Nine | Accident

2172 Kata
Nadin memicingkan matanya heran saat memperhatikan Rizal yang keluar-masuk dari ruangan Wira lebih dari 3 kali siang hari ini. Dari tempatnya duduk, ia bahkan bisa melihat dengan jelas betapa mudahnya Wira tertawa jika berada dekat dengan Rizal. Mungkinkah keduanya memiliki hubungan spesial? Nadin memilih untuk melupakan insiden apartemen beberapa hari lalu, karena sepertinya Wira pun memilih untuk tidak membahasnya lebih lanjut. Lebih baik ia bersikap tenang, daripada nantinya ia dan Wira kembali membahas perbincangan yang sama berulang kali. Benar-benar membuat Nadin ingin muntah. “Btw, apa kabar itu Bapak? Tumben nggak pernah ganggu telepon gue akhir-akhir ini?’ Nadin memeriksa riwayat panggilannya. Benar, Wisnu tak menghubunginya belakangan ini, tidak seperti biasanya.   “Apa yang kamu lihat?” Nadin mengerjap kemudian duduk kembali dengan tegap. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Rizal yang kini berdiri di depan mejanya. Sejak kapan juga pria itu sudah ada di depannya? Senyum tipis ia berikan untuk lelaki itu. “Tidak ada,” jawabnya singkat. “Saya yakin kamu mulai bisa mengetahui sesuatu yang menarik bukan?” “Apa maksudnya?” “Tentu saja kamu harus mencari taunya sendiri.” “Lah, terus kenapa Mas tanya sama saya? Saya kan jadi penasaran.” “Ya itu tugas kamu untuk mencari tau.” “Lebih baik Mas kasih saya kerjaan yang bener, saya bosan dari tadi nggak ngapa-ngapain.” Rizal tersenyum kecil. “Rupanya kamu sudah menyelesaikan tugas menulis permintaan maaf, ya?” Mendengar itu Nadin nyaris tersedak dengan ludahnya sendiri. Mengapa yang Rizal bahas sama dengan yang ada di pikirannya tadi? Wira memang atasannya yang paling aneh dan aneh sedunia. Hanya karena Nadin membuat closing untuk acara Pak Hakim di akhir bulan, Wira tak menyukainya dan meminta dirinya untuk menulis permintaan maaf. Ke depannya, Nadin tidak akan lagi diperbolehkan mengikuti agenda pertemuan dengan calon klien yang besar. “Mas nggak usah bikin saya inget itu deh.” Rizal terkekeh kecil. “Saya sudah pernah peringatkan kamu sebelumnya ya, tidak perlu ikut kami berdua.” Nadin mendengus geli kemudian ikut tertawa. Lebih tepatnya menertawakan nasibnya karena memiliki atasan seperti Wira. “Apa kalian punya banyak waktu untuk haha-hihi?” Rizal langsung memutar tubuh cepat dan juga Nadin yang lantas berdiri dari duduknya. “Saya tunggu di bawah 5 menit lagi, jika sudah selesai acara tertawanya,” ujar Wira dengan menatap lurus mata Rizal. “Pak, Bapak mau ke mana?” Wira berhenti dan memutar tubuhnya. Berdiri di depan Nadin yang hanya sebatas dadanya. “Apapun urusan saya, tidak ada hubungannya sama kamu.” “Tapi saya asisten Bapak. Saya perlu tahu apa yang Bapak lakukan, jadi saya bisa bantu Bapak.” “Oh, gitu ya? Kalau gitu saya pasti butuh bantuan kamu. Bisakah?” “Tentu! Bapak bisa kasih saya tugas apa pun itu!” seru Nadia semangat. Wira tersenyum samar. “Baiklah kalau begitu. Saya sarankan kamu membawa ikat rambut untuk tugas kamu ini.” Alis Nadin langsung naik sebelah sambil bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah ia kembali salah langkah kali ini? Bibir Wira mengembangkan senyum penuh arti kepada Nadin. “Kalau gitu kamu bisa ikut saya sekarang. Rizal, kita tunda 10 menit lagi untuk agenda yang tadi.” Nadin menatap Rizal bingung setelah Wira pergi lebih dulu. Rizal hanya mengangkat bahu tanda tak mengerti. ***   Nadin mendongakkan kepalanya dan menatap Wira dengan tatapan kesal tanpa ia sadari. Nadin diajak pergi oleh Wira, dan rupanya pria itu membawanya ke sebuah kamar hotel nomor 505 yang baru saja ditinggal penyewa yang telah check out beberapa saat lalu. Nadin memejamkan matanya sejenak kemudian kembali membukanya dan menatap Wira lurus. Kali ini ia mencoba membuka senyum di bibirnya. “Boleh saya tahu kenapa Bapak bawa saya ke sini?” tanyanya. “Kamu asisten saya, bukan?” Nadin menghela napas berat. Ia mengangguk dengan berat hati. “Tugas kamu hari ini adalah membersihkan, mengganti semua perlengkapan yang perlu diganti dan mengecek semua perlengkapan kamar ini,” jelas Wira. Kening Nadin mengerut sempurna. Apa maksud Wira menyuruhnya mengurus semua itu? Wira masuk ke dalam kamar hotel yang telah kosong, diikuti oleh Nadin di belakangnya. Mata Nadin langsung bergerak menyusuri tiap sudut kamar hotelnya. “Kenapa saya, Pak?” tanya Nadin dengan kedipan mata tak mengertinya. “Bukannya ini pekerjaan departemen housekeeping?” Wira meraih salah satu hanger yang tergantung di lemari. Ia mendekati ranjang dengan ukuran besar itu. Memukul bagian atas selimut dengan tiba-tiba menggunakan hanger yang ada di tangannya. Pukulan yang tak seberapa pada selimut itu langsung membuat Nadin bersin dan batuk. Wanita itu segera menutup kedua lubang hidungnya menggunakan punggung tangan. Wira berdecih. “Anak kesayangan Pak Wisnu rupanya tidak bisa dekat dengan debu, ya? Sayang sekali, ya, karena di sini kamu tidak bisa diperlakukan layaknya anak kesayangan Pak Wisnu.”   Nadin merasa kepalanya pusing. Ia bahkan kehilangan kata-kata untuk membalas ucapan Wira tadi. “Katamu kamu akan melakukan apa pun untuk membantu saya? Hari ini tidak ada tim housekeeping yang bekerja, saya meminta mereka untuk pulang semua.” “Apa? Kenapa?” “Karena kamu ada di sini,” ucap Wira dengan memperjelas tiap katanya. “Tapi, Pak―” Wira tersenyum tipis menatap Nadin. “Seperti yang saya sudah pernah sampaikan, silakan ajukan surat pengunduran diri jika kamu merasa tidak sanggup bekerja di hotel ini.” Bibir Nadin terbuka mendengar ucapan Wira yang begitu entengnya berbicara. Selalu seperti itu. Egois dan menyebalkan. Nadin menghirup napas panjang sebelum ia hempaskan secara perlahan. “Saya memang asisten Bapak, tapi bukan berarti Bapak bisa minta saya melakukan semua yang Bapak perintahkan.” “Just make it simple. You can go out whenever you want it,” ujar Wira dengan langsung berbalik pergi meninggalkan Nadin. *** Rizal melongokkan kepalanya sambil mengerutkan kening tipis saat tak melihat ada sosok Nadin yang mengikuti langkah kaki Wira di belakang. “Dia sedang bekerja untuk hotel ini, tidak perlu dipikirkan,” ucap Wira saat melangkah melewati Rizal dan masuk ke dalam ruangannya. “Apa yang sedang dia kerjakan?” tanya Rizal sambil menutup pintu ruangan Wira. Wira sudah duduk di kursinya. Mengendurkan dasinya, dan bersandar pada punggung kursinya. “Apa saya perlu lapor pada kamu?” tanyanya dengan alis terangkat sebelah. Rizal menggeleng seraya berkata, “Tidak, Pak.” “Bagaimana dengan grafik yang sudah saya minta tadi?” Rizal mWirakah maju sambil menyerahkan dokumen yang ada di tangannya. “Hotel ini kembali mengalami kerugian pada 3 bulan terakhir, Pak. Jika hal ini sampai terdengar oleh pihak luar serta pusat, maka kita perlu menyiapkan skenario terburuk.” Wira mengangguk singkat. Seolah tak kaget dengan pernyataan Rizal barusan. “Skenario terburuk apa yang perlu kita siapkan?” “Hotel ini akan dibubarkan.” “Wow, nice to hear,” balas Wira dengan memberikan senyum simpul di pipinya. “Hanya itu reaksi yang dapat Bapak beri untuk saya?” “Tentu saja. Memangnya apa yang kamu harapkan dari reaksi saya?” “Apa Bapak akan terus seperti ini?” tanya Rizal dengan nada lebih menuntut. Seolah memaksa Wira agar mau mendengarkan penjelasannya sejak tadi. Wira akhirnya melirik Rizal sekilas, sebelum akhirnya kembali bersandar di kursinya sambil memejamkan mata. “Memangnya apa yang kamu khawatirkan? Lanjutkan saja seperti biasanya. Sesuai janji saya, saya akan tetap memberimu gaji yang jauh lebih besar jika kantor ini akhirnya resmi ditutup.” “Ini bukanlah Anda yang sebenarnya!” tegas Rizal. “Berhenti bersikap tak acuh, padahal Anda benar-benar tidak bisa membiarkan semua ini terjadi!” Wira langsung menggebrak meja dan berdiri menatap Rizal dengan mata melotot dan memerah. “Keluar dari ruangan saya! Keluar!” “Sampai kapan Anda mau terus bersikap seperti ini?” “Kalau kamu sudah bosan kerja dengan saya, ingatlah jika saya tidak pernah menahanmu di sini. Kamu bisa keluar, pergi mencari pekerjaan yang jauh lebih baik dari ini!” Rizal mengencangkan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya. Ia membalas tatapan marah Wira, kemudian berbalik pergi dan keluar dari ruangan pria keras kepala itu.   *** Wira menghela napas panjang. Ia menutup layar laptopnya dan mengusap wajahnya. Ia mengendurkan dasinya “Apa cuma aku aja yang nggak lihat Nadin dari tadi?” Wira yang semula ingin pergi ke toilet mendadak berhenti melangkah saat mendengar ada yang mencari keberadaan Nadin. Ia berpikir sejenak kemudian menengok jam tangannya. Ia sudah meninggalkan Nadin sejak pukul satu siang. Itu artinya, Nadin belum kembali bahkan setelah 1 jam telah berlalu. Tidak ingin ambil pusing, Wira memilih kembali melanjutkan langkahnya. Bukan urusannya lagi Nadin berada di mana. Atau mungkin wanita itu masih berkutat dengan pekerjaannya. Baguslah jika nanti Nadin ingin mengundurkan diri dengan sendirinya. Karena dengan begitu ia tidak perlu lagi bersikap jahat padanya. Setelah membuang air kecil, Wira mencuci tangannya di wastafel dengan sabun. Ia juga menata kembali rambut dan pakaiannya agar tetap terlihat sempurna. “Apa Anda meminta Nadin membersihkan room dengan sengaja?” Bola mata Wira bergeser dan menatap Rizal yang berada dalam cermin yang sama dengannya. “Kenapa? Apa kamu mencari keberadaannya juga?” “Tugas itu adalah bagian departemen Housekipping. Untuk apa Nadin mengerjakannya?” “Biarkan dia merasakan semua lini pekerjaan. Dia sendiri yang mau membantu kelangsungan hotel ini.” “Anda yang paling tahu jika ini bukanlah hal yang tepat.” Wira mematikan keran airnya dan menoleh, menatap ke arah Rizal yang berdiri di belakangnya. “Tepat atau tidak, dia sendiri yang menentukan.” “Anda bisa mengarahkannya dengan lebih baik. Keberadaannya di sini bukanlah sebuah pertunjukkan yang hanya dapat Anda saksikan.” Wira bersidekap d**a di hadapan Rizal. “Apa yang mau lo sampein ke gue?” “Berhenti bersikap seenaknya, Wir. Lo harus profesional sebagai seorang pemimpin di sini.” “Jangan salah paham, Zal. Gue bukanlah pemimpin di tempat ini. Gue cuma objek pengganti kekosongan. Gue ingetin lagi kalau lo lupa.” Wira memutus tatapannya dari Rizal dan melangkah keluar dari kamar mandi. *** Nadin mengusap keringatnya yang mengalir di pelipis menggunakan punggung tangan. Ia baru saja selesai membersihkan bagian toilet dan juga mengelap setiap barang yang ada di kamar tersebut. Begitu ia melipat seprai kasur yang lama untuk ia masukkan ke dalam keranjang besar, Nadin berhenti. Hidungnya mengerut karena mencium bau yang tidak biasa. Sejak ia masuk ke dalam kamar itu, Nadin sudah merasa aneh dengan dirinya sendiri. Seharusnya dengan pekerjaan seperti itu, ia tidak sampai berkeringat banyak, tapi entah mengapa kali ini Nadin mengeluarkan keringat lebih banyak. Nadin duduk di tepi kasur. Ia menenangkan dirinya dari sakit kepala yang mulai terasa mengganggu. Punggung tangannya bergerak menyentuh matanya yang gatal. Ia menguceknya dengan perlahan kemudian menjadi sedikit lebih cepat. Ia langsung bangkit berdiri ke toilet, membasuh matanya dengan air keran. Mungkin ia kelilipan debu. “Ah, perih banget jadinya.” Dengan mata terbuka setengah, Nadin keluar dari toilet. Tangannya langsung meraba dadanya yang tiba-tiba merasa sesak. Tubuhnya merasa aneh. Nadin merasakan gatal di sekujur tubuhnya, sesak napas, dan sakit kepala yang tidak mau berhenti. ‘Ada yang nggak beres,’ gumam Nadin dalam hati. Ia membuka pintu kamar hotel, kemudian berjalan melewati lorong. Jantung Nadin berdetak tak karuan. Bulir keringat mengalir dari pelipisnya. Kedua bibirnya terbuka, mengais-ngais oksigen yang sepertinya tak mau masuk ke dalam kedua hidungnya. Sepertinya memang ada yang tak beres, dan Nadin harus segera membawa dirinya sendiri ke rumah sakit untuk periksa. Nadin keluar dari lift. Ia berjalan tertatih-tatih sambil terus berpegangan pada dinding, agar tak rubuh. Bersamaan dengan itu, Wira keluar dari ruangan pribadinya dengan membanting pintu ruangannya. “Rizal memang benar-benar menyebalkan!” seru Wira, tak peduli dengan beberapa karyawan yang memperhatikannya bingung. Sejak perdebatan singkat dengan Rizal beberapa saat lalu, pria itu menolak setiap panggilan dari Wira. Rizal seolah sengaja menbagaikan setiap panggilannya. Wira mengerti mengapa Rizal marah padanya, namun ia tidak mau mencoba mengerti sikap Rizal yang menentang dirinya. Ia ingin Rizal mengerti alasan dirinya bersikap tak acuh pada TM Hotel Malang seperti ini. Dengan menggeram kesal, Wira berbalik ke arah kiri. Saat itulah kedua matanya melihat sosok Nadin yang sedang menuju ke arahnya. Wira tersenyum miring, kemudian melangkah segera mendekati gadis itu. “Saya tidak menyangka jika kamu akan selesai secepat ini,” ujar Wira tanpa bisa menatap wajah Nadin yang menunduk. “Saya curiga kamu mengerjakannya dengan benar tanpa ada kesalahan. Kamu pasti mengerjakannya dengan asal, kan? Tanpa kamu beritahu, saya sudah bisa menebaknya.” Nadin mengangkat wajahnya dengan perlahan. Wajahnya yang pucat dan berkeringat mengundang kekehan kecil dari Wira. “Saya nggak nyangka, mengerjakan hal sederhana seperti itu saja sampai membuat kamu seperti zombie. Padahal saya nggak suruh kamu sampai lari-lari, tapi kamu berkeringat sampai segitunya.” Nadin mencoba menghirup oksigen sekuat tenaga. Tangannya semakin menekan dadanya. Ia ingin bicara pada Wira, tapi bibirnya tak mampu berucap sepatah kata. “Tidak sanggup bicara karena terlalu lelah, ya? Tanya Wira dengan kedua mata menyipit menatap Naidn. “Baiklah, saya akan beri kamu sepuluh menit untuk kasih saya laporan di ruangan.” Wira memutar tubuhnya membelakangi Nadin. Tepat saat ia ingin melangkah maju, ia merasa ada sebuah tangan yang mencengkeram pinggiran kemejanya. Wira meliriknya, belum sempat ia menolehkan kepala tangan itu sudah terlepas, dan detik berikutnya yang ia dengar adalah suara debaman dari belakang. Wira akhirnya menolehkan kepalanya. Matanya langsung membulat melihat Nadin sudah jatuh dan pingsan di hadapannya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN