BAB 13

936 Kata
“Sa, makan yang ini aja. Ini nggak pedes.” kata Daniel dengan menunjuk sambel kecap yang hanya diirisi beberapa cabe. “Nggak mau, aku mau yang ini kok.” jawab Alessia dengan menunjuk Sambel bewarna merah yang penuh biji cabe itu. Daniel ngeri melihatnya. “Gila ya kamu? Itu pedes banget pasti. Kamu nggak kasian sama anak kamu yang kepedesen nanti?” Alessia mendecak, apa yang dikatakan oleh Daniel benar. Tapi ia samgat ingin makan Ikan Bakar pake Sambel itu. “Nyicip dikit ya? Satu colekan aja.” mohon Alessia. “Nggak, nggak boleh.” larang Daniel dengan menggeleng. “Ini anak kamu tau yang mau!” “Anak aku atau kamu yang mau? Nggak usah banyak alesan. Makan ini aja!” “Tapi ma-” “Oh yaudah, besok lagi aku nggak akan ngajakin kamu kesin-” “Iya iya iya. Makan ini. Ish, nyebelin.” potong Alessia yang kemudian mengambil sambel kecap yang dibuat oleh Daniel dengan cemberut. Daniel tertawa melihatnya hingga teman-temannya melihatnya penasaran. Daniel terlihat sangat nyaman dan santai disisi Alessia. Kebahagiaan Alessia dan Daniel masih berlanjut. Meski begitu, entah itu Daniel ataupun Alessia tak pernah ada yang mangatakan sayang atau cinta. Hingga kandungan Alessia memasuki bulan ke-8. Alessia meminta Daniel agar tidak terlalu sering pergi ke klub malam dan mencari pekerjaan yang lain. Ia takut Daniel kenapa-kenapa. Narkoba memiliki resiko yang sangat besar. Terlebih Daniel akan menjadi seorang ayah. Daniel mengabaikannya dan tak peduli. Hingga ketika Alessia dan Gina pergi ke mall untuk membeli baju calon anaknya, ia harus menelan kekecewaan karena melihat Daniel dan Alma di toko emas sedang memilih cincin. Alessia langsung melabrak mereka. Daniel hanya diam saja, dan Alma menjawab bahwa mereka akan menikah segera setelah Alessia melahirkan. Alessia terkejut. Tak hanya Alessia, Gina bahkan juga ikut terkejut. Alessia langsung pergi begitu saja, Gina mengikutinya dibelakangnya. Alessia menangis terisak. Gina menemaninya hingga di kontrakan. Gina menelpon kakanya tapi panggilan tersebut di reject. 4 jam kemudian, Daniel pulang. Gina langsung memakinya dan menceramahi Daniel panjang lebar. Daniel balik membentaknya agar Gina tidak ikut campur dan menyuruhnya pulang. Alessia bangun dan langsung melempar barang-barang miliknya ke Daniel. Ia memaki Daniel. Bisa-bisanya Daniel masih melakukan perencanaan pernikahan dibelakangnya. Alessia menangis. Daniel dengan dinginnya berkata bahwa ia memang tidak ada rencana untuk hidup bersama dengan Alessia. Alessia sendiri yang kebaperan dengan sikap Daniel. Alessia merasa sangat sakit hati dengan ucapan Daniel. Ia memukuli Daniel. Daniel hanya diam tak membalasnya dan memegangi tangan Alessia agar berhenti memukulnya. “Akh,” Alessia menarik tangannya dan memegangi perutnya. Perutnya terasa sangat sakit. Gina yang khawatir langsung mendorong kakaknya mendekati sahabatnya yang menunduk dan memegangi perutnya kesakitan. “Lo baik-baik aja kan?” tanya Gina khawatir. Alessia masih kesakitan dengan memengangi perutnya. Gina terkejut melihat kaki Alessia. Ada darah disana. “Kita ke rumah sakit ya. Tahan bentar. Daniel!” bentak Gina ke kakaknya. Gina turut menangis ketakutan melihat sahabatnya yang mengalami pendarahan. Daniel yang melihatnya juga terkejut. Ia langsung mengangkat Alessia dan membawanya ke mobil Gina. Alessia masih menangis dan merintih ditemani Gina sementara Daniel mengemudi dengan sangat cepat. Ia khawatir dengan keadaan Alessia dan calon anaknya. Sampai di rumah sakit, Daniel langsung mengurus administrasi agar Alessia bisa segera mendapat perawatan. Terlebih ketika Dokter menemuinya dan mengatakan agar segera menyetujui pernyataan untuk operasi. Karena jika tidak, Daniel bisa kehilangan Alessia ataupun calon anaknya. Karena tidak memungkinkan bagi Alessia untuk melahirkan normal, Alessia harus melakukan operasi. Daniel segera menyetujuinya dan mengurus semua. Ia sangat khawatir dan cemas. Ia takut bahwa akan terjadi sesuatu dengan mereka berdua. Gina langsung menelpon neneknya dan mengadukan tindakan Daniel. Tentu saja neneknya sangat marah. Tapi Daniel mengabaikannya. Ia berdoa untuk keselamatan istri dan calon anaknya. Hingga beberapa jam kemudian, Daniel mampu bernafas lega ketika Dokter mengatakan bahwa Alessia dan anaknya selamat. Pendarahan Alessia sendiri juga berhenti. Tapi untuk sementara, anak mereka akan dipindahkan ke ruang NICU untuk perawatan lebih lanjut. Daniel langsung jatuh terduduk. Nyawanya hampir saja hilang tadi. Ia lega karena dua orang yang memenuhi pikirannya sedari tadi selamat. ***❤*** Daniel mengunjungi putranya. Ia dilarang untuk masuk kedalam ruangan dan hanya diizinkan untuk mengamatinya dari luar. Sementara Alessia masih dalam keadaan sangat lemah hingga tak bisa datang untuk menjenguk. Daniel merasa sangat bersalah setelah melihat keadaan putranya dengan beberapa alat bantu didalam sana. Ia menyesal. Harusnya ia tak mengatakan hal tersebut hingga Alessia tidak akan syok dan mengalami pendarahan. “Enggak mau! Aku mau lihat anakku!” Daniel menoleh ke belakang, ia terkejut melihat Alessia yang berjalan tertatih. Padahal harusnya Alessia masih ada di kamarnya. Daniel langsung mendekatinya. Ia berniat membantu Alessia tapi Alessia menepis kasar tangan Daniel. Ia menatap Daniel penuh kebencian. Alessia menangis ketika melihat buah hatinya dibantu beberapa alat didalam sana. Ia memukuli Daniel dan menyalahkan Daniel. Daniel diam dan menerimanya. Untuk pertama kalinya, Daniel meminta maaf kepada Alessia. Alessia tidak peduli dan masih menyalahkan Daniel. Ia tidak sudi melihat Daniel berada di dekatnya. Daniel menurutinya dan hanya selalu datang mengunjungi putranya atau bertanya ke Dokter tentang keadaan putranya. Ia benar-benar merasa bersalah melihat anak sekecil itu harus menerima akibat dari perbuatannya. Daniel merasa sangat tidak nyaman dan dihantui oleh mimpi buruk. “Sa maaf,” kata Daniel yang bertemu dengan Alessia didepan ruangan anaknya. “Alessia.” Alessia dan Daniel menoleh ke sumber suara. Ada Arva disana. Arva langsung memberikan sebuah amplop ke Daniel dan membantu putrinya kembali ke ruang rawat inapnya. Daniel membuka amplop tersebut. Ada sebuah kertas putih didalamnya. Daniel mengambilnya dan membacanya. Mengetahui isi surat tersebut Daniel sangat terkejut. Surat itu adalah gugatan perceraian dari Alessia. Daniel merasa aneh. Perasaannya membuatnya tak nyaman. Ia tak ingin bercerai dari Alessia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN