Pagi menjelang siang Devandra baru keluar dari kamarnya. Dia melangkahkan kakinya sambil menahan rasa sakit yang tersisa pada bagian sensitifnya itu ke ruang makan. Sesampainya di sana, Devandra berdiri di samping meja makan. Menatap ke arah makanan yang disiapkan untuknya di meja. "Mbok, ini cuma untuk saya? Untuk Arumi mana?" tanya Devandra pada seorang pelayan yang datang membawakan segelas s**u. "Non Arumi sudah berangkat pagi tadi, Tuan," jawab si pelayan tersebut. Mata Devandra langsung mencari jam yang menempel di dinding ruangan. Lalu dia menepuk dahinya pelan karena baru menyadari jika hari sudah mendekati siang. Bahkan seharusnya sudah bukan lagi waktunya untuk sarapan. Namun, apa boleh buat. Perutnya sangat lapar dan dia butuh tenaga untuk syuting hari ini. Juga tenaga untu

