Dengan langkah tergesa-gesa Fadli berjalan menaiki satu persatu anak tangga, ia sudah tidak sabar ingin melihat istrinya dan menjelaskan semuanya yang ia rasa perlu dijelaskan sekarang. Ia tidak mau Dira terus-terusan berpikir yang tidak-tidak lalu berakhir lagi dengan perpisahan yang bisa membuat keduanya terluka. Membuka pintu kamar, kedua sudut bibir Fadli tertarik membentuk senyuman ketika melihat Dira tengah bersender di senderan tempat tidur dengan laptop yang berada di pangkuannya. "Serius amat. Lagi ngapain?" Tersentak kaget, Dira mengalihkan pandangan ke sumber suara dan mendapati suaminya yang sedang menutup pintu kamar. Laki-laki itu terlihat tersenyum. Senyum hangat dan tulus yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dari nada bicaranya tadi, terdengar lembut, tidak seperti bias

