P 200 J 58 (ENDING)

1607 Kata

Yang ada hanya kekakuan dan canggung. Aku bergeming masih menggenggam jemari Ibu. Mataku memanas, Ibu terlihat mengatupkan bibirnya. Menahan sesak sepertinya, tak jauh beda denganku. Justru kesakitan ibu pasti lebih besar. "Bisa kita bicara, bertiga," pinta Papa kemudian. Sekilas aku dan Ibu saling berpandangan. Mataku bergerak menangkap sosok yang berdiri disana yang membuang pandangannya. Ini tak baik … Kenzi menyenggol lenganku, karena aku tak merespon Papa. "Sayang," panggilnya kemudian. Bukan aku tak mendengar ucapan Papa, aku hanya sedang sibuk dengan perasaanku sendiri tentang Ibu. Bagiku rasaku sendiri sudah tak penting lagi. Aku mengangguk pelan tanpa bicara, karena memang tak tau harus bicara apa. Pikiranku buntu, tak dapat memikirkan apapun sekarang. Aku menggandeng tanga

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN