Falling Without Knowing

1671 Kata
Jeno, Renjun dan Shuhua sedang berjalan kearah ruang Lab Biologi. Sebenarnya hari ini mereka telat. Tapi karena penjagaan tidak seketat hari senin, mereka bisa kabur dengan gampang. Gimana caranya? Ya, numpang ikut mobil Papa Jaemin. Dia yang punya sekolah, jadi santai saja. Shuhua mengetuk pintu kaca Lab lima kali mengikuti ketukan Anna di film Frozen saat memanggil Elsa. "Masuk." Perintah seseorang dari dalam. Begitu masuk, ketiganya otomatis menjadi pusat perhatian. "Kenapa telat?" Tanya Mrs. Park. Eh? Kok bukan Mrs. Park yang sedang berdiri menjelaskan? Jeno mengerjap melihat Yeji sudah lengkap dengan almamater putih science nya berdiri di podium didepan kelas tepat didepan papan tulis. Gadis ini bahkan mengajar di Sekolah? Jeno tak habis pikir. "Biasa, macet." Renjun menjawab. Tapi Yeji menanggapi dengan sebelas alis terangkat tak percaya. Jeno yang melihat itu mendengus. "Lo pasti tau jawabannya dengan liat muka gue." Timpal Jeno sambil membuka maskernya. Sekarang gadis itu yang membelalakan mata melihat luka sobekan dan lebam di wajah Jeno. Yeji mengerjap sebelum memberi tatapan sengit pada Theo yang menyeringai lalu mengangguk seolah membenarkan tuduhan Yeji. "Yaudah. Absensi terus duduk." Jeno langsung melimbai dengan wajah datarnya, berbeda dengan Renjun dan Shuhua yang memberi gadis bermata tajam itu senyuman manis dan acungan dua ibu jari. "Okay, buka buku paketnya di bab Mitosis." Ujar Yeji sambil sesekali melirik pada Pria yang sama sekali tak mengindahkan kehadirannya. Tanpa tahu ada sepasang mata yang mengawasi pergerakan itu dengan tangan terkepal kuat. ? "Alright, Yeji. Thank you." Ujar Mrs. Park yang baru masuk 15 menit sebelum jam biologi berakhir. Gadis itu mengangguk setelah menjelaskan bab tentang mitosis, lalu ia kembali untuk duduk diantara murid lainnya. Mata indah itu mengedar mencari kursi kosong dan terhenti saat ia melihat hanya ada satu tempat duduk dan itu berada di satu meja dengan saudaranya. Jeno. Well, dia tidak punya pilihan lain, bukan? Gadis itu menghela nafas kelat lalu duduk di samping pria dingin yang masih tidak menghiraukan eksistensinya. "Baik, karena tadi penjelasan Yeji sudah jelas sekali, saya yakin kalian sudah mengerti. Sekarang saya mau kalian membagi kelompok untuk sebuah proyek penelitian seputar Mitosis. Tidak perlu repot-repot memilih, kalian cukup melakukannya dengan teman sebangku kalian." Jelas guru peremouan yang tengah mengandung besar itu. "Saya sudah menentukan 10 objek penelitian. 1 untuk masing-masing pasangan." Mrs. Park berkeliling membagikan kertas berisi objek penelitian. Yeji mengambil kertas kecil itu lalu membacanya, 'Ujung akar bawang'. Yeji lalu menyodorkan kertas kecil itu pada pria disampingnya yang hanya melirik sebentar lalu mengangguk. "Besok, sepulang sekolah kalian bawa objek penelitiannya minimal 4 sampel. Lab ini terbuka untuk kalian sampai pukul 8 malam. Laporan saya tunggu minggu depan." "Yes, Mam!" Ujar kelas serempak. "Alright, then. That's all for today." Semua beranjak dari Lab SB02 di lantai 6 kecuali sepasang anak adam yang masih duduk disana. Yang perempuan ingin berbicara tapi ragu sedangkan yang pria tahu ada yang ingin dibicarakan jadi dia menunggu walau raut terpaksa itu tercetak jelas diwajahnya. "What?" Tanya Jeno tak sabaran. "I... K-kapan mau beli bawangnya?" "Pulang sekolah aja. " "S-siapa yang m-mau beli?" "Lo. I'm busy." Ujar Jeno lalu bangkit untuk keluar. Yeji ikut berdiri menatap punggung kokoh saudara laki-lakinya. "Jeno, Your face-" "Gue minta lo buat gak peduli, kan?" Sela Jeno menatap tak suka pada Yeji yang mengerjap lalu menghela nafas lelah. "Right, I'm sorry." Sulit sekali mendekati saudara tirinya ini. Jeno mendengus keras lalu pergi meninggalkan gadis itu sendirian. Selalu saja mencoba ikut campur. Gerutu Jeno. ? Keesokan harinya, Jeno sudah menunggu di Lab. Pria itu melirik jam tangannya dan melihat waktu sudah menunjukan jam 6:00 PM. Langit sudah menggelap dan gadis yang sedang ia tunggu belum muncul. Jeno berdecak ketika Renjun dan Shuhua sudah menyelesaikan penelitian mereka dan pamit duluan. Barusaja hendak bangun, ia melihat Yeji masuk dengan nafas terengah. "Maaf. Gue harus bantuin Yuna sama Chenle nyiapin acara camp tadi." Jelas gadis itu sambil duduk di kursi yang mejanya Jeno duduki. "Ck!" Jeno berdecak pelan. Dia ingin memaki tapi karena orang yang ingin ia maki telat karena menolong adik-adiknya, ia bisa apa? "Langsung aja. Gue ada urusan setelah ini." Ujar Jeno sambil turun dari meja. Yeji mengangguk lalu mengeluarkan barang penelitiannya. Dia melihat bawang itu sebentar dan mengeluarkan beberapa bahan yang lain. "Kamu bisa ambilin larutan-larutannya? Ada di gudang penyimpanan." Ujar Yeji yang sibuk menyiapkan mikroskop dan akar bawang tanpa memedulikan alis Jeno menukik naik sebelah. Berani sekali dia memerintah Jeno. Jeno menghela nafas lalu bangkit terpaksa. Baiklah, dia akan menurut karena dia sungguh ingin pulang. Matanya benar-benar mengantuk. Yeji yang sudah memotong ujung akar bawang itu melirik ke gudang penyimpanan. "Lama banget." Gumamnya aneh. Setelah lima menit yang disuruh tak kunjung datang. Jadi dia ikut bangun dan menuju ke gudang. "Lagi ngapain?" Tanya Yeji melihat Jeno duduk sambil menatap lemari yang penuh banyak larutan kimia. "How am i suppossed to know which one I should take?" "Kan ada di buku paket. Searching juga bis-." "I didn't bring my phone." Yeji agak mengerjap saat melihat wajah Jeno yang terlihat sedikit mem-pout kan bibirnya tanpa pria itu sadari. Lucu. Pikir Yeji. Sebelum lagi-lagi menghela nafas. "Ambil larutan FAA, alkohol 70%, Larutan Acetocarnin sama Larutan HCI 1 M." "Ini?" Yeji merasa pipinya memanas melihat Jeno yang lagi-lagi terlihat lucu dengan ekspresi ingin tahu nya tanpa pria itu sadari. Yeji mengangguk lalu keluar dari gudang membiarkan Jeno kerepotan membawa larutan-larutan itu sendiri. Waktu penelitian yang seharusnya singkat menjadi lumayan lama sampai dua jam karena Yeji begitu sibuk membantu teman-teman yang lainnya. Jeno menggeram kesal ketika Theo sengaja mengulur-ulur waktu untuk berdekatan dengan Yeji. Tapi gadis itu begitu buta untuk melihat rencana busuk Theo. Atau terlalu naif untuk melihat? Sial! Jeno memutar bola matanya melirik ke langit yang semakin pekat lewat jendela. Ia mengambil kertas kosong lalu mulai meneliti sendiri sampel-sampel itu. Lalu pria itu bangkit untuk pulang duluan. Ternyata lima belas menit setelahnya Yeji selesai dan mengerjap bingung ketika saudaranya menghilang. Saat melihat meja, ia melihat secarik kertas yang ditindih oleh bawang sudah berisi jawaban untuk setiap sampelnya. Yeji tersenyum sekaligus meringis karena merasa bersalah, lalu duduk dan mengecek hasil kerja pria itu. Senyumannya melebar dan tawa kecil menggema di ruangan lab yang sudah tak ada orang sama sekali itu. "Astaga.." Desah gadis itu menahan tawanya saat Jeno hanya mampu menjawab dengan benar dua sampel. Segera menyelesaikan tugasnya, Yeji ikut keluar Lab untuk pulang. ? Ia melihat sekeliling sudah gelap. Lalu Yeji pergi menuju ke gerbang utama sambil menelpon ibunya. "Ck..." Kenapa ibunya tak pernah bisa ditelpon saat keadaan genting? Ia ingin naik taksi namun takut jadi dia mencoba menelpon ayah tirinya. Lagi-lagi berdecak karena ayah tirinya juga tidak membalas. Kenapa pula ia tak punya nomor supir keluarga Lee? Sekarang ia harus minta bantuan siapa? Bomin? Pria itu masih membantu Chenle mempersiapkan camp seingat Yeji. Tapi ia merasa sungkan pada kekasih Bomin. Siapa yang bisa ia kontak selain ib-. "Ayo pulang." Gadis itu mendongak melihat sebuah mobil sport putih lamborghini sudah terparkir dihadapannya. Gadis itu mengernyit untuk melihat siapa yang ada di balik kemudi itu. "Gak usah. Makasih. Udah telpon Mama." Ujar Yeji ketika tahu Theo lah yang mengajaknya pulang. Theo lalu keluar dari mobilnya dan berdiri sambil bersandar ke badan mobil. "Yakin? Kayaknya ga diangkat, deh. Kan Mama lo lagi ada meeting." "Nanti naik taksi aja bisa kok." Bohongnya. "Lo kan gak berani naik taksi sendirian." Ujar Theo yang membuat kernyitan di dahi Yeji semakin jelas. "Ck, udah ayo. Keburu makin malem." Bujuk Theo sedikit memaksa. "Lo duluan aja. Gue nunggu Mama." Kenapa gadis ini selalu keras kepala? Theo selalu dibuat kesal karenanya. "Masuk." Perintah Theo tak lagi menunjukkan senyumnya. Tak ada lagi raut ramah di wajah itu. "No, thanks. Duluan aja." "Itu bukan tawaran. Itu perintah. Masuk." Yeji mendengkus geli. "Kenapa gue harus nurutin perintah lo?" Yeji tidak suka dipaksa. Itu mengingatkannya pada- "Bisa gak sih lo gak keras kepala!" Bentak Theo. Yeji mengjap kaget. "Kenapa lo gak ngaca kalau lo juga keras kepala?! Gue bilang gak mau! Lo duluan aja!" Tanpa peduli pada emosi Yeji yang sudah menggebu, Theo menarik tangan Yeji untuk masuk ke mobilnya. "Theo lepas! Gue gak mau!!" Yeji memberontak. Astaga, Tuhan. Tolong. Pinta Yeji. Otak pintar gadis itu seketika blank. Matanya memburam. Dan ketika membuka mata, yang ia lihat bukan lagi Theo. Yang kini menarik paksa tangannya adalah pria di mimpi buruknya. Sang ayah. "TOLONG!!!!" Teriak Yeji ketika berontakannya tak sama sekali mengusik Theo. Mendengar lolongan itu Theo melepaskan cengkraman tangannya dan beralih untuk menahan belakang kepala Yeji dan sebelah tangan laginya ia pakai untuk membekap mulut Yeji. Otak Yeji semakin tak waras. Bayangan wajah sang ayah tercetak jelas di wajah Theo. Gadis itu semakin berteriak ketakutan. Air mata itu meleleh begitu saja. "Gue bilang diam!!!" Bentak Theo pada Yeji yang sudah gemetar hebat. Nafasnya mulai tersengal dan kepalanya mulai pusing. Anxiety attack nya kambuh namun entah bagaimana memberi Yeji tenaga tambahan untuk lepas dari cengkraman Theo. Tapi gadis itu tak melawan. Dia mundur dengan tubuh bergetar lalu terjongkok menutupi telinganya. Bayang-bayang wajah ayahnya yang kasar terekam begitu jelas di benaknya. Bentakan. Paksaan. Kekerasan fisik. Kurungan. Yeji benci dikurung. Ia takut. Disana gelap. Disinipun gelap. Yeji kesulitan bernafas. "Pergi!!! PERGI!!" Raungnya pada Theo yang mengerjap bingung. Respon Yeji berlebihan menurutnya. Baru saja hendak mendekati Yeji, sebuah suara berat menghentikannya. "Pergi." Theo mengalihkan tatapannya pada sumber suara. Tatapan tak suka dan aura permusuhan itu mendominasi. Lee b******k Jeno. ? Ada satu hal yang pasti dari seorang Jeno. Dia tak pernah bisa menahan diri untuk menolong orang lain. Terutama perempuan. Jadi saat mendengar lolongan seorang wanita minta tolong, dia segera berlari dan menemukan Yeji sedang berjongkok sambil menutup telinganya. Tubuh kurus itu gemetar hebat. Lalu pandangan Jeno jatuh pada pria yang ia tebak menjadi penyebab si gadis seperti itu. Theo. Jeno menghela nafasnya gusar. Tidak jelaskah peringatan yang Jeno beri? "Pergi." Suara tegas dan dinginnya keluar. "Gue bahkan masih ingat apa yang gue bilang kemarin, Theo. Pergi sebelum gue bakar habis markas lo." "Lo gak usah ikut campur!" Jeno menyeringai. Jika tadi yang ia lihat bukan Theo, maka ia akan membiarkan gadis itu sendiri. Tapi yang membuat Yeji ketakutan adalah Theo, dan entah mengapa Jeno merasa bertanggung jawab untuk itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN