Berbunga-bunga, Dira terus cengar-cengir sedari tadi tanpa memperdulikan tatapan horor orang-orang di sekitarnya. Masa bodo mau dikira gila atau semacamnya. Ia tidak peduli itu. Hatinya sekarang sedang berbunga-bunga. Demi apa semalam mamas suami bersikap romantis padanya setelah selesai drama mewek-mewek mbak jurig ulala. Kantong plastik yang berisikan tiga gelas boba ditenteng Dira dengan langkah kakinya yang ceria, senyum secerah mentari pun terus terukir di bibirnya. Saat kakinya hendak melangkah ke area halaman kantor, ia merasakan pergelangan tangannya dicekal oleh seseorang hingga membuatnya menghentikan langkah. Menengok ke belakang, mata Dira mendapati perempuan semalam, si mbak jurig ulala yang diketahui bernama Fania itu. "Eh, ada apa ya, Mbak?" tanya Dira sopan. "Kamu... ce

