Chapter 1

1323 Kata
"Ya ampun, cantiknya calon menantu." Suara yang terdengar begitu antusias itu membuat kepala Dira yang tadinya menunduk jadi mendongak. Di sana, di ruang tamu, terlihat seorang wanita paruh baya yang segera beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki menghampirinya. Melihat hal itu, membuat Dira jadi semakin gugup. Calon mama mertuanya sepertinya tipe-tipe emak-emak rempong dan gaul jika dilihat dari penampilannya yang cetar membahana, badai mempesona, ulala manjalitah kayak Lucinta Luna. Dira kembali menunduk, jantungnya tuing-tuing. Sumpah, ia masih belum siap bertemu dengan laki-laki yang akan dijodohkan dengannya. Bukan apa-apa, ia hanya takut laki-laki itu tidak sesuai ekspektasi-nya. Ia takut laki-laki itu memiliki penampilan yang b***k, dekil, banyak jerawat, ada tompel, bogel, bau ketek, giginya tonggos, ia takut itu. Karena, standar laki-laki idaman Dira itu model-modelan Jaehyun NCT, Sehun EXO, Mas duda hot Song Joong Ki, dan Mas duda ganteng Wei Zhe Ming. Model-modelan seperti itu yang ingin Dira jadikan sebagai suaminya. Jantung Dira kembali tuing-tuing, jumpalitan, jungkir balik begitu telinganya mendengar suara yang familiar di telinganya. Suara itu, terdengar dari pintu utama. Suara laki-laki menyebalkan yang selama ini selalu ia sumpahi menjadi bujang tua. Karena penasaran, kepala Dira refleks menoleh ke arah pintu utama. Di sana, diambang pintu, ia mendapati seorang laki-laki bertubuh tegap dengan tuxedo berwarna hitam yang melekat sempurna di tubuhnya. Laki-laki itu terlihat menunjukkan senyum, dan perlahan berjalan masuk ke dalam. "Maaf saya telat. Tadi ada urusan mendadak," ujar laki-laki itu dengan sopan. Mata Dira membulat. Laki-laki sok cool yang baru saja masuk ke dalam rumahnya itu adalah bosnya, si cucu iblis anak dajjal yang selalu bisa membuatnya naik darah. Dia, Ahmad Fadli Kurniawan, CEO di perusahaan tempat Dira bekerja. CEO yang sombong dan angkuhnya nggak ketulungan. Yang hampir setiap hari ia sumpahi menjadi bujang tua. Masih memperhatikan bosnya itu, tiba-tiba Dira mengerjap-ngerjapkan matanya begitu mengingat sesuatu. Jangan bilang kalau... si Fadli ini yang akan dijodohkan dengannya. Tanpa sadar, mata Dira melotot begitu pandangannya tidak sengaja bertemu dengan pandangan laki-laki itu. "Pak Fadli ngapain kesini?" Dira bertanya dengan nada ketus. Laki-laki di seberang sana tampak membenarkan posisi duduknya, berdehem sebentar kemudian menjawab, "Mau ngelamar kamu." "HAH?!" "Andira!" tegur Heru dengan mata yang memelototi anak bungsunya. Tiana yang berdiri di samping Dira, mencubit pelan punggung putrinya, hingga membuat Dira sedikit meringis. "Yang sopan. Jangan bikin malu." Dira mendengkus, lalu kembali melangkahkan kakinya menuju kursi dengan dua wanita paruh baya yang menggandengnya. Begitu bokongnya sudah mendarat di kursi, tatapannya terus tertuju pada bosnya yang terlihat sok cool itu. Hih, ingin sekali rasanya Dira minggat dari sini sekarang juga karena tidak tahan melihat wajah laki-laki menyebalkan itu. "Langsung aja, ya." Pria paruh baya yang duduk di samping bosnya membuka suara. "Kedatangan kami kemari, dengan niat dan tujuan yang baik. Saya, selaku orang tua dari anak saya, Fadli, datang kemari untuk melamar ananda Salsabila Andira Mahesa untuk menjadi pendamping hidup anak saya, Ahmad Fadli Kurniawan. Apakah ananda Dira, menerima lamaran ini?" Detik itu juga, ingin sekali Dira menjawab 'Tidak!' dengan lantang. Tapi begitu matanya melihat tatapan tajam ayahnya, membuat nyali Dira menciut. Lagi-lagi, ia harus pasrah dengan takdirnya. Dira menghela napas, kepalanya kembali menunduk. Mau bilang 'iya' tapi mulutnya enggan mengatakan itu. Tiana menyentuh punggung tangan Dira. "Dira? Gimana, Sayang? Ayo jawab." Kepala Dira kembali mendongak. Matanya menjelajah, melirik satu persatu manusia-manusia yang berada di sekelilingnya. Dengan tangan tremor, dan mulut gagap, Dira menjawab, "Sa-saya... saya... anu... ehm." Jeda sebentar, satu tangannya menggaruk tengkuk lehernya dengan kepala yang menoleh ke arah Bundanya. "Dira bingung, Bun. Bunda aja deh yang jawab," ucapnya, membuat beberapa orang yang ada disekelilingnya tertawa mendengarnya. "Kamu yang dilamar, kok malah nyuruh Bunda yang jawab," sahut Tiana sambil geleng-geleng kepala. "Jawab aja, Sayang. Terserah kamu mau terima atau nggak. Semua keputusan ada di tangan kamu. Kalaupun kamu tolak, Fadli nggak bakal gigit kamu kok," ucap Safita—ibunya Fadli. Iya, itu codot emang nggak bakal ngegigit gue. Tapi bokap gue yang bakal ngegigit gue. Batin Dira. Gadis itu hanya bisa cengar-cengir, sambil sesekali melirik ke arah Bundanya. "Jadi bagaimana? Nak Dira mau menerima lamaran ini?" Anton—ayah Fadli kembali mengulang pertanyaan yang belum dijawab oleh Dira. "Andira?" panggil Tiana dengan lembut. Dira yang tengah bengong langsung tersentak kaget. Dan mulutnya refleks menjawab dengan suara lantang. "Iya!" Semua orang terlihat menghela napas lega, sementara Dira hanya bisa planga-plongo. Otaknya masih loading. Kenapa semua orang terlihat menghela napas lega sambil tersenyum kepadanya? "Alhamdulillah. Sesuai kesepakatan, akad nikahnya akan dilaksanakan bulan depan, ya," kata Anton dengan menunjukkan senyum manisnya. Dira membelalakkan matanya. Astaga... ini... ini salah paham! Tadi ia mengatakan 'iya' untuk menjawab panggilan Bundanya. Tapi kenapa malah... arghh! Saat itu juga, ingin sekali Dira berteriak sekencang-kencangnya sambil membenturkan kepala ke tembok kuat-kuat. Ini salah paham Mahmud! *** "Hai calon istri." Sapaan itu keluar dari mulut Fadli. Laki-laki dengan pakaian formal itu melangkahkan kakinya mendekati Dira yang sedang duduk di bangku taman belakang rumahnya. "Kenapa ngelamun? Ngelamunin masa depan kita ya?" Dira mendelik menatap bosnya dengan tatapan sinis. "Enggak, saya lagi mikirin cara buat ngebunuh Bapak," sahut Dira dengan ketus. Fadli mengulum senyum, mendudukkan diri di samping Dira dengan pandangan yang terus menatap gadis di sampingnya ini. "Ah, masa? Emang kamu tega ngebunuh laki-laki ganteng kayak saya? Boro-boro berani ngebunuh orang, ngeliat cicak aja kamu langsung teriak-teriak." Dira mendengkus, tubuhnya berputar menghadap ke arah Fadli. Matanya menyipit, sambil bertanya, "Bapak kenapa mau-mau aja nerima perjodohan ini?" Bukannya menjawab, Fadli malah balik bertanya, "Kamu juga kenapa mau? Kenapa nggak nolak?" "Kalau nolak, yang ada saya di cincang ayah saya," jawab Dira. Kemudian, "Sekarang, giliran Bapak yang jawab pertanyaan saya. Kenapa mau-mau aja nerima perjodohan ini?" "Ya karena saya mau," jawab Fadli dengan santai. Dira menghela napas. "Mau kan ada alasannya. Alasannya apa mau sama saya?" Fadli mengulum senyum, kedua alisnya dinaik turunkan. "Ciee kepo~ mau tau nih, alasan saya kenapa mau sama kamu?" Laki-laki itu berdehem sebentar, kemudian melanjutkan, "alasannya, karena kamu cantik." Kontan kepala Dira langsung menoleh ke arah bosnya. Jawaban macam apa itu. Iya, dia tau dia cantik, bahkan sampai sering digodain satpam komplek karena saking cantiknya dia. Tapi... apakah laki-laki di hadapannya ini tidak bisa memberikan alasan lain? Cantik? Di dunia ini juga banyak yang cantik woi! "Selain itu, saya terima perjodohan ini karena tidak mau mengecewakan orang tua saya. Itu alasan saya mau dijodohkan dengan kamu," lanjut Fadli. Dira memiringkan tubuhnya, matanya menatap dalam-dalam manik mata bosnya. "Pak, Bapak serius mau nikah sama saya?" Fadli mengangguk. "Yakin? Nggak takut nanti nyesel? Saya ini orangnya suka ngabisin duit, lho. Sekali belanja kayak orang kesetanan. Apa aja diambil. Nggak takut jadi miskin kalo nikah sama saya?" Gelengan dari Fadli menjadi jawaban. "Enggak. Harta saya banyak. Justru saya malah senang karena ada yang membantu mengurangi jumlah uang saya," jawabnya santai dan tenang. Dira melongo. Bosnya ini sangat aneh. "Serius? Saya bisa aja lho, sekali belanja ngabisin duit satu miliar." "Saya nggak peduli." "Ngabisin satu triliun juga bisa. Saya yakin, belum ada seminggu Bapak nikah sama saya, pasti Bapak udah depresot karena duitnya saya abisin." Dira menunjukkan senyum setan. Ia yakin, laki-laki itu pasti akan mundur karena takut jatuh miskin. "Saya nggak peduli, Andira." Lagi-lagi Dira dibuat melongo. Benar. Bosnya ini sangat aneh. Jika orang-orang takut duitnya cepat habis, dan takut jatuh miskin, tapi bosnya ini, malah tidak takut, dan bodo-bodo amat. Kepala Dira menggeleng-geleng samar. Jika dengan ancaman tadi tidak berhasil, ia yakin pasti pengakuan yang ini akan membuat bosnya ilfeel dan mundur. Perlahan, Dira mencondongkan tubuhnya, bibirnya didekatkan ke telinga bosnya, lalu berbisik disana. "Bapak tau, kenapa saya masih jomblo sampai sekarang? Itu semua karena saya lesbi." Kedua sudut bibir Dira tertarik membentuk senyum setan. Ahay! Ia yakin, yakin seyakin-yakinnya laki-laki itu akan membatalkan perjodohan ini. Tubuh Dira kembali mundur, menjauh dari tubuh bosnya. Dan, hal pertama yang ia lihat adalah wajah terkejut bosnya. Sip! Seratus persen laki-laki itu pasti ilfeel padanya. Setelah cukup lama diam tak bersuara, akhirnya Fadli membuka suara, "Saya tidak peduli. Mau kamu lesbi atau tidak, saya tetap akan menerima perjodohan ini dan akan tetap menikahi kamu." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN