16. Since a Long Time Ago

1002 Kata
Lucas mengerjapkan matanya lalu meringis pelan saat merasakan tubuhnya begitu sakit. Ia tersadar akan posisinya yang tidur dengan punggung membungkuk dan kepala di atas meja. Benar-benar posisi yang menyakitkan! Entah sudah berapa lama ia tertidur, karena terakhir yang diingatnya adalah ketika ia mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum selesai di ruang kerja pribadinya setelah ia kembali dari Miami tadi siang. Lucas merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal dan sakit. Ia melepas dasi yang melilit lehernya dan dua kancing teratas kemejanya lalu keluar. “Gishla sudah pulang?” tanya Lucas pada salah seorang pelayan. “Nona Gishla sedang berenang bersama Nyonya Orchidia dan Nona Debora, Tuan.” Lucas mengangguk lalu melangkahkan kakinya menuju ke belakang mansion. Ia melihat ketiga perempuan yang berarti dalam hidupnya tengah bersenang-senang di kolam renang. Gishla dengan pakaian renang dan pelampung Disney yang terpasang di kedua lengannya tengah berenang dibantu Orchidia yang terlihat seksi dengan bikini berwarna merah polos. Terakhir, ada Debora yang tengah berjempur di pinggir. “Daddy!” teriak Gishla yang menyadari kehadirannya, bocah itu melambaikan tangannya sebagai isyarat agar Lucas mendekat. “Daddy, aku bisa berenang, Daddy!” ucap Gishla lalu menunjukkan gayanya dalam berenang, padahal jika pelampung itu dilepas pasti Gishla akan tenggelam. Lucas tersenyum. “Anak Daddy hebat. Siapa yang mengajarimu?” “Mommy! Mommy Dia yang mengajakku dan Aunty Deb untuk berenang. Awalnya kami ingin mengajak Daddy tapi Daddy sedang tidur.” “Maafkan Daddy.” Gishla tidak memedulikannya. Ia lebih memilih untuk melanjutkan kegiatannya bersama Orchidia sambil sesekali tertawa senang. Sedangkan Lucas melangkahkan kaki untuk mendekati sang adik. “Bagaimana soal Rebecca?” tanya Debora begitu Lucas duduk di sampingnya. “Tadi dia mengunjungi sekolah Gishla lagi.” “Dia juga mengunjungi kantorku tadi pagi.” “Benarkah?” Debora melirik dan melepaskan kacamata hitamnya. “Apa yang dia lakukan di sana?” “Hanya mengatakan sebuah omong kosong.” “Apa yang akan kau lakukan? Dia menginginkan Gishla.” “Tentu saja aku tidak akan memberikan putriku sekalipun dia mengembalikan seratus juta dollar yang dulu diterimanya,” ujar Lucas. “Gishla sudah memiliki Orchidia, jadi dia tidak memerlukan wanita itu.” “Orchidia sudah tau tentang Rebecca.” Lucas langsung menoleh. “Dia tau dari mana?” “Aku yang memberitahunya.” Tatapan Lucas menajam lalu pria itu menggeram. “Debora ....” “Dia bertanya, ya sudah aku menjawabnya.” Debora mengedikkan bahunya dengan acuh tak acuh. Lucas memijat pangkal hidung. Seharusnya Orchidia tidak boleh tahu tentang Rebecca. Dia hanya boleh tahu bahwa Rebecca adalah ibu kandung Gishla sekaligus mantan istrinya, hanya itu. Tapi kini Debora telah menghancurka semuanya. “Dia tidak marah, Lucas. Mengapa kau harus menyembunyikan ini dari dia? Orchidia sekarang adalah istrimu,” ujar Debora sembari menatap Lucas yang tampak frustrasi. “Kau tidak mengerti! Tidak boleh ada yang tau soal ini!” Tanpa sadar, Lucas membentak Debora. Tidak, tidak boleh ada yang mengetahui perihal rahasia keluarga Franklin tentang Rebecca. Orchidia yang berada di kolam berenang langsung mengalihkan tatapannya. Ia merasa terkejut saat mendengar teriakan Lucas. Berbeda dengan Gishla, bocah itu justru tampak tidak peduli. Orchidia bergerak ke pinggir ketika Lucas beranjak. “Deb, bisa temani Gishla berenang?” Debora mengerti tatapan Orchidia. Gadis itu mengangguk dan langsung menceburkan diri ke kolam renang. Sedangkan Orchidia langsung naik ke permukaan, meraih bathrobe miliknya, lalu mengejar Lucas. Ia tidak tahu apa yang Lucas bicarakan dengan Debora, karena sedari tadi ia sibuk bermain dengan Gishla. Orchidia membuka pintu kamar kemudian masuk. Ia langsung mendapati Lucas yang tengah duduk di pinggir ranjang dengan sesekali menjambak rambutnya sendiri. “Lucas?” Pria itu mengangkat kepalanya. “Tidak! Kau tidak boleh mengambilnya dariku! Dia anakku!” Orchidia mengerjapkan matanya sebelum akhirnya duduk di samping Lucas. “Ada apa? Ada yang menganggu pikiranmu?” Lucas langsung tersadar, wanita di hadapannya bukan seseorang yang ia takutkan. Dia wanita yang bersemayam di hatinya. “Dia tidak boleh mengambil Gishla-ku!” Entah kenapa Orchidia merasa begitu khawatir pada kondisi Lucas. Kondisi pria itu sekarang, bukan Lucas yang ia kenal. “Tidak ada yang mengambil Gishla. Aku, kau, dan semua orang akan menjaga Gishla." Orchidia tersenyum, berharap pria itu akan tenang. Lucas memejamkan matanya, berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau wanita ular itu tidak akan pernah bisa mengambil Gishla darinya. Bersamaan degan itu, sesuatu yang lembap menempel di bibirnya, membuat Lucas membuka mata. Mata birunya langsung bertubrukan dengan mata bening Orchidia. Wanita itu mengulum bibir bawahnya dengan begitu manis. Lalu ia juga melihat Orchidia memejamkan mata saat ciuman diambil alih olehnya. Tidak ada gairah di antara ciuman mereka kali ini. Hanya ada kelembutan yang penuh dengan kasih sayang. Lidah mereka saling bertaut, saling berbicara tentang perasaan keduanya. Lucas meraih tubuh Orchidia dan mendudukkan di pangkuannya. Sontak saja wanita itu mengalungkan kedua tangan di lehernya. Untuk pertama kalinya, Orchidia menikmati ciuman mereka. Orchidia menginginkannya untuk sekarang. Lagi dan lagi. Ini terlalu manis, terlalu disayangkan jika terlepas begitu cepat. Tangan Lucas menyusuri pipi hingga leher jenjang Orchidia. Ia menurunkan bathrobe yang dikenakan wanita itu secara perlahan. Orchidia masih memakai bikini yang keadaannya basah. Tapi pria itu tidak peduli, justru Orchidia semakin terlihat seksi dan panas. Lucas melepaskan ciuman mereka saat Orchidia memukuli dadanya. Napas wanita itu terengah, bibirnya sedikit bengkak dan berwarna pink kemerahan. Menyadari hal itu, Lucas tersenyum. “Kau selalu terlihat cantik,” bisik Lucas dengan jarak wajah mereka yang masih sangat dekat. “Tadi itu gila.” Bibir bengkak Orchidia bergerak, membuat Lucas mengerang karena ingin kembali membungkam bibir manis itu. “Kenapa kau selalu membuatku gila? Selalu membuatku tak mampu menolak sentuhanmu?” Orchidia menatap mata biru pria itu. “Karena kau menginginkannya,” bisik pria itu lagi, “sama sepertiku. Aku menginginkanmu dalam hidupku. Dari dulu sampai sekarang dan selamanya.” Orchidia bungkam. “Dari dulu?” Lucas memalingkan wajahnya guna memutus kontak mata mereka. “Cepatlah berpakaian atau kau akan masuk angin.” Pria itu beranjak, meninggalkan Orchidia dan pertanyaan wanita itu yang masih belum terjawab. Sedangkan Lucas masuk ke dalam kamar mandi dan suara gemercik air mulai terdengar. Dari dulu sampai sekarang dan selamanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN