Five | Under His Control

2168 Kata
Pagi ini, Nadin sengaja bangun jauh lebih awal untuk bersiap kerja. Ia sudah memutuskan untuk bertahan dan tidak akan mengalah begitu saja dari Wira. Harga dirinya terlalu tinggi untuk kembali ke hadapan Pak Wisnu tanpa membawa hasil terbaik darinya. Dan ia juga yakin bisa membuat Wira menerima dirinya dengan normal sebagaimana karyawan yang lainnya. Nadin selesai mengenakan pakaiannya. Ia menggunakan kemeja putih yang dibalut dengan blazer slim fit, beserta rok hitam senada di atas lutut. Ia juga mengenakan heels hitam yang menambah kesan profesionalitas kerjanya. Tak lupa ia menata rambutnya dengan membuat sedikit volume pada rambut hitam panjangnya. Bibir Nadin sontak tersenyum lebar saat melihat penampilannya yang cukup menawan tanpa sesuatu yang berlebihan. Ia ingin menunjukkan pada Wira bahwa ia adalah karyawan yang datang untuk bekerja dan tidak bisa pergi karena perintah tidak masuk akal dari lelaki itu. “Ini bukan lagi berjuang sama Pak Wisnu, tapi bertarung untuk melembutkan hati Elwira.” Wajah Nadin sontak mengerut tak nyaman. “Kok agak jijik ya, ngebayangin melembutkan hati dia. Pokoknya apa pun yang dia omongin, jangan ada yang diambil hati, Nad. Lo pasti bisa berdiri di atas kaki lo sendiri selama enam bulan ke depan. Elwira pasti akan melunak suatu saat nanti. Dan lo pasti akan bawa laporan terbaik yang bisa lo tunjukkni ke depan Pak Wisnu.” Dengan penuh semangat 45, Nadin keluar dari apartemennya sambil membawa plastik sampah untuk ia bawa keluar. Nadin meletakkan plastik sampahnya di dekat pintu unit apartemennya. Hari ini adalah jadwal pengambilan sampah, sehingga beberapa tetangganya sudah menaruh plastik sampah di luar. Berbeda dengan ia dan tetangganya yang lain, unit apartemen di samping kirinya tidak mengeluarkan sampah apa pun. Bahkan depan unit apartemennya sangat rapi dan tertata. Nadin jamin jika penghuni unit di sampingnya adalah seorang wanita yang sangat menyukai kebersihan, atau mungkin seorang lelaki yang tsundere? Nadin pergi menggunakan taksi menuju hotel. Ia masih belum memahami rute kendaraan umum di Malang, sehingga ia tidak ingin mengambil risiko telat. Sesampainya di hotel, Nadin diam sejenak di depan gedung hotel. Ia berdiri diam sambil menatap TM Hotel Malang yang berdiri megah di hadapannya. Rasanya sedih karena melihat TM Hotel Malang kehilagan ketenarannya sejak tiga tahun yang lalu. Saat ini, TM Hotel Malang berada di urutan nomor 1 cabang TM Group yang perlu dikaji ulang agar tidak sampai bangkrut dan memulangkan semua karyawan yang bergantung pada pendapatan hotel tersebut. “Ayo, semangat!” *** Wira memijakkan kakinya di lobi tepat pukul 10. Itu pun ia terbangun karena sudah diteror berkali-kali oleh Rizal. Hari ini ada satpam yang berjaga di pintu lobi sambil menyapa, sedangkan Wira hanya memasang wajah datar dan langsung melengos pergi. Tatapan yang tak pernah berubah dan selalu sama sejak ia menginjakkan kaki di kantor itu. Ia naik lift diikuti dengan Rizal yang sudah ada di belakangnya. Keduanya berhenti di lantai 4, tempat di mana ruangan Wira berada. Tak sadar helaan napas panjang begitu terasa begitu ia menyadari meja-meja karyawannya yang semakin kosong tak berpenghuni. “Selamat siang, Pak Wira!” Wira langsung menyentuh bagian dadanya yang seakan ingin meledak karena kaget. Ia melihat Nadin sudah berdiri di depan ruangannya. Nadin tersenyum dengan memperlihatkan giginya. “Maaf, kalau Bapak kaget. Selamat siang juga Pak Rizal.” Rizal tersenyum simpul membalas sapaan dari Nadin. Ekspresi yang santai Nadin berikan tanpa beban, walaupun Wira sudah menatapnya tajam. Ia sama sekali tidak terpengaruh walau Wira melototi dirinya sampai kedua bola matanya menggelinding sekali pun. “By the way, Bapak tahu sekarang pukul berapa?” tanya Nadin sambil menatap kedua mata Wira lurus. “Kamu pakai jam tangan.” “Bapak sudah terlambat 2 jam. Yang saya tahu, karyawan pusat maupun yang ada di cabang anak perusahaan, semuanya mendapat jatah kerja yang sama, yaitu dari pukul 8 sampai pukul 4, termasuk cabang hotel ini. Koreksi jika saya salah.” “Apa Pak Wisnu juga minta agar kamu mengabsen saya seperti ini?” “Tergantung cara Bapak bersikap.” Wira menghela napas panjang. “Pergilah. Ini masih pagi, jangan buat mood orang buruk karena sikap kamu.” “Pukul 10 itu sudah menjelang siang, Pak. Lagi pula, saya, kan, hanya berbuat baik dengan mengingatkan Bapak. Saya khawatir karyawan yang lain mungkin punya pikiran buruk tentang Bapak.” Mata tajam Wira lantas menatap ke depan sana. Melirik satu-persatu karyawannya yang terlihat sibuk di mejanya masing-masing, kecuali tim marketing yang sudah bepergian untuk mencari klien baru. “Saya tidak peduli. Dan kenapa kamu masih di sini?” tanya Wira to the point, tak memedulikan kalimat Nadin yang menyindirnya. “Memangnya Bapak minta saya pergi ke mana?” “Jangan bersikap bodoh.” Nadin menarik napas panjang dan “Saya dikirim Pak Wisnu resmi untuk membantu hotel ini selama 6 bulan. Jika Bapak mau protes, Bapak bisa langsung sampaikan pada Pak Wisnu, karena pimpinan saya saat menerima perintah itu hingga saat ini saya berada di sini adalah Pak Wisnu.” Kening Wira langsung mengerut dalam, tak suka dengan penyampaian Nadin padanya. “Satu lagi, berhenti memanfaatkan Pak Rizal untuk kepentingan pribadi Bapak. Pak Rizal itu seharusnya justru digunakan untuk membantu perkembangan bisnis hotel ini.” Rizal tersenyum samar mendengar asisten baru Wira yang begitu berani berkata-kata. Tapi masalahnya bukan itu, Wira sudah kebal dengan banyak orang yang membencinya secara sembunyi maupun terang-terangan. Pasalnya sebelum Nadin ada, Rizal juga sudah sangat sering menceramahi Wira. Tapi semuanya tak ada yang berguna dan didengar. Semuanya hanya dianggap angin lalu oleh Wira. Wira bersidekap d**a. Mengangkat dagunya lebih tinggi, mencoba menunjukkan kekuasaan pada perempuan kurang ajar yang berani menceramahinya. “Siapa kamu berhak menceramahi saya?” “Seharusnya sejak kemarin saya adalah asisten Bapak, tapi karena pertemuan pertama kita kemarin berjalan dengan sangat tidak baik, maka saya ingin mencobanya lagi hari ini. Saya akan mencoba membantu Bapak untuk bisa mengembangkan kantor cabang ini.” Wira tersenyum sinis. Membuat Nadin menatapnya kesal sekaligus aneh. “Kenapa Bapak senyum begitu? Ada yang salah dari kata-kata saya?” “Apa kamu belum pernah dengar rumor tentang hotel ini?” “Rumor apa?” “Rumor kalau hotel ini dikutuk. Tidak akan pernah bisa maju dan hanya akan membawa kerugian.” Wira memajukan wajahnya agar lebih dekat dengan Nadin. Ditatapnya mata berwarna cokelat terang milik Nadin. “Dan kamu, hanya orang bodoh yang bersedia datang menunggu kehancuran hotel ini.” “Kalau Anda pikir saya akan mundur saat ini juga, Anda salah besar Bapak Wira yang terhormat. Akan gue buktikan ke Pak Wisnu, kalau gue juga bisa ikut andil dalam kemajuan hotel ini. Akan gue buat Pak Wisnu menyesali keputusannya buang gue ke sini.” “Jadi bagaimana? Apa kamu sudah memikirkan kapan kamu akan kembali ke Jakarta?” Nadin tersenyum simpul. “Tentu saja tidak, Pak. Izinkan saya memperkenalkan diri dengan resmi, saya Nadin Nasution yang telah resmi menjadi asisten Bapak. Mohon kerja samanya selama 6 bulan ke depan.” Wira mengangguk singkat tak percaya. Rupanya perempuan di depannya cukup keras kepala. “Jika kamu asisten saya, apa yang bisa kamu lakukan untuk saya dan hotel ini? Sejauh apa kamu bisa memberikan manfaat untuk semua yang ada di sini?” “Bapak bisa memperlakukan saya seperti yang lainnya. Saya akan melayani dan membantu Bapak. Silakan sampaikan pada saya semua yang Bapak butuhkan untuk memimpin hotel ini.” “Oh, begitu ya?” tanya Wira dengan mata menyipit. Nadin menatap Wira dengan curiga. Sikap tubuhnya menandakan kewaspadaan, walau pada akhirnya ia mengangguk begitu saja. “Baiklah kalau begitu. Saya mohon kerja sama yang baik dengan Anda, Nona Nadin.” Detik itulah Nadin baru bisa berpikir jernih. Anggukan kepalanya hanyalah bom yang dapat meledak suatu saat. Ia tidak percaya, jika ia telah menggali lubang kuburannya sendiri.   *** Nadin mengembuskan napasnya panjang sambil menatap ke ruang kerja Wira. Sejak pria itu datang, pintu selalu tertutup. Pria itu bukan hanya tidak memberinya pekerjaan, melainkan mengabaikannya. “Apa dia serius nggak kasih gue kerjaan?” keluhnya. “Harusnya gue merasa senang gitu ya? Tapi kenapa gue malah merasa tertekan kerja serasa pengangguran begini?” lanjutnya bermonolog. “Mau ikut makan siang bareng?” tawar seorang wanita yang melipir ke mejanya bersama seorang karyawan yang lain. “Nadin,” ujar Nadin sopan memperkenalkan dirinya pada 2 karyawan wanita yang terlihat di depannya. “Saya Dewi, bagian accounting di sini.” Nadin tersenyum kecil sambil membalas genggaman tangan itu. “Salam kenal, Mbak.” “Saya Santi, sales marketing.” “Salam kenal Mbak Santi, saya Nadin.” “Jadi mau ikut kita makan siang bareng?” Nadin langsung mengangguk tanpa berpikir menolaknya. “Saya dengar Mbak pindahan dari kantor pusat ya?” tanya Dewi. “Kok bisa pindah ke sini, Mbak?” lanjut Santi sebelum Nadin sempat menjawab pertanyaan Dewi. “Padahal karyawan di sini aja banyak yang mengeluh ingin keluar, Mbak malah datang ke sini.” Kedua mata Nadin sempat melirik sekilas pada ruang kerja Wira. Pria itu masih duduk di meja kerjanya seorang diri. Entah apa yang pria itu lakukan. Bekerja atau bermain-main, Nadin tak tahu. “Oh, itu, karena permintaan dari Pak Wisnu. Saya hanya menjalankan perintahnya saja.” “Dan Mbak mengiyakan langsung?” tanya Santi penasaran. Nadin hanya membalasnya dengan senyum kecil. Mengingat kejadian itu hanya akan membuat rasa kesalnya menguap kembali. Ketiganya memutuskan pergi menuju lift. Saat melewati ruang kerja Wira, Nadin masih melihat jika pria itu masih berada di dalam ruangannya. Entah apa yang dilakukan pria itu di dalam sana ketika waktu istirahat sedang berlangsung. “Kenapa, Nad?” Nadin sontak kembali menoleh ke depan. Ia tak sadar jika kedua kakinya berhenti di samping ruang kerja Wira dan menatap ke dalam untuk beberapa saat. “Oh, nggak, Mbak. Tapi apa Pak Wira kalau makan siang sering telat?” Dewi tersenyum kecil. “Yang benar adalah Pak Wira hampir nggak pernah makan siang.” “Apa?” “Bener yang dibilang Mbak Dewi itu. Dari awal aku kerja di sini, bisa dihitung jari berapa kali Pak Wira keliatan makan. Itu pun biasanya harus dipaksa dulu sama Rizal.” Nadin menatap Wira dengan sedikit berbeda. Bertepatan dengan tatapannya yang dalam seolah masih ingin mempelajari pribadi pria itu, Wira menoleh dan menatap tepat ke arah wajahnya. Satu alis Nadin naik merasa terkejut. Namun, Nadin memberikan senyum simpul dengan santai dan segera pamit dari hadapan Wira. *** “Jangan aneh dengan cara kerja Pak Wira ya, Nad,” ujar Santi. “Maksudnya?” “Pak Wira memang orangnya suka menyendiri. Nggak pernah bergaul dengan karyawannya selain Rizal. Kalau biasanya atasan itu akan membuat inovasi dan kreasi untuk memajukan kantornya, ini terasa kebalikan.” “Sederhananya, Pak Wira nggak ingin hotel ini maju,” tambah Dewi yang membuat Nadin semakin mengerutkan keningnya. “Kenapa?” tanya Nadin bermonolog. Ia masih tidak percaya dengan apa yang diceritakan oleh Dewi dan Santi saat mereka makan siang bersama tadi. “Kenapa Pak Wisnu masih mempekerjakan dia yang justru nggak ingin hotel ini maju? Bukankah itu justru akan membuat Pak Wisnu rugi besar kalau sampai hotel ini tutup? Dan apa tujuan cowok itu sebenarnya?” tanyanya dengan mata menyipit serius menatap Wira yang terlihat samar dari kaca ruang kerjanya. “Aish, pusing banget gue mikirin itu!” kesalnya sambil meremas kertas pada buku catatannya yang hanya ia corat-coret sejak pagi. Nadin sontak berdiri melihat Wisnu yang keluar dari ruang kerjanya. Ini sudah hari ketiga Nadin berada di hotel cabang Malang, tetapi Wira sama sekali tidak memberikan arahan dan sesuatu yang bisa dikerjakan oleh Nadin. Pria itu memang jelas sengaja mengabaikannya. “Bapak mau ke mana? Biar saya ikut,” tawar Nadin. “Toilet. Apa masih mau ikut?” tanya balik Wira tanpa menghentikan langkahnya. Nadin berdecak pelan dan melangkah cepat ke depan tubuh Wira hingga pria itu terpaksa berhenti. “Kenapa? Ada masalah?” tanya Wira. “Bapak tanya kenapa? Apa Bapak nggak sadar ada saya di sini?” tanya Nadin dengan ekspresi yang terbaca kesal oleh Wira. Wira mengangguk singkat. “Tenang saja, kamu masih berwujud manusia,” jawab pria itu yang membuat ubun-ubun Nadin mendidih. “Bapak sengaja lakuin ini sama saya? Bapak sengaja abaikan saya?” “Kenapa saya harus mengabaikan karyawan terbaik pilihan Pak Wisnu? Apa saya tidak waras?” “Bapak jelas lakuin itu sama saya,” ucap Nadin dengan penuh penekanan pada setiap katanya. “Saya kerja di sini di gaji Pak, jadi saya harus bekerja. Padahal banyak hal yang bisa saya kerjakan, tapi kenapa Bapak tidak pernah kasih saya kerjaan?” “Katanya kamu mau membantu saya di sini.” “Iya. Tapi Bapak tidak pernah kasih saya kesempatan untuk membantu.” “Kamu sudah cukup banyak membantu.” “Apa yang sudah saya bantu?” tanyanya tak mengerti. “Dengan duduk diam dan jangan lakukan apa pun. Hanya duduk pun gajimu akan dibayar penuh, karena kamu karyawan favorit Pak Wisnu.” Wira menghempaskan tangan gadis itu dari lengannya. Ia selesai menatap lurus Nadin dan segera pergi dari hadapannya. Nadin masih berdiri di posisinya semula sambil menatap kepergian Wira dengan terkepal erat. “Benar-benar menyebalkan. Mukanya itu benar-benar timpang dengan kelakuannya. Pantas aja ada pepatah yang bilang ‘selalu ada kekurangan di tiap kelebihan’.”   ♥♥♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN