Quinsha menganggap semua itu sebagai ungkapan nyata Devandra.
“Ratu, maukah kamu menerima cintaku sekarang?” Devandra melanjutkan dialognya.
Quinsha mengangguk dengan tersenyum simpul. Kemudian Quinsha maju beberapa langkah lebih mendekat pada Devandra. Quinsha melingkarkan tangannya di leher Devandra lalu mengecup cepat bibir Devandra.
“Aku juga cinta sama kamu!” katanya kemudian.
“CUT!! Good job Dave, Quisha! Improvisasi yang luar biasa!” seru sang sutradara.
Tatapan penuh cinta Devandra tadi seketika berubah menjadi tatapan dingin dan sinis. Devandra menyingkirkan tangan Quinsha dengan kasar.
“Gak ada adegan ciuman di skenario!” kata Devandra dengan sinis.
“Dave! Kamu harus bisa berimprovisasi! Penonton akan lebih suka dengan sesuatu yang mengikuti alur yang mereka mau dibanding terpaku dengan skenario! Buktinya sutradara saja suka dengan improvisasi kita tadi kan?”
Devandra melangkah meninggalkan Quinsha yang tersenyum puas dengan improvisasi aktingnya tadi. Devandra tahu jika dia harus berimprovisasi saat berakting. Namun jika dicium tiba-tiba seperti tadi Devandra sangat tidak menyukainya. Bahkan berciuman di depan kamera juga tidak harus sampai bibir mereka benar-benar bersentuhan.
Devandra kembali ke ruang gantinya dengan perasaan kesal. Ghani sampai tak berani untuk berbicara padanya terlebih dahulu.
“Dasar artis yang suka cari sensasi! Berani-beraninya dia cium gue! Melenceng dari skenario!” seru Devandra dengan kesal.
“Kita lihat nanti, gua bakal berimprovisasi sesuai dengan yang dia mau!” Devandra tersenyum miring. Sepertinya Devandra merencanakan sesuatu untuk membalas Quinsha.
Ghani menyibukan diri merapihkan barang-barang Devandra. Dia takut Devandra memarahinya jika dia salah menjawab. Namun ternyata Devandra malah kesal karena Ghani tidak memberikan respon apapun padanya.
“Woy, Ghan! Kok malah diam aja!”
“A—anu Bos, saya takut salah ngomong!”
“Ya makin salah kalau gak ngejawab!”
“Bos Dave mah hobinya marahin saya mulu! Lagian kalau tadi Quinsha cium Bos Dave juga kan cuma akting aja! Bos gak boleh kebawa perasaan gitu!” Ghani geram.
“Ya gak boleh dong, Ghan! Bibir gue ini cuma buat Arum aja! Gak boleh ada cewek lain yang cium gue selain Arumi!”
“Memangnya Non Arumi pernah cium Bos Dave duluan?” tanya Ghani. Devandra menjadi kikuk dan salah tingkah dengan pertanyaan Ghani barusan.
“Belum pernah kan Bos! Ya udah anggap aja tadi latihan kalau-kalau Non Arumi cium Bos Dave duluan! Hehehe.” Ghani terkekeh.
“Lo ngeledek ya!” sentak Devandra.
“Enggak Bos! Tuh kan Bos Dave emosian aja sih jadi orang!” Ghani mengelak.
“Okay, suatu saat gue akan bikin Arumi cium gue duluan!” tekad Devandra.
“Yakin Bos? Nanti ditendang gak sama Non Arumi?”
“Lo dukung gue dong Ghani! Kok lo malah jatuhin semangat gue sih!”
Ghani tertawa melihat reaksi Devandra. Ghani pun sangat yakin jika Arumi tak akan pernah mencium Devandra duluan. Ghani dan Devandra akhirnya bertaruh apakah Devandra berhasil membuat Arumi menciumnya duluan atau tidak.