17

1080 Kata
Suasana keheningan selalu menghampiri tengah malam. Memberikan ketenangan pada setiap manusia untuk beristirahat setelah bergerak tanpa bosan. Bulan pun menjadi penerang diantara gelapnya langit malam. Seorang laki-laki dengan keadaan setengah telanjang, memamerkan bagian d**a bidangnya yang tak tertutupi. Tengah berdiri memandangi bulan yang seakan mencemoohnya. Adrian mengalihkan pandangan pada seorang prempuan yang tengah tertidur nyenyak dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke leher. Pria itu berjalan pelan mendekat kearah ranjang lalu duduk dipinggiran kasurnya. Ditatapnya prempuan itu dengan segala macam perasaan. Bahagia dan kecewa, bahagia karena dia adalah orang pertama bagi Nara dan kecewa karena Nara tak pernah berkata jujur. Diusapnya jejak air mata yang telah mengering di pipi air mata itu. Salahkan saja dirinya yang terlalu bersemangat dengan menggebu-gebu untuk menuntaskan hasratnya. Hingga tak sadar setetes air mata jatuh di pipi Nara saat Adrian telah sepenuhnya masuk. Bercak darah itu masih ada. Menandakan bahwa prempuan yang kini tengah ia peluk erat belum terjamah sama sekali. Itu adalah yang pertama bagi Nara. Adrian memperat pelukannya, mengecup puncak kepala Nara. Hingga lama-kelamaan kelopak mata itu terbuka perlahan. Nara mengulas senyumannya, memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja. "Masih sakit?" tanya Adrian saat Nara menggerakan dirinya mendekat kearahnya dan memperdalam pelukan. Nara tak menjawab. Tangannya terulur menyentuh wajah Adrian yang begitu membuatnya terkagum-kagum. Nara mengangkat sedikit kepalanya dan mengecup sekilah bibir Adrian. "Tidak. Hanya sedikit nyeri." Hening. Baik Adrian maupun Nara sama-sama diam seribu bahasa. Hingga helaan nafas dari Nara menandakan pembicaraan serius mereka akan segera dimulai. "Maaf." Nara menatap Adrian. "Maaf, aku tak pernah jujur padamu." Nara menghela nafas, akhirnya beban yang selama ini memberatkan pundaknya bisa ia bagi dengan teman hidupnya. Adrian diam, membiarkan Nara membagi bebannya. Prempuan yang selama ini Adrian kenal tidak kuat dan selalu ceria, ternyata memiliki beban yang amat berat. "Razka bukan anak kandungku. Babang anak dari sahabatku. Ibunya meninggal sewaktu melahirkannya." kenangan itu berputar-putar di kepala Nara. Matanya yang menjadi saksi saat melihat sahabatnya mempertaruhkan nyawanya untuk membuat Razka dapat melihat indahnya dunia. Adrian membawa kepala Nara hingga menyandar diatas dadanya. Prempuan itu terisak, membuatnya mengusap air mata itu. "Aku sangat-sangat menyesal tidak bisa berubuat apa-apa saat sahabatku merintih kesakitan hingga ajalnya menjemputnya." Nara mengambil nafas sejenak, air matanya masih mengalir. "Hatiku tersayat saat mendengar tangisan Razka yang begitu memilukan saat ia tak memiliki siapa-siapa lagi." "Sstt... Ini bukan salahmu. Itu semua sudah takdir." Adrian mengusap rambut hitam Nara lalu mengecupnya sayang. Prempuan itu memeluk erat Adrian, membenamkan wajahnya yang basah akan air mata didalam dekapan suaminya. "Adrian?" "Iya, sayang?" tanya Adrian membuat pipi Nara merona. Isakan merendah karena mendengar kekehan Adrian. "Kamu masih menyangi Babang 'kan? Walaupun kamu sudah tahu bahwa---" Adrian meletakan jari telunjuknya dibibir Nara. "Rasa sayangku tak akan pernah hilang untuk kalian. Baik Babang, Iyel maupun Bundanya." Nara terkekeh, manis rasanya saat Adrian memanggilnya Bunda. Ah, Nara sakarang jadi ingin memeluk anak-anaknya. Sedang apa mereka? "Babang sama Iyel sedang apa ya?" tanya Nara pelan mengingat kelakuan anaknya yang selalu meminta ditemani setiap tidur. "Aku yakin saat ini mereka tertidur dengan posisi yang luar biasa," ucapan Adrian membuat Nara terkekeh, anak-anaknya itu memang sangat jago jika bergaya bahkan dalam tidurpun. "Sayang, kamu ingin membuat anak-anak kita bahagia tidak?" tanya Adrian yang langsung membuat Nara mengangguk. "Emang apa yang membuat mereka bahagia?" "Adik. Mereka sangat ingin mempunyai adik." Pipi Nara kembali memanas saat Adrian mengatakan itu. Prempuan itu hanya bisa mengangguk membuat Adrian melebarkan senyumannya *** "Bunda, kapan pulang?" tanya Dariel dengan bibir mengerucut dari seberang sana. Saat ini mereka tengah melakukan video call untuk mengobati rasa rindu Nara pada kedua anaknya. Nara terkekeh. Ingin sekali rasanya menciumi pipi gembil Dariel saat ini jika putranya itu berada disini. "Hemm, kapan ya? Bunda gak pulang-pulang deh." bibir Dariel bertambah maju saat Nara mengoda anak laki-laki. "Bunda jadi Bang Toyib dong. Kalo gak pulang-pulang," celetuk sebuah suara membuat Nara tahu betul siapa itu. Siapa lagi kalo bukan Babangnya. Dariel mengarahkan kameranya pada Razka yang tengah bermain lego dikarpet. Sedangkan pengasuh mereka, Shireen tengah santai menonton televisi sambil memakan cemilan. "Babang lagi ngapain?" tanya Nara pelan. Entah mengapa ia begitu rindu pada bocah itu. "Lagi main lego, Bun," jawabnya tanpa melihat Nara dari ponsel. Nara berdecak melihat tingkah Razka yang tidak kangen apa dengannya. "Bundaaa," ponsel Nara kembali penuh dengan muka cemberut Dariel. "Bunda sama Ayah, benelan gak balik-balik? Iyel gak mau sama Tante Shileen." aduh, bocah cadelnya ini membuat Nara ingin segera mengamasi barangnya. "Kenapa Iyel gak mau sama Tante Shireen?" tanya Nara. Kebetulan Adrian saat ini tengah mandi. Selagi menunggu suaminya mandi, Nara ingin mengetahui kondisi anak-anaknya. "Masa Iyel dipakein baju yang sama kek Babang. Kan gak banget Bunda." Nara menahan tawanya agar tak membuat Dariel bertambah cemberut. "Emang kenapa gak mau?" tanya Nara penasaran. "Bundaaa, Iyel mau ke toilet sebentar. Tuh sama Babang aja, Bun." ponsel tersebut diberikan secara paksa pada Razka lalu terdengar langkah kaki orang berlari. "Bunda," panggil Razka. Nara mengerutkan keningnya saat Razka tengah memasang senyum lebarnya. "Mau apa, Bang?" tanya Nara membuat Razka tercengir lebar disana. "Mau lego lagi." Nara berdecak, padahal mainan Razka sudah sangat banyak. "Nanti ya sayang. Kan masih banyak mainanya." Razka memanyunkan bibirnya. Tapi, sedetik kemudian rasa kesal itu terganti dengan wajah serius ala Razka. "Bunda, Bunda!" seru Razka dari sebrang sana. "Apa, bang?" tanya Nara sambil melirik Adrian yang baru saja keluar dari kamar mandi. Nara menunjuk pakaian yang telah ia siapkan untuk suaminya itu. Dahi Razka berkerut dari layar ponselnya. "Hmm, apa ya? Babang kok lupa, Bun." Nara terkekeh, ada-ada saja tingkah anaknya ini. "Coba pikir dulu, bang," ucap Nara. Bibir Razka mencebik. "Gak ingat, Bun. Nanti aja ya Babang bilang kalo ingat." Nara tersenyum mendengar kepolosan anaknya. "Iya. Bunda tutup ya, soalnya Bunda belum mandi." Razka menutup hidungnya. "Pantesan tadi ada bau gak sedep. Kiraiin tadi Iyel yang pup dalem celana. Eh, tahunya Bunda yang belum mandi. Wlekk..." Razka mematikan video call dari sebrang sana. Sebelum Nara mengamuk padanya. "Ada apa, sayang?" pipi Nara masih saja merona mendengar panggilan itu. "Mandi sana, kamu bau," lanjut Adrian lagi membuat Nara mengerucutkan bibirnya. Tidak bapak, tidak anak sama saja. Sama-sama membuat Nara kesal. Nara menghentakan kakinya kesal sebelum masuk kedalam kamar mandi. Tentu saja Adrian terkekeh melihat muka Nara yang menggemaskan saat cemberut. Sedangkan dilain tempat. Seorang anak kecil yang tengah menyusun lego menghentikan aktvitasnya sebentar. Lalu menjetikan jarinya ketika mengingat sesuatu. "Aha! Babang baru ingat. Kalo waktu pulang sekolah kamaren ada Om-Om yang bilang dia itu Ayah kandungnya Babang." anak kecil itu mengerutkan keningnya, berpikir keras layak orang dewasa. "Eh, Ayah kandung itu apa ya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN