Part 1

422 Kata
Malam… Suatu keadaan di mana bumi menggelap. Suatu keadaan di mana langit dipenuhi kepulan awan-awan yang menghitam. Dan suatu keadaan di mana sang surya rela menyingkir demi memberi ruang pada sang rembulan untuk menggantikan posisinya sementara waktu. Dan, yang paling penting… Malam adalah saat yang paling tepat untuk memulai sebuah aksi kejahatan, di mana para makhluk buas dan pemangsa keluar dari sarangnya. Mengincar para korbannya dan kemudian menerkamnya habis-habisan. Seperti halnya yang terjadi pada malam ini, sang penguasa kegelapan menampakkan dirinya. Terbang melayang bagai kepulan kapas, dan bergerak lincah bagai hembusan angin. Bibirnya menyeringai, menampakkan dua taring panjang yang siap menancap di permukaan kulit para mangsanya. Matanya bergerak cepat, mencari sosok yang tepat untuk dijadikan santapan. Dan ia menemukannya, seorang wanita berpakaian minim dan make up yang berlebihan. Lehernya yang terekspose sempurna, membuat nafsu untuk segera menghisap darahnya semakin memuncak. Ia mengepakkan sayap hitam pekatnya, dan melesat menuju sang wanita yang belum menyadari keberadaannya. Kedua kakinya menapak ke tanah yang sedikit basah akibat jutaan bulir air yang ditumpahkan awan hitam beberapa menit yang lalu. Menyembunyikan kedua sayapnya dan merubah penampilannya senormal mungkin layaknya manusia pada umumnya. Dia berdehem singkat, hanya sekedar menetralkan suaranya yang pada dasarnya serak dan mengerikan. “Bolehkah?” Ia bertanya, sebuah pertanyaan yang ambigu, namun cukup sukses membuat wanita di hadapannya berbalik menatapnya. Ia tersenyum, sebuah senyuman sinis namun mempesona. “Bolehkah aku menemanimu malam ini?” Senyum cerah tampak di bibir wanita itu. Senyum genit yang benar-benar membuat laki-laki di hadapannya ingin memuntahkan setiap isi perutnya, dan jangan lupakan bahwa ia sudah tak sabar ingin mencicipi darah segar yang mengalir di balik kulit putih itu. “Kau sangat tampan dan terlihat masih muda, tentu saja aku dengan senang hati menerima mu sebagai partner ku malam ini.” Dia mulai berjalan mendekat, menatap lurus pada sepasang manik bening yang bersinar penuh kebahagiaan di hadapannya. Manik yang ia pastikan akan menemukan kekosongannya dan meredup secara perlahan-lahan. Manik yang akan menatapnya penuh ketakutan dan melotot sebelum akhirnya menutup sempurna seiring deru nafasnya yang menghilang. Ia sudah tidak sabar menantikan hal itu, menyaksikan betapa bodohnya manusia di hadapannya yang begitu mudahnya terjerat pada pesona yang ia miliki. Lolongan serigala terdengar mengiringi langkahnya yang semakin menipis jarak di antara mereka berdua. Merengkuh tubuh dihadapannya dan mulai memanjakannya dengan sentuhan-sentuhan yang sama sekali enggan ia lakukan. Dengan posisi yang masih dalam keadaan berdiri ia memanjangkan taringnya yang segera menancap sempurna pada leher putih mulus itu. Kedua mata wanita itu melotot, dan sedetik kemudian pekikan pilunya terdengar keras hingga mengagetkan burung-burung gagak yang awalnya bertengger manis di atas dahan menunggu kematiannya. “Aaaaarrrgghhtt....” Sebuah pekikan yang mengawali perburuan panjang di malam yang mengerikan itu. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN