Darah Bell “Hai.” “Hai, Bell.” Habile tersenyum melihat kedatangan Bell di beranda kamarnya setelah satu minggu mereka tidak berjumpa. Dia tidak tahu bagaimana cara menghubungi Bell terlebih sekolah diliburkan selama dua minggu. “Aku harap aku masih diizinkan mencicipi kue buatanmu,” ujar Bell dengan mimik mulai salah tingkah. “Kau pencicip resmiku.” Habile bangun dari kursi santainya dan berjalan menghampiri Bell yang berdiri di dekat pagar beranda dengan rambut panjangnya yang bewarna keperakan berkibar diterpa angin. “Ah, oh, itu suatu kehormatan bagiku.” Bell lebih panik lagi ketika Habile semakin dekat dengannya. Dia berkeringat. “Bell-“ “Habile maafkan aku!” potong Bell. “Aku yang seperti ini tidak pantas menjadi sahabatmu. Aku akan pergi jika kau merasa jijik padaku. Aku t

