“Lan, buruan!” “Bentar sayang!” Alan mengancingkan semua kancing kemejanya, ia menyempatkan merapikan rambut. Sebelum bergegas turun. Di sana, dia melihat banyak makanan yang sudah terjejer di meja. Kekasihnya tengah asik mengobrol dan tak menyadari keberadaannya. Ia mendekat, menyelipkan kedua tangannya di pinggang Melody. “Hai.” Dikecupnya pipi Melody sekilas. “Ngobrolin apa?” “Enggak usah nyium juga, Lan. Malu.” Melody menepuk pelan tangannya agar melepaskan pinggangnya. “Lepasin enggak.” Alan menggeleng, malah dia menaruh dagunya di pundak Melody. “Enggak mau. Aku masih kangen.” “Rumah deketan aja, masih kangen.” Mamanya menggeleng cepat. “Dulu aja, enggak mau sama Melody, sekarang, lengket kayak lem.” “Dulu kan beda.” “Beda apanya?” Melody menoleh. Tatapan mereka beradu satu sa
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


