Seven | At the Same Place

2645 Kata
Wira keluar dari kamar mandi dengan hanya menutupi tubuh bagian bawahnya dengan handuk putih. Tubuh atasnya ia biarkan terbuka dengan air yang menetesi tubuh tegapnya dari kepalanya yang basah. Tanpa mengeringkan tubuh atau mengenakan pakaian, Wira memilih berdiri di depan balkon. Menikmati angin malam yang menerpa tubuhnya yang bertelanjang d**a. Membiarkan angin menusuk kulitnya dingin. Wira menatap ke atas langit. Menatap gelapnya atas sana yang mendung dan menutupi taburan bintang yang kini meringkuk di dalam langit gelap. Wira menarik benda yang terasa melingkar di lehernya. Sebuah liontin berbentuk love yang menampakkan sebuah foto. Foto masa kecilnya dengan kedua orangtuanya. Foto lama yang sudah ia tak ingat lagi kapan dan di mana potret itu diambil. Yang jelas, ia terlihat tersenyum bahagia dalam foto itu. “Hwaaa!!” Teriakan itu langsung membuat Wira menoleh cepat. Ia mengerutkan keningnya melihat seorang perempuan berlari cepat masuk kembali ke dalam apartemennya dan meninggalkan pecahan gelas beserta air yang hitam seperti kopi. Wira tak dapat melihat perempuan itu, karena perempuan itu begitu cepat berlari masuk saat ia menolehkan kepala. Seakan mengerti situasi, Wira lantas menatap tubuhnya saat ini. Ia memang bertelanjang d**a, namun tubuh bawahnya tetap tertutup sempurna. “Apa sempet kelihatan karena angin?” tanyanya polos dengan mencoba menutupi benda pusakanya dengan kedua tangan. Ia bergidik ngeri membayangkan, kemudian memilih masuk ke dalam. Ia memilih menggunakan celana berwarna beige tanpa memakai atasan. Wira sudah terbiasa bertelanjang d**a saat seorang diri di apartemen. Walau ac menyala, Wira tetap tidak terbiasa memakai atasan. “Loh, cewek tadi penghuni baru room sebelah?” Wira seakan baru ingat jika kamar di sebelahnya seharusnya kosong, namun melihat sudah ada perempuan tadi berarti sudah ada penghuni baru yang menempatinya. “Hm, berarti dia adalah orang yang menyebabkan kebisingan beberapa hari lalu,” ujar Wira dengan menatap dinding putih yang menjadi pembatasnya dengan penghuni baru di samping. Ia menggeleng, berusaha tak peduli dan memilih beranjak ke ruang tamu untuk menonton film, menikmati akhir pekan dan melupakan sejenak tujuannya untuk menghancurkan TM Hotel Malang.   *** Nadin meniup poninya sambil menyandarkan punggungnya pada dinding pantry. Ia menuang sesendok kopi hitam lalu menambahkan air panas ke dalam gelasnya. Tanpa menambah gula, Nadin mengaduknya dan memegang gagang gelas keramiknya. “Siapa sih pemilik kamar sebelah? Kenapa harus telanjang begitu di balkon? Nggak tau apa kalau malam ini anginnya lagi kenceng banget? Gimana kalau handuknya tadi lepas? Bisa hancur keperawanan mata gue,” keluh Nadin kesal. “Makin banyak aja deh manusia aneh yang gue temuin di kota ini.” Karena gagal bersantai di balkon, Nadin memilih kembali ke kamarnya. Ia membuka laptop setelah meletakkan secangkir kopi hitamnya. Ia perlu menjaga kedua matanya untuk tetap terbuka malam ini karena ada yang perlu ia lakukan. Sampai di meja berukuan 70*50, Nadin malah mendengar dering ponsel di mejanya. Rupanya itu panggilan dari Vera. Nadin mengangkatnya sambil berdiri menuju jendela kamarnya. Ia masih ingin melihat langit malam di luar, namun karena takut masih ada pria aneh yang berdiri di balkon sebelah, maka Nadin menahan diri untuk tetap berdiam diri di dalam apartemennya. “Halo, Ver.” “Woy, gue udah telepon lo lebih dari 3 kali!” Nadin sontak menjauhkan layar ponsel dari telinganya begitu teriakan Vera memekik di telinganya. “Nggak perlu teriak, gue denger!” balas Nadin yang merasa seketika merasa bete. “Ngapain sih lo lagian sok sibuk banget, gue telepon sampe 3x nggak diangkat juga? Sibuk pacaran ya lo sekarang?” “Bahagia banget gue kalau sampe bisa punya pacar di sini. Apalagi sekarang ada apartemen super nyaman buat bawa pacar masuk. Iya, kan?” “Heh, sadar! Awas lo ya sampe tiba-tiba gue dapet kabar lo bunting sama orang Malang!” “Astaga, itu mulut! Amit-amit, ya. Kawin dulu gue, baru bunting.” “Lo sih lagian.” “Lo yang mancing. Udah deh, jangan buat gue makin bete.” “Bete kenapa sih, Nad? Lo bukannya lagi have fun akhir-akhir ini? Kan habis dapet closing 300 juta.” “Lo baru tau ceritanya sampe situ, kan? Belum tau kelanjutan ceritanya, kan?” “Gimana gimana? Cepetan cerita!” “Nggak bisa. Gue udah putuskan buat lupain itu. Karena kalau nggak gue lupain, gue cuma akan semakin membenci bos gue yang aneh sedunia itu.” “Jangan terlalu benci, Nad. Lo tau kan kata benci ke lawan jenis itu kata terlarang. Lo bisa jatuh cinta nantinya.” “Haha .. lucu banget,” balas Nadia dengan tawanya yang terdengar tidak ikhlas. “Gue serius!” “Bodo amat ah. Udah, gue lagi sibuk nih.” “Mau ngapain sih jomblo kayak lo sok sibuk banget akhir pekan.” “Nonton drama. Karena hidup gue udah rasa drama korea di sini, makanya gue butuh yang drama beneran untuk menghilangkan kesialan gue di sini.” Nadia langsung memutuskan panggilannya sepihak tanpa mau mendengar celotehan tidak terima dari Vera. Setelah beberapa seruputan pada kopinya yang masih panas, Nadia mengambil sweaternya. Cuacanya dingin, namun Nadia enggan menaikkan derajat AC miliknya. Rambut panjangnya ia cepol asal ke atas kepala. Membuat beberapa poni dan anak rambutnya tergerai asal. Saat mengambil laptopnya yang ada di atas nakas, mata Nadia tak sengaja melirik sebuah pigura kecil. Alih-alih mengambil laptopnya, Nadia memilih mengambil pigura kecil tersebut. Diusapnya foto yang terlihat di sana. 2 anak kecil yang sama-sama tersenyum lebar di bawah hujan deras. Dalam taman yang penuh dengan rimbun pepohonan dan juga rumput, Nadia masih ingat dengan jelas bagaimana cara ia menghabiskan hari itu bersama sahabat kecilnya. Sahabat kecilnya yang bernama Wira. Yang hingga saat ini tak ia ketahui keberadaannya. Wira sahabat kecilnya, seolah menghilang bersama angin. Tanpa ada sedikitpun kabar dari lelaki itu hingga Nadin kesulitan mencari keberadaannya. Mengapa Nadin begitu ingin menemui sahabat kecilnya itu? Hanya Nadin dan hati kecilnya yang tahu alasannya.   ***   Wira membuka kedua matanya perlahan saat mendengar bunyi bel kamarnya. Kini bahkan bukan hanya bunyi bel yang ia dengar, melainkan tendangan kaki seseorang di pintu. Dengan menghela napas panjang, Wira akhirnya duduk dan bangkit membukakan pintu. “Harus banget gue tendang ini pintu sampe rusak baru lo buka?” Wira menyipitkan matanya yang masih merasa mengantuk. Rizal sudah berdiri di depan pintu apartemennya dengan memakai setelan training berwarna hitam. “Gue nggak minta lo ke sini jam 7 pagi juga, kan?” “Terus jam 11 siang gue ke sini?” “Jam 12 juga bisa,” balas Wira tanpa dosa. “Jam 12 waktunya gue makan.” “Gue juga manusia yang bisa laper.” “Terus lo mau ngajak gue debat di sini?” “Perlu kita ke ring tinju?” “Lo mati duluan kalau ke ring tinju sekarang dalam keadaan mata setengah tidur.” Wira mendengus geli. Akhirnya perdebatan tak berfaedah mereka di pagi hari dimenangkan oleh Rizal. Rizal menghela napas panjang. Ia mendorong pelan d**a Wira agar ia bisa masuk ke dalam apartemen pria itu. “Cepet siap-siap, gue tunggu.” “Gue mau tidur!” Mendengar penolakan Wira, Rizal lantas bersidekap d**a. “Lo milih gue seret buat jogging atau ke hotel?” Wira menggeram pelan sambil mengacak rambutnya asal. Ia paling benci diminta ke hotel di akhir pekan. Lebih baik Wira bersiap seperti permintaan Rizal barusan. Setelah menunggu hampir 20 menit untuk Wira bersiap, akhirnya pria itu selesai dengan memakai setelan training berwarna putih. Kontras dengan warna yang dipilih Rizal. Rizal memilih keluar lebih dulu dari apartemen Wira, saat sahabatnya dan juga atasannya di tempat kerja itu sedang memakai snikers. Tidak banyak yang tahu jika dalam kehidupan nyata Wira dan Rizal saling bersahabat baik. Mereka berdua sudah saling mengenal sejak di bangku SD. Mereka berdua pun tak menyangka jika akan bertemu kembali di tempat kerja yang sama. Dan alasan Wira masih mau bertahan di TM Hotel Malang adalah karena ada Rizal di dekatnya. Rizal mengetahui segala hal tentang Wira, begitu pun Wira yang memahami Rizal. Tapi lebih tepatnya, Wira sudah tidak ingin mencoba memahami Rizal, terutama soal TM Hotel. Ia malas dan muak jika Rizal terus menceramahinya, walaupun itu demi kebaikannya sendiri. “Nyokap lo udah sehat?” tanya Wira membuka topik pembicaraan. “Not bad,” jawab Rizal seadanya. “Tante Ina pasti cepet sembuh,” ucap Wira sambil menepuk singkat bahu Rizal. “Jangan lupa lo masih ada jatah cuti 5 hari. Lo bisa balik ke Jakarta kalau kangen.” “Mana bisa lo hidup tanpa gue di hotel?” selidik Rizal. “Lo pikir gue anak umur 5 tahun?” “Lo pikir lo udah dewasa?” tanya balik Rizal yang membuat Wira berdeham sebal. “Lo bisa pulang, Zal, gue serius.” “Nyokap gue baik, Wira. Dan gue masih lo butuhkan di sini.” Wira menatap sepasang kakinya yang mWirakah bergantian. Ia berpikir sejenak kemudian kembali bersuara, “Gue cuma nggak mau lo punya perasaan menyesal nantinya. Lo harus tau rasanya punya perasaan menyesal di dalam hati. Itu jauh lebih sakit daripada rasa kehilangan.” Rizal menoleh dan menatap sahabatnya dengan serius. Sepertinya Wira sedang tidak main-main dengan ucapannya. Pria itu terlihat serius dan memperhatikan dengan benar tiap-tiap kata yang dilontarkan untuk Rizal. "Ini karena lo care sama gue, atau karena udah ada Nadin yang gantiin posisi gue?" Wira yang semula memasang ekspresi tenang, langsung mengangkat tangannya. Rizal sontak berlari sambil tertawa kencang.    ***   Nadin memejamkan matanya sesekali dalam langkahnya yang pelan-pelan. Ia baru saja membeli lontong sayur yang dijual bapak-bapak tua tak jauh dari apartemen. Ia masih mengantuk, tapi perutnya juga sudah kelaparan maksimal. Akibat maraton drama hingga subuh, Nadin juga kurang tidur dan baru terbangun pukul 10 karena perutnya yang keroncongan. Ia memencet tombol lift dan segera masuk begitu pintu lift terbuka lebar. Bersandar pada dinding lift tanpa sadar belum menekan tombol. Sebuah kaki yang terlihat memasuki ruang lift langsung membuat mata Nadin terangkat naik perlahan. Sepasang sepatu olahraga, setelan training berwarna putih, Nadin jadi ingin menertawai dirinya sendiri yang bahkan baru membuka mata karena lapar. Nadin sontak berdiri tegap dan menutup sebagian wajahnya dengan tangan saat matanya tepat menatap pada wajah pria di depannya. “Kamu―” Wira. Pria itu ada di hadapannya saat ini, membalas tatapannya. Mungkin pria itu juga sama kagetnya dengan dirinya. Karena tak pernah mereka bayangkan akan bertemu di tempat itu. “Kamu tinggal di sini?” selidik Wira langsung. “Nggak,” jawab Nadin cepat. “Saya mau ke … oh saya nyasar ya ternyata. Hahaha, apartemen saya ada di seberang gedung ini ternyata.” Nadin tertawa canggung sambil meringis menahan malu. Wira sontak menatap Nadin dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rambut semerawut, wajah bangun tidur, kaos yang kusut, dan sepasang sandal jepit. “Apa kamu bahkan sudah bangun dari tidur?” tanya Wira dengan mendengus geli. “Bapak nggak usah kepo ya dengan urusan orang lain.” “Jangan panggil saya Bapak.” “Bapak malu kelihatan tua?” “Malu kalau orang tahu saya punya karyawan seperti kamu.” Nadin langsung mendesis kesal. Ia menurunkan tangan yang menutupi wajahnya. Tak peduli seburuk apa wajahnya terlihat saat ini. Ia buru-buru keluar dari lift dan menjauh pergi dari hadapan Wira. Manusia menyebalkan sepertinya, entah mengapa bisa ditakdirkan menjadi atasannya. “Aish, kenapa ketemu bos aneh di sini sih? Kenapa harus di saat tadi?” Tak punya tujuan pasti saat keluar dari apartemen, Nadin memilih menunggu dibalik pohon besar. Mengira-ngira sendiri jika Wira sudah naik lift dan sampai ke kamar pria itu. “Ah, perut gue,” keluh Nadin dengan mengusap perutnya yang keroncongan. Ia sudah sangat lapar. Dan karena Wira ia harus mengundur jadwal makannya lagi. “Udah masuk kamarnya belum ya dia? Dia nggak satu lantai sama gue, kan? Pasti nggak, kan? Pusing dah kepala gue. Belum cukup gue ribut sama dia di kantor, sekarang harus satu apartemen yang sama?” Nadin menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya. *** Wira membersihkan kedua tangannya yang sedikit kotor karena habis memberi makan kucing yang ada di tangga darurat. Ia pernah sekali melihat kucing itu, dan setelahnya Wira selalu memberinya makan. “Di mana sih gue taro kuncinya tadi?” Wira berhenti. Tepat beberapa langkah dari seorang gadis yang sedang bingung mencari kunci sambil merogoh saku celananya. “Lagian apes banget deh gue pagi-pagi udah ketemu bos aneh. Mana sih kunci, udah laper banget ini!” Nadin masih ribut dengan dirinya sendiri perihal kunci yang ia lupa. Wira melangkah sejenak kemudian berhenti kembali saat merasa menginjak sesuatu di bawah kakinya. Saat ia memungutnya, rupanya itu kunci. “Ini beneran?” tanyanya pada diri sendiri. Dengan helaan napas panjang, Wira mWirakah maju dan mendekati Nadin. “Kamu!” Nadin menoleh dengan cepat. Ia hampir saja terjungkal ke belakang jika tak ada tangan Wira yang meraih pinggangnya cepat. Untuk satu detik yang terasa panjang, Nadin sampai bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana wajah Wira dilihat dari jarak kurang dari 10 cm. Saking dekatnya ia sampai bisa mendengar suara detak jantung milik Wira yang berdetak seirama dengan miliknya. Keduanya langsung menjauhkan diri. “Sejak kapan kamu tinggal di sini?” tanya Wira tanpa basa-basi. “Bapak ngikutin saya ya?!” Wira mendengus pelan. “Memangnya saya stalker?” Nadin langsung memicingkan matanya. “Terus Bapak ngapain di sini?” “Jawab dulu pertanyaan saya. Sejak kapan kamu tinggal di sini?” “Sejak saya menginjakkan kaki di Malang. Bapak plis ya, jangan buat saya pindah dari tempat ini. Pertama, saya nggak punya duit buat pindah, kedua, saya cukup nyaman di sini walau ada orang m***m yang tinggal di samping saya.” Wira sontak mengerutkan keningnya samar. Ia tahu ke arah mana Nadin akan bicara. “Apa? Orang m***m?” “Iya, Bapak hati-hati deh.” “Oooooh, m***m ya?” tanya ulang Wira. “Iya m***m, aneh. Sial banget emang nasib saya bisa tinggal sama tetangga sebelah.” “Oooooooooh, sial ya?” Wira semakin panjang menyuarakan o-nya. “Iy―” “Masuk!” perintah Wira sambil memberikan kunci milik Nadin yang ia temui tadi. “Loh, kunci saya kok bisa di Bapak?” “Just get in!” perintah Wira memutus kekepoan Nadin. Gadis itu akhirnya langsung masuk sambil menggeram sebal. “Oh, tunggu!” Tangan Wira menahan pintu apartemen Nadin yang sebentar lagi akan tertutup. “Ke balkon 5 menit lagi. Saya mau tunjukkin sesuatu ke kamu.” Nadin mengerutkan keningnya bingung. “Ap―” pertanyaannya terpaksa ia telan sendiri karena Wira langsung menutup pintu apartemen gadis itu dengan rapat. “Dasar manusia aneh!” seru Nadin pada pintu yang tertutup. Nadin meletakkan makan paginya yang sudah dingin ke atas meja makan. Tanpa sadar kedua kakinya mWirakah menuju ke balkon. Menoleh ke sebelah kanan. Matanya langsung membulat. “Kyaaa!!!!” teriaknya dengan kencang. Matanya tertutup rapat dengan segera sebelum ia melihat hal-hal aneh yang lain. Keheningan yang Nadin rasakan membuat wanita itu ingin membuka kedua matanya. Saat kedua matanya terbuka, pupilnya kembali melebar saat baru jelas melihat wajah seorang pria yang berdiri menghadapnya dari balkon sebelah. “Yang kamu lihat kemarin hanya atasnya, kan?” tanya Wira dengan nada datar dan wajahnya yang tanpa ekspresi. Berbeda dengan Nadin yang sangat berkebalikannya. “Karena seingat saya, handuk yang saya pakai kemarin sangat kencang dan rapat,” lanjut Wira. Nadin mengerutkan keningnya samar. Bibirnya sedikit maju, namun tertutup rapat. Kini ia bahkan sudah tidak terkejut lagi jika melihat Wira berdiri di seberang sana hanya mengenakan celana training tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh atasnya. Tanpa berkata apa-apa Nadin memutar tubuh, hendak masuk kembali ke dalam unitnya. “Kalau kamu butuh rekomendasi apartemen lain, saya bisa bantu carikan untuk kamu!” seru Wira yang sangat jelas di dengar telinga wanita itu. Senyum Wira sontak melebar begitu ia melihat Nadin menutup rapat pintu kaca balkonnya dengan membantingnya. Nadin berjalan menjauhi pintu kaca balkon. Ia berhenti di ruang tamu, berkacak pinggang sambil mendongakkan kepalanya ke atas. “Bos gilaaa!!!” teriak Nadin dengan kencang. “Gila apa tuh orang? Astaga, dari semua unit, harus banget gue sebelahan sama manusia aneh dan gila kayak begitu?” Nadin mendesah frustasi sambil menjambak-jambak rambutnya hingga berantakan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN