“Sadar! Sadar! Sadar kau Bell!” Bell memukul-mukulkan kepalanya ke meja bangkunya. “Haha aku sudah gila.” Hanya ada Bell sendiran di dalam kelas karena dia datang awal seperti biasanya. Dia hanya bisa menangis dalam batin sembari menyembunyikan wajahnya di atas meja. Dia tidak habis pikir apa yang sudah terjadi padanya. Bisa-bisanya dia tidak melakukan pembalasan pada Cloud dan memilih kabur di saat vampir itu tertidur. “Dia mengambil ciumanku lagi! Aku ingin membunuhnya!” teriak Bell frustasi. “Kau ingin membunuh siapa?” “Hah?!” Bell tersentak. Dia menoleh dan mendapati Habile tengah berjalan ke arahnya. “Ha-Habile ...” “Selamat pagi,” sapa Habile seperti biasanya. “Habile, kemarin-“ “Untukmu.” Habile menyodorkan sekotak kue yang berbentuk hati. “Kelihatannya enak, eh, tunggu buk

