Part 6

2033 Kata
Sebelum tengah hari, Fadlan dan Alya tiba kembali di rumah kakak laki-laki itu, Aimah. "Yakin elu gak mampir dulu?" tanya Fadlan sebelum turun dari kendaraan yang dikemudikan Alya. Gadis itu melongok sebentar ke arah pekarangan rumah, lantas menggeleng pelan. "Gak deh, Lan. Lain kali aja," jawabnya usai berpikir beberapa saat. 'Jam segini, kakak iparnya si Fadlan ini pasti belum belum pulang dari kantor. Hhmmm, buat apa? Gua cuman bakalan ditemui istrinya.' "Ya, udah kalo begitu. Gua balik dulu, ya?" ujar Fadlan seraya membuka pintu mobil. "O, iya. Makasih atas traktiran elu hari ini ya, Lya." Alya mengulum senyum, kemudian membalas, "Santai aja, Lan. Justru gua yang kudu banyak terima kasih ama elu, karena udah banyak ngebantu gua buat nuntasin tugas kuliah gua selama ini." "He-he," kekeh Fadlan begitu turun dan menutup pintu. "Sesuai ama janji gua dulu, Lya. Kita sama-sama ngelarin kuliah bareng-bareng. Masih inget?" "Pastilah. He-he." "Oke, sampe nanti, ya?" Balas Alya, "Siap, Bos. Gua jalan dulu, ya. Eh, salam juga buat kakak elu." "Insyaa Allah gua sampein entar," timpal Fadlan, tapi kemudian bertanya, "Eh, kakak gua yang mana, nih?" Alya tidak menjawab. Gadis itu hanya melempar senyum kecil, lalu bergegas menjalankan kendaraan meninggalkan Fadlan di depan pintu pagar. Laki-laki muda itu menatap Taft-nya Alya hingga hilang dari pandangan. Senyum kecil seketika menyeruak menghiasi bibir Fadlan disertai tatapan semringah. Hatinya pun ikut berbisik lembut, 'Alya, sebenernya perempuan baik. Dia terlihat angkuh selama ini, karena keadaan yang telah merenggut sebagian mimpi-mimpinya. Terutama atas sikap papa dia itu. Hhmmm, tapi kenapa akhir-akhir ini aku merasa nyaman sama Alya, ya? Apakah—' "Lan," panggil satu suara di belakang anak muda tersebut. Fadlan terkejut dan spontan menoleh. Seketika senyumnya hadir begitu melihat seraut wajah tengah menatap tajam. "Eh, Kak Aimah. Assalamu'alaikum, Kak," ucap Fadlan seraya meraih tangan Aimah, menyalami, serta menciumnya takzim. "Kamu kenapa gak bales panggilan Kakak? Pesan pun cuman dibaca doang," kata Aimah sambil memperhatikan adiknya. Fadlan menggaruk kepala yang tidak gatal. Merasa bersalah dan berusaha mencari-cari alasan tepat. Ungkap laki-laki muda itu kemudian, "Maaf, Kak. Handphone Alan lowbat. Semalem gak sempet nge-charge di rumah Mirza." Aimah mengangkat alis tinggi-tinggi. "Beneran kamu semalem nginep di rumah Mirza?" tanya seperti tengah menyelidik. "Iya, Kak. Semaleman kami emang ngerjain tugas skripsi. Kakak bisa telpon langsung orangnya kalo Alan dikira bohong." Perempuan berusia 38 tahun itu tersenyum manis. Ujarnya kemudian, "Kakak percaya sama kamu, Lan. Cuman kalo dihubungin itu, cepetan dibales kenapa, sih? Tadi pagi Abangmu juga nanyain kamu, lho." "Iya, maaf, Kak. He-he." "Terus?" "Apanya?" Alis Aimah kembali meninggi. "Apaan sih, Kak?" tanya kembali Fadlan bingung. Jawab Aimah disertai senyuman penuh makna, "Cewek tadi itu, siapa?" "Cewek?" Fadlan teringat pada sosok Alya. "Oohhh, itu. He-he. Dia temen kampus Alan, Kak. Namanya …." ★ ✩ ★ ✩ ★ ✩ ★ " … namanya Alya, Lan," tutur Bram petang harinya begitu pulang dari kantor dan bertemu Fadlan. "Pagi-pagi banget nyariin kamu." "Iya, Bang. Tadi siang Kak Aimah juga nanyain temen Alan itu. Dia memang cuman temen sekampus dan Alan bantu-bantu dia buat nyusun skripsi. Gak lebih, kok." Bram manggut-manggut. Seloroh laki-laki berperawakan atletis itu kemudian, "Ooh, cuman temen. Cantik juga ya temenmu itu?" "Mas!" seru Aimah yang turut berada di antara mereka disertai mata mendelik. Kedua laki-laki itu serempak melirik. Timpal Bram bermaksud bercanda, "Kenapa, Dek? Perempuan 'kan memang cantik. Kalo laki-laki ganteng. He-he." Gerutu Aimah mengambek, "Iya, tapi maksud Mas Bram 'kan bukan begitu. Kata 'cantik'-nya itu lho mengandung sesuatu." "He-he. Adek cemburu?" goda Bram semakin menjadi-jadi, kian membuat raut wajah istrinya mendung dan cemberut. "Enggak!" Fadlan menimpali, "Alan gak ikutan, ya. Hi-hi." "Kamu juga, Lan. Sama aja kayak Abangmu ini!" semprot Aimah pada adik kandungnya. "Idiihhh, kenapa Alan jadi kebawa-bawa, Kak? Yang bilang cantik 'kan Bang Bram. Iya gak, Bang? Tanggung jawab, tuh, Kak Aimah jadi sensi begitu. Hi-hi," kilah Fadlan seraya cekikikan geli melihat mereka 'ribut'. "Au, ah!" balas Aimah dengan bibir mengeriting. "Ssttt …." Bram menempelkan telunjuk di bibir pada adik iparnya. Meminta agar dia segera diam. Lantas berusaha mengalihkan kembali suasana. "Udah lama kalian berdua temenan?" tanyanya tanpa pada Fadlan tanpa melirik Aimah. "Baru beberapa bulan lalu sih, Bang," jawab Fadlan langsung sigap menyesuaikan suasana. "Kebetulan aja. Tadinya malah cuman kenal biasa doang." "Maksudmu?" "Yaaa, cuman sekedar tahu sekelas aja, Bang." "Terus bisa deket sama kamu, 'gimana ceritanya?" tanya Bram bertubi-tubi sekaligus mengubah raut wajah Aimah yang tadinya cemberut, kini seperti turut ingin tahu kelanjutan cerita Fadlan. Anak muda itu menarik napas panjang sejenak, lantas mulai mengisahkan kembali awal kedekatan mereka hingga kini. " … begitu ceritanya, Bang-Kak," ujar Fadlan mengakhiri tutur ceritanya. "Kasihan juga 'kan kalo gak ditolong, Bang-Kak?" "Iya juga, sih," jawab Bram seraya mengangguk-angguk. "Bangka?" celetuk Aimah tiba-tiba. "Bangka apaan, Dek? Martabak?" tanya Bram heran. "Itu tadi Fadlan bilang … bangka," kata Aimah menunjuk adiknya. Langsung ditimpali Fadlan, "Maksud Alan tadi … Abang Bram dan Kakak Aimah. Disingkat jadi Bang-Kak. Dih, 'gimana, sih? Jadi ngaco begini." "Oohh, 'gitu? Hi-hi." Aimah cekikikan. Bram menoleh pada istrinya, lantas bertanya, "Adek lapar? Ya, udah kita masak mi instan aja yuk, Lan." Dia mengajak adik iparnya ke dapur. "Makan di luar aja yuk, Mas. Udah lama lho kita gak pacaran lagi," ajak Aimah tiba-tiba. Bram memutar kepala ke arah Fadlan. "Kamu ikut, Lan?" tanyanya kemudian. "Ngikut ngelihat Abang sama Kakak pacaran? Ogah!" jawab anak muda itu jengah. Disambut tawa kedua kakaknya. ★ ✩ ★ ✩ ★ ✩ ★ "Bang, aku mau nanya. Boleh gak?" tanya Aimah saat sudah berada di luar rumah mencari jajanan malam. Bram yang sedang mengipas-ngipas kepulan asap pembakaran sate, menjawab, "Tanya aja. Kenapa gak boleh?" Perempuan yang usianya berbeda tiga tahun lebih tua dari Bram itu menelan ludah, sebelum lanjut bertanya. "Laki-laki kalo ngelihat perempuan itu dari segi apanya, sih?" "Tergantung kebutuhan, Dek," jawab laki-laki itu singkat. Aimah mengentakkan kaki, lantas berujar, "Ih, jawabnya yang panjang dong, Mas." Goda Bram seketika, "Adek suka yang panjang-panjang?" Kemudian tertawa sebentar sampai tukang sate maranggi menoleh ke arah mereka. "Idih, Mas ini!" seru Aimah dengan pipi mendadak berubah warna. Merona padam. "Aw!" teriak Bram begitu jemari lentik Aimah mencubit nyeri kulit lengannya. "Adek kebiasaan ih suka nyubit-nyubit," gerutunya seraya mengusap-usap bekas cubitan tadi. Ditaksir, beberapa lembar bulu halus di lengan laki-laki itu ikut tercabut. Rasa perihnya beda. "Lagian, ditanya apa, jawabnya ke mana," kilah Aimah beralasan. Namun wajahnya belum kunjung kembali dingin. "Maksud aku itu, jawabannya sedikit ilmiah, Mas." Bram sebenarnya enggan membahas masalah seperti itu. Terlalu rentan dan berpotensi mengundang cubitan susulan. Perempuan memang begitu. Kebanyakan. Suka main cubit-cubitan. Sekalinya dibalas malah dinilai menzalimi. Curang, 'kan? "Kenapa sih pake tanya-tanya soal begituan, Dek? Lagian kalopun aku jawab juga, jawabannya belum tentu sama ama pendapat laki-laki lain. Soalnya, bisa jadi ini bersifat subjektif," ucap Bram masih berusaha menghindari topik sensitif seperti itu. Aimah ikut mengusap-usap bekas cubitannya pada lengan Bram. Salah satu trik perempuan guna meredam kekesalan dan sekaligus merayu suaminya agar mau menjawab pertanyaan tadi. Terus terang saja, juga menikmati sentuhan halus bulu-bulu itu menggaruki permukaan telapak tangan. Geli-geli bagaimana begitu jika dihayati lebih dalam. "Yaaa, tinggal jawab aja, Mas. Apa susahnya, sih? Sambil … uhuk!" Aimah terbatuk-batuk membaui aroma asap sate kambing dan ayam pesanan mereka, "sambil nunggu satenya mateng. Hi-hi. Uhuk! Uhuk!" "Tapi janji jangan nyubit lagi, ya!" ujar Bram meminta syarat. "Iya, Mas. Ini lagi diusap-usap." Laki-laki itu melirik sejenak ke samping. Memastikan raut wajah di sisinya benar-benar dalam keadaan kondusif. Namun, ya itu tadi. Sikap kaum Hawa kebanyakan sulit ditebak. Sesuai dengan kalimat-kalimat permintaan mereka yang ambigu alias multitafsir. Salah satunya kata 'terserah'. "Eh, apa tadi pertanyaannya, Dek?" tanya Bram mencoba mengulur waktu. Berharap sekali pesanan sate mereka sudah siap dihidangkan. Dengan begitu, ada alasan tepat untuk menunda jawaban. Syukur-syukur malah lupa. Semoga. "Dih, Mas Bram pelupa, ih!" seru Aimah seraya mengeplak lengan suaminya. "Laki-laki kalo ngelihat perempuan itu dari segi apanya. Tuh, begitu tadi aku nanya." "Oohh, itu?" ujar Bram. "Yaaa, tergantung …." "Tuh, 'kan? Pendek lagi jawabannya." "Dih, sebentar, dong," kilah laki-laki tersebut bersiap-siap menarik lengan untuk menghindari cubitan kedua, jika ada. "Baru nyampe tanda elipsis, Dek. Terus elus-elus, dong, biar jadi memanjang hasilnya." "Mas!" "Iya … iya, Dek. Sabar." "Jawab!" "Oke," kata Bram usai menarik napas terlebih dahulu. "Laki-laki kalo nyari perempuan buat bersenang-senang, pasti yang dilihat pertama kali adalah fisiknya." "Terus?" tanya Aimah tidak sabar. "Cantik, bodi semok, kulit mulus, dan lain-lain," tutur Bram kembali. "Sementara kalo buat penjajakan, tentu hal yang harus dinilai adalah penampilan, karakter, serta intelektualitas." "Terus?" Lanjut Bram menjelaskan, "Beda lagi kalo niatnya buat jodoh atau calon pendamping hidup, lebih mengedepankan soal feel alias kenyamanan dan keselarasan. Akan lebih bagus lagi bila ketiga unsur tadi menyatu dalam satu wujud, tentu bukan hanya sekedar pelengkap, tapi pemantapan. Paket komplit yang layak djpertahankan dan dihalalkan sesegera mungkin." "Terus?" "Belakang mentok, Mak," seloroh Bram kesal. "Terus-terus melulu kayak tukang parkir." "Hi-hi. Terus apaan lagi dong, Mas?" "Ya, gak terus-terus. Udah mentok." "Iihhh, sebel!" "Emang kudu ngejawab apalagi, Dek?" Bram berusaha mengakhiri topik obrolan. 'Lama banget sih, itu tukang sate. Gak ngertiin aku kenapa, diinterogasi Ibu Kapolda begini ribetnya. Haduh!' gerutu laki-laki itu dalam hati. "Kalo udah punya paket komplit, kenapa laki-laki masih suka larak-lirik perempuan lain? Hayo!" tuding Aimah semakin mendalam. Untuk jawaban ini, mau tidak mau Bram harus pandai-pandai menggunakan diksi yang tepat. Jika tidak, sosok di sampingnya itu pasti bakalan mengambek lagi. "Yaaa … seharusnya sih, enggak usah larak-lirik lagi, Dek," jawab Bram tapi sambil melirik-lirik tukang sate yang terlihat sedang memindahkan panggangan satenya ke dalam alas khusus. "Tapi karena bola mata ini fleksibel, wajarlah gerak-gerak ke sana-sini sesuai perintah pemiliknya. Hi-hi." "Dih, ngawur!" "Aw!" "Rasain!" "Sakit, Dek." "Au, ah!" Bram tahu, pertanyaan-pertanyaan istrinya itu bukan sekadar mencari-cari pembahasan. Namun pasti ada kaitannya dengan obrolan laki-laki tersebut dengan Fadlan petang tadi. Perihal ungkapan tanya tentang sosok Alya yang cantik. Jujur, sebenarnya dia hanya ingin mencoba menjebak adik ipar. Apakah dari kedekatan mereka berdua ada bibit tertentu di hati Fadlan. Sayang sekali, maksud Bram tadi justru disalahartikan Aimah. Perempuan itu malah dilanda cemburu. "Gak semua laki-laki suka larak-lirik kok, Dek. Perempuan juga ada yang begitu," imbuh Bram sambil kembali mengusap-usap bekas cubitan kedua istrinya. "Enak aja. Biasanya sih, laki-laki, Mas," timpal Aimah tidak mau kalah. "Perempuan juga ada, walauoun gak semuanya," ucap Bram bersikeras. "Buktinya, penggemar Aldebaran kebanyakan dari kaum emak-emak, 'kan? Hi-hi." "Yaaa, itu sih lain, Mas. Aku enggak, tuh!" "Iya, Adek sih lain. Soalnya Aldebarannya … ada di sini, lagi nungguin sate kambing. Ha-ha." "Gak lucu!" sungut Aimah pura-pura marah, tapi sebenarnya bermaksud manja ala-ala ABG 'alay' begitulah. Toweeettt! "Allahuakbar, Dek. Sakiiittt," rengek Bram untuk ketiga kalinya mendapat cubitan di beda-beda tempat. "Uuhhh … uuhhh … uuhhh!" Untunglah pesanan mereka kini sudah siap terhidang di depan mata. Aimah dengan sate ayam, sementara Bram siap melahap sate kambing. "Sesuai pesanan 'kan, Pak?" tanya laki-laki itu sambil memperhatikan tusukan daging di dalam wadah. Jawab tukang sate, "Iya, Pak. Torpedonya, 'kan?" "Mantap!" seru Bram antusias. Aimah melirik wadah pesanan suaminya, lantas tersenyum pilu. Dia paham, sepulang dari situ harus bersiap-siap mengenakan pakaian dinas khususnya. Terus sebelum Subuh tiba besok, harus sudah bersuci kembali. Begitu semangat sekali Bram sejak sepuluh tahun terakhir ini menunaikan tugas, serta berharap agar keinginan mereka lekas terwujud. Sebagaimana impian ibu mertua Aimah dulu sewaktu masih hidup. Namun sayang sekali, hingga menutup mata di usia pernikahan Bram, anaknya, menginjak angka lima, harapan almarhumah Welas belum juga terkabul. Haruskah Aimah bertahan dengan keegoisannya? Membiarkan rantai keturunan Bram terputus pada dirinya. Mengakui kekurangan diri, lantas merelakan sang suami mencari bibit perempuan lain yang lebih menjanjikan dan subur. Sanggupkah Aimah menjalani kehidupan semacam itu kelak? Berbagi cinta orang yang paling dikasihi atau malah memilih mundur teratur. Apalagi usianya sudah hampir memasuki usia tidak produktif, rawan, atau bahkan sama sekali tidak akan pernah bisa menghadiahi Bram seorang anak pun? Aimah benar-benar merasa menjadi istri yang tidak sempurna. Sebentar lagi Fadlan lulus kuliah. Berarti kebutuhan pengeluaran akan sedikit berkurang. Bisakah di sisa waktu singkat nanti mereka sanggup mengikuti program bayi tabung yang mahal itu? Sangat beresiko, pikir Aimah kembali. Jadi, wajar saja jika suatu saat kelak hati Bram akan berpaling pada sosok perempuan lain. Ya, Allah! Hati perempuan itu menjerit perih. BERSAMBUNG Sukabumi, 30 November 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN