Fourteen | Going Crazy

1937 Kata
Nadin masih merebahkan tubuhnya di atas kasur. Entah karena alasan apa ia menjadi seperti itu. Rasanya ia tidak bisa banyak menggerakkan tubuhnya. Jika ia berpindah posisi, maka ia akan merasakan kepalanya yang terus berputar membuatnya pusing. ‘Kenapa sih sama badan gue?’ lirih Nadin dalam hati. Nadin hanya berasumsi jika ia seperti karena kejadian kemarin malam dengan Wira. Saat mobil yang mereka tumpangi hampir saja menabrak sebuah mobil lain yang datang dari arah depan. Beruntunglah Wira segera memutar stir kemudi dan berhenti tanpa membuat mereka berdua kecelakaan. Bunyi bel yang tiba-tiba berbunyi membuat Nadin mendesah pelan. Bangkit duduk saja sudah susah, apalagi harus berdiri membukakan pintu? Dengan gerakan yang sangat perlahan Nadin mencoba untuk bangkit duduk. Ia melirik ke arah jam dinding dan menemukan waktu yang sudah menunjukkan ke arah pukul 5 sore. Dengan susah payah Nadin menguatkan kedua lututnya untuk berdiri perlahan. Tangannya langsung berpegangan pada lemari, dinding, hingga ia sampai ke pintu unit apartemennya. “Siapa?” tanya Nadin pada speaker monitor yang terhubung dengan siapapun orang yang bertamu di unit apartemennya. “Saya Rizal, Nad. Bisa kamu buka pintunya?” Nadin menghela napas panjang. “Buat apa dia datang ke sini lagi?” lirihnya pelan. Ia hanya ingin beristirahat total dengan tenang saat ini. Rizal langsung melempar senyum simpulnya begitu Nadin membuka pintu unit apartemen. “Hai, udah mendingan?” Nadin hanya bisa menggeleng pelan. “Mas kenapa ke sini lagi?” tanyanya. “Apa tidak boleh kita berbuat baik dengan sesama rekan kerja?” Nadin tersenyum kecil dan kedua matanya yang bergerak membuka dan menutup lambat. “Saya bawakan kamu buah dan vitamin, Nad. Kalau sakit, pasti kita butuh banyak asupan vitamin.” “Makasih, Mas. Maaf kalau merepotkan.” “Mau saya bantu kupas buahnya?” “Nggak perlu, Mas,” tolak Nadin lembut. “Baiklah. Kalau gitu jangan lupa untuk dimakan ya buahnya dan vitaminnya juga jangan lupa untuk diminum.” Nadin membalasnya dengan senyum kecil. Nadin akhirnya berhasil menutup pintu apartemen ketika Rizal sudah menjauh pergi. Ia baru berdiri beberapa saat, tapi tubuhnya sudah merindukan kasurnya. Ia benar-benar butuh istirahat total. Setelah meletakkan keranjang buah yang dibawakan oleh Rizal, Nadin segera melangkah perlahan menuju kamarnya. Belum sampai Nadin menuju kamarnya, bel unit apartemennya kembali berbunyi. Nadin menghela napas panjang. Kepalanya mulai berdenyut pusing lebih parah dari yang sebelumnya. Jika malam ini kondisinya tak membaik, ia akan mengalah dengan pergi memeriksakan kondisinya ke rumah sakit. Bunyi bel unitnya yang kembali terdengar itu membuat Nadin memutar tubuhnya dengan gerakan yang sangat lambat. Kepalanya sudah tak sanggup terangkat. Dengan menahan sakit, ia tetap membukakan pintu. Apakah Rizal benar-benar kembali datang. Pintu unit apartemennya sudah terbuka, namun orang yang berdiri di depannya tak mengeluarkan sepatah katapun. Saat ia berusaha mendongakkan kepalanya, ia melihat sosok Wira ada di hadapannya. Wajah tampan yang biasa menatapnya datar itu menatap wajahnya yang pucat. Mata Wira menyusuri kondisi Nadin yang memang terlihat seperti orang sakit. “Wi … ra?” gumam Nadin pelan. Mendengar Nadin yang mampu menggumamkan namanya tanpa embel-embel ‘Pak’ seperti biasanya, membuat Wira tersenyum samar. “Iya, ini saya.” Wira sendiri tak mengerti mengapa dirinya bisa ada di hadapan Nadin saat itu. Padahal sebelumnya ia mengatakan pada Rizal jika ia tidak memedulikan Nadin. Ia membiarkan Rizal yang mengurus wanita itu. Namun lihatlah kini, ia langsung mengunjungi Nadin karena rasa khawatirnya yang tak bisa ia tepiskan. Wira menyadari jika Nadin mencoba membuka lebar kedua matanya untuk menatap wajahnya. Tangan kanan Wira sudah akan menyentuh lengan Nadin, khawatir gadis itu akan limbun karena kondisinya yang pucat. Tetapi selang 2 detik berikutnya, Nadin memeluk tubuh Wira. Ia menyandarkan dagunya di bahu pria itu sambil memejamkan kedua matanya. “Kamu terlalu lama datang, padahal aku … merindukanmu …. ” Wira mematung beberapa saat saat tangannya yang lain. Ia tak berkutik sedikitpun, hingga menyadari beban di bahunya menjadi lebih berat, bersamaan dengan tubuh Nadin yang akan limbun, tetapi ditahan oleh satu tangan Wira yang sigap memeluknya erat. *** Nadin membuka kedua matanya perlahan. Melihat ke arah bohlam lampu di atasnya yang menyala dengan terang. Samar-samar ia mulai bisa mendengar seseorang yang memanggil namanya. “Nadin, kamu sudah sadar?” Ketika suara itu semakin jelas terdengar di telinganya, Nadin menolehkan kepalanya perlahan. “Mas Rizal?” bingung Nadin. Tangan Rizal dengan sigap merangkul bahu Nadin ketika wanita itu hendak bangkit duduk. “Kamu gimana keadaannya?” Alih-alih memperhatikan kondisinya, Nadin justru mencoba mengingat apa yang telah terjadi padanya sebelumnya. Mengapa ia bisa tiba-tiba terbangun di rumah sakit. “Mas yang bawa saya ke rumah sakit?” “Kamu nggak ingat? Wira yang bawa kamu ke sini.” Kening Nadin mengerut tipis. Wira yang membawanya ke rumah sakit? Benarkah itu? “Lalu di mana Pak Wira sekarang?” Rizal menggeleng singkat. “Sejak dia telepon saya untuk ke sini, dia sudah tidak ada di sini.” “Benarkah?” tanya Nadin memastikan. “Benar. Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan. Nanti saya yang akan telepon dia. Lebih baik kamu istirahat saja sekarang.” Nadin terpaksa kembali merebahkan tubuhnya berkat sedikit paksaan dari Rizal. Kini ia benar-benar hanya memikirkan tentang Wira. Bagaimana pria itu bisa membawanya ke rumah sakit? Bunyi bel unitnya yang kembali terdengar itu membuat Nadin memutar tubuhnya dengan gerakan yang sangat lambat. Kepalanya sudah tak sanggup terangkat. Dengan menahan sakit, ia tetap membukakan pintu. Apakah Rizal benar-benar kembali datang. Pintu unit apartemennya sudah terbuka, namun orang yang berdiri di depannya tak mengeluarkan sepatah katapun. Saat ia berusaha mendongakkan kepalanya, ia melihat sosok Wira ada di hadapannya. Wajah tampan yang biasa menatapnya datar itu menatap wajahnya yang pucat. Mata Wira menyusuri kondisi Nadin yang memang terlihat seperti orang sakit. “Wi … ra?” gumam Nadin pelan. Mendengar Nadin yang mampu menggumamkan namanya tanpa embel-embel ‘Pak’ seperti biasanya, membuat Wira tersenyum samar. “Iya, ini saya.” Tetapi selang 2 detik berikutnya, Nadin memeluk tubuh Wira. Ia menyandarkan dagunya di bahu pria itu sambil memejamkan kedua matanya. “Aku …. merindukanmu …. ” Nadin menghela napas panjang mengingat itu. Kini ia sadar rasanya bersikap bodoh. “Benar-benar memalukan,” geram Nadin sambil menyembunyikan wajah merahnya ke dalam selimut. Bagaimana ia bisa menyembunyikan wajahnya itu dari Wira? Dan bagaimana ia bisa bersikap bodoh dan konyol seperti itu di depan Wira? *** Wira menenggak minumannya hingga setengah dengan kepala terus mendongak menatap langit. Malam ini Wira masih memilih duduk di bangku taman apartemennya. Selain karena bosan, ia juga kelaparan karena tak punya bahan masakan apapun untuk diolah menjadi makanan selain mie instan. “Kamu serius tidak mau diantar?” “Nggak perlu, Mas. Saya bisa sendiri.” Percakapan dari 2 sumber suara yang cukup ia kenal membuat Wira menolehkan kepalanya perlahan. Pupil matanya sedikit melebar melihat sosok Nadin yang sedang bersama Rizal tak jauh dari posisinya. Sepertinya wanita itu sudah boleh pulang oleh pihak rumah sakit. Ia juga menyadari jika kondisi Nadin sudah terlihat jauh lebih baik. Tak seperti sebelumnya yang lebih tampak mayat hidup daripada manusia. “Benar tidak perlu diantar?” “Iya, Mas. Makasih banyak sudah antar saya sampai sini ya, saya banyak ngerepotin Mas Rizal hari ini.” Rizal tertawa kecil. “Kalau gitu kamu harus traktir saya makan enak lain kali.” Nadin menyambutnya dengan anggukan setuju serta senyum simpul menghiasi wajahnya. “Kalau gitu saya pamit sekarang. Kamu jangan lupa istirahat.” Rizal menepuk puncak kepala Nadin beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar pergi. Nadin masih mengantar kepergian Rizal melalui kedua ekor matanya. Rizal adalah pria baik, dan Nadin tidak ada masalah dengan itu. Saat Nadin hendak menolehkan kepalanya untuk pergi masuk, ia mendadak membulatkan matanya. “Apa saya terlihat seperti hantu?” Nadin menggeleng dengan tersenyum kecil. Melihat Wira masih duduk di sana seorang diri, Nadin memutuskan untuk mendekatinya. Sedikit berbincang dan mengucapkan terima kasih, mungkin. Seharusnya ia sudah mengucapkan sepatah kata atau lebih baik jika ia berterima kasih, tetapi mulutnya malah terus rapat tidak mau terbuka. Ia hanya diam menunduk sambil memainkan jari-jarinya. Sebuah tangan yang menyentuh keningnya membuat Nadin membeku. Saat ia mengangkat pandangannya, ia sudah menemukan ada wajah Wira yang berada di depan wajahnya. “Badan kamu masih hangat, kenapa tidak di rumah sakit dulu?” Mata Nadin seolah terkunci dengan tatapan lekat dari pria di hadapannya. Ia tidak pernah menatap mata cokelat itu sedekat yang ia bayangkan. Tatapan matanya itu terus menatap lekat wajah Wira. Ia tak membuang sedikit pun waktu yang diberikan semesta padanya. “Wajahmu bahkan memerah. Saya rasa kamu benar-benar masih perlu dirawat.” Mendengar itu sontak membuat Nadin berkedip dan mendorong tubuh Wira menjauh. Ia menangkup kedua pipinya sendiri yang terasa panas. Rupanya setelah ia tahu siapa Elwira sebenarnya, membuat Nadin dalam posisi berbahaya. Ia pasti sudah mulai merasakan benih cinta yang mulai bersemi kembali. Padahal sejak ia menginjakkan kaki di TM Hotel Malang ia sama sekali tidak pernah berpikir akan menyukai Wira. Namun, setelah ia mengetahui siapa Wira sebenarnya, hatinya kembali tidak bisa berbohong. “Mau saya antar lagi ke rumah sakit?” Nadin bangkit berdiri seketika. Ia ingin pergi melarikan diri, tetapi Wira menahan lengannya. Membuatnya kembali diam tak berkutik. “Kamu tidak mau ke rumah sakit?” Nadin menggeleng dengan polosnya. Wira tersenyum tanpa sadar. “Kalau begitu ayo saya antar kamu sampai atas.” “Tidak perlu,” jawab Nadin cepat. Ada apa dengan Wira? Mengapa pria itu bersikap aneh padanya? “Kamu itu kenapa?” “Apanya yang kenapa?” Wira menggeleng. Tanpa mendengarkan penolakan Nadin, pria itu segera menggandeng tangan Nadin menuju lift. “Bapak apa-apaan, sih? Lepasin, saya bisa jalan sendiri.” Wira berhenti melangkah dan langsung memutar tubuhnya, membuat Nadin terkejut dan melangkah mundur. “Kamu pikir saya akan tertipu lagi? Mumpung lift ini bekerja dengan baik, jadi lebih baik kamu menurut saja.” “Tapi―” Belum selesai layangan protesnya, Wira sudah kembali menarik tangannya dan menekan tombol lift. Nadin terus melirik ke arah kanannya. Wira masih menggenggam erat tangannya. Apakah pria itu sadar akan apa yang dilakukannya? Apakah Wira memang terbiasa berbuat baik dengan wanita lain juga, hingga sepertinya tidak lagi canggung melakukan itu pada Nadin?” Wira menoleh tepat saat mendengar Nadin terbatuk beberapa kali. “Kenapa? Apa kamu kedinginan?” Nadin ikut menoleh dan memasang ekspresi bingungnya. “Apa? Tidak?” “Lalu apa kamu flu?” “Tidak.” “Lalu apa yang terjadi sama kamu?” Ekspresi Nadin semakin bingung. “Malam itu apa yang sebenarnya kamu alami?” Bertepatan dengan itu pintu lift sudah terbuka. “Apa kamu mengalami sesuatu? Apa ada sesuatu yang membuat kamu trauma? Apa ada sesuatu yang―” Wira berhenti bertanya. Ia menemukan Nadin yang hanya diam menatapnya, tanpa terlihat akan menjawab pertanyaannya. Wira kembali merasa aneh dengan dirinya. Apa yang terjadi saat ini membuatnya kembali mengulang hal yang sama ketika berada di dalam mobil. Ia tak bisa mengalihkan pandangannya. Tangan Wira terangkat perlahan, hendak menangkup sisi wajah Nadin. Namun belum sampai menyentuhnya, Nadin melepaskan diri dari genggaman tangan pria itu dan melangkah sedikit menjauh. Memberikan cukup jarak aman di antara mereka berdua. “Saya mau mengucapkan terima kasih sama Bapak. Terima kasih sudah mau menolong dan menjaga saya ketika saya beberapa kali sakit. Saya tidak akan melupakan kebaikan Bapak.” Selesai mengatakan itu, Nadin segera keluar dari lift dan pergi begitu saja. Wira masih terdiam di posisinya. Mungkin ia sedang meratapi apa yang tadi hendak ia lakukan pada Nadin. Bunyi pintu lift yang hendak tertutup menyadarkannya. Ia segera menekan kembali tombol dan keluar dari dalam lift. Ia berdiam diri untuk ke sekian kalinya. “Lo pasti udah gila, Wira.” Wira bergidik ngeri pada dirinya sendiri. Apakah karena situasi di dalam lift yang begitu mendukung hingga ia sampai tidak sadar akan melakukan sesuatu pada Nadin?   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN