*** Saat aku sudah selesai dengan urusan dapur yang memang tidak banyak, aku melihat Mas Azam kembali dari teras tanpa menoleh kepadaku lagi. Ia masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan kencang. Aku menghela napas dengan berat melihat itu. Mungkin Mas Azam tidak bisa menghubungi Mbak Lia hingga dia kesal setengah mati. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Sudahlah, untuk saat ini tidak ada yang bisa kulakukan selain mendoakan keduanya. Semoga saja masalah Mbak Lia dan Mas Azam segera dapat diselesaikan. Kutinggalkan dapur setelah merasa tak ada lagi yang perlu aku lakukan. Langkahku membawa tubuh ini menuju kamarku sendiri. Aku membutuhkan istirahat yang cukup sekarang karena besok aku harus mengajar lagi. Tak ingin diriku meninggalkan Madrasah terlalu lama. Kutarik selimut setela

