24

1375 Kata
Seorang wanita dengan pakain ketat dan sangat minim untuk tubuhnya berjalan berlenggak-lenggok di koridor rumah sakit. Rambutnya yang bewarna kecoklatan sengaja digerai bebas. Di matanya terdapat sepasang kaca mata hitam lebar, jika dilihat sekilas orang-orang akan tahu harga kaca mata itu tidaklah murah. Langkahnya sengaja ditekan lebih keras pada ubin rumah sakit, untuk apalagi kalo bukan memarmerkan sepatu Chanel keluar terbaru. Tidak lupa tas bermerek mahal yang menghiasi tubuhnya. Prempuan itu menurunkam sedikit kaca matannya saat melihat seorang Dokter muda berjalan kearahnya. "Haii, Dok!" sapanya dengan mengedipkan matanya. Dokter itu hanya mengangguk lalu melewati perempuan itu. Natasha mengeram marah, ia tidak terima jika ada seseorang yang tidak terpikat dengan wajah cantik serta tubuh seksinya. Apalagi itu hanya Dokter muda dan Nata tahu bahwa kekayaan Adrian mungkin lebih darinya. Lihat saja sekarang, semua yang kini melekat pada tubuh Nata adalah hasil menguras kartu milik Adrian. Tentu saja dengan senang hati Nata menghabiskannya. Ia sedikit menyesal karena baru bertemu Adrian, mungkin jika ia lebih dulu bertemu laki-laki itu maka dirinya tidak akan bekerja menjadi pelayan atau simpanan para laki-laki kaya yang sudah berumur. Nata mengalihkan pandangannya pada segerombolan ibu-ibu yang berada didepan salah satu kamar dan tidak terlalu jauh darinya. "Hei, jeng! Tau gak sekarang palakor udah merajalela." "Iya, jeng. Hati-hati aja sekarang. Apalagi yang dandanannya mencolok banget, ke Rumah sakit atau mau ke diksotik." "Betul, jeng. Gak tau malu banget, entah siapa yang jadi korbannya nanti." Natasha mendengar itu semua. Bukan hanya karena jarak antara dirinya dan ibu-ibu itu sangat dekat tapi karena segerombolan ibu-ibu itu mengeraskan suaranya sambil melirik sinis Natasha. Hampir semua yang berada di sekitar koridor rumah sakit memusatkan pandangannya ke arah Natasha. Dengan muka merah padam, Natasha melangkahkan kakinya meninggalkan ibu-ibu itu. "Dasar ibu-ibu kampungan! Gaya aja sok belagu!" umpat Natasha. Prempuan itu kini telah berdiri di depan kamar VVIP. Kamar itu milik Dariel dan sekarang kondisinya sudah sadar dari masa kritisnya. Natasha menghela nafas kesal. Ia sengaja disuruh oleh Adrian untuk menjaga Dariel, katanya laki-laki itu sedang ada urusan penting. Ah, padahal Natasha ingin sekali membeli tas baru dan ia baru ingat, sudah lama tidak melakukan perawatan untuk tubuhnya. Clekk... Natasha memusatkan matanya pada seorang bocah yang kini berada di ranjang rumah sakit. Di kepala terdapat perban yang melingkar. Dengan senyum manisnya, Natasha berjalan pelan ke arah Dariel. "Hallo, sayang." kening Dariel berkerut saat melihat seorang wanita yang belum pernah ditemuinya. "Mana Bunda?" tanya Dariel dengan suara seraknya. Tubunya bergerak gelisah di ranjang. Mata menatap awas pada orang asing didepannya. "Bunda?" otak Natasha berputar cepat, ia tahu bahwa Adrian sudah menikah lagi. Tapi, Nata tidak mempermasalahkan hal itu. Karena ia mempunyai beribu cara agar Adrian dan Dariel kembali padanya. "Sayang, maafin Mommy yah." muka Natasha menyendu, tangannya bergerak mengelus pelan tangan Dariel. Kerutan di kening Dariel bertambah tajam, kepanya sedikit pusing mencerna informasi yang baru ia dapatkan. "Mommy?" "Iya. Aku ini Mommy mu. Ibu kandung, Dariel." "Iyel gak mau! Iyel mau Bunda!" Tiba-tiba sebuah ide licik timbul di kepala Natasha. Ia tahu bahwa Adrian sangat menyangi anaknya, jadi sebisa mungkin ia akan menghambil hati Dariel. Sungguh miris, untuk apa seorang ibu kandung mengambil hati anaknya padahal ikatan itu sudah terbentuk sebelum ia terlahir kedunia. Entahlah, Natasha langsung memberikan Dariel pada Adrian saat anak itu baru beberapa jam setelah lahir ke dunia. "Sayang. Maaf Mommy gak bisa membujuk Bunda." "Kenapa?" "Bunda bilang kamu nakal. Ia tidak mau mengurus kamu lagi, katanya ia lebih sayang pada anaknya itu yang baik dan penurut." Dariel terpaku mendengar ucapan Natasha, jantungnya seakan baru saja ditusuk-tusuk. Perih itu yang Dariel rasakan. Lebih sakit rasanya saat Adrian yang membelikan mainan Razka sedangkan dirinya tidak. Ia tak menyangka Bundanya membencinya karena ia nakal. Dariel menyesal karena marah pada Nara saat sebelum kecelakaan. "Sayang. Jangan menangis. Kan masih ada Mommy. Lihat, rambut Mommy sama denganmu." *** Seorang anak kecil tengah tertidur lelap diatas tempat tidur. Wajahnya sungguh damai dan menyejukan tapi terganggu karena terlihat bekas air mata yang menjejak di pipi tembamnya. Razka mengerjapkan matanya perlahan, mengucek-ucek matanya agar lebih jernih memandang sekelilingnya. Matanya memandang seluruh isi kamar, ini bukan kamarnya di rumah Adrian bukan pula kamar di rumah lamanya bersama Nara dahulu. "Bunda..." setetes air bening lolos dari mata bulat hitam itu. Razka terisak kecil, bibirnya melengkung. Dengan hati-hati bocah laki-laki itu berjalan pelan menuju jendela yang ada di kamar barunya. Ditatapnya ke arah luar jendala yang langsung menampilkan pemandangan jalan. Disana banyak anak-anak kecil yang sedang bermain bersama ibu dan ayahnya. Air mata Razka yang mulainya turun dengan antri kini terus-menerus berjatuhan. Kembali membasahi pipinya yang semulanya telah kering oleh air mata. Tatapannya tertuju pada seorang anak laki-laki yang sedang belajar menggunakan sepeda. Dibelakangnya terdapat seorang wanita yang menyemangatinya dari belakang. Nampaknya itu adalah ibunya karena selain menyamangati ibunya juga berjaga-jaga agar anaknya tidak terjatuh dari sepeda. "Bunda... Babang kangen." Ingatan Razka kembali berputar saat Nara pertama kali mengajarkannya sepeda. "Ayooo! Babang harus bisaaa! Nanti Bunda beliin es krim!" Dengan perlahan Razka mengayuh sepadanya sambil menjaga keseimbangan tubuhnya. Teriakan dari Nara menjadi semangatnya untuk bisa menggunakan sepeda. "Ayooo, Bang! Anak Mama yang ganteng pasti bisaa! Nanti mama beliin es krim, tapi es krim apa ya?" "Coklat!" Brukk.... Razka tejatuh karena melepaskan tanganya pada kemudi sepedanya. Sedangkan Nara langsung berlari mendekat kearah anaknya. Tentunya tanpa adegan teriak-teriakan yang malah menghabiskan waktunya. "Mama... Sakitt. Kaki Babang lukaa," Razka menunjuk lukanya. Nara yang melihat itu meringgis. "Maafin Mama ya, Bang. Sini Mama gendong." Razka kecil tak menangsi karena ia merasa aman jika ada Nara yang selalu berada di belakangnya. Bahkan jika berhadapan dengan singa sekalipun, Razka tidak takut karena ada ratu singa di belakangnya. "Babang sayang, Mama!" "Mama juga sayang, Babang!" Tangis yang sedari tadi Razka pendam akhirnya pecah juga. Isakannya begitu memilukan jika seseoarang yang mendengarkannya. Tatapannya masih tertuju pada ibu dan anak yang sedang bermain itu, ia rindu. Ia ingin seperti itu lagi. Tangannya mungilnya tak henti-henti menghapus air matanya. Ia ingat pesan terakhir Nara sebelum pergi. "Babang jangan nagis kalo Bunda pergi. Babang kan pahlawannya Bunda!" Dengan sekuat tenaga Razka mengentikan air matanya. Tapi, itu terlalu susah bagi bocah kecil karena rasa rindu itu lebih berat. Tatapanya yang sedari tadi memperhatikan ibu dan anak itu kini tergantikan saat melihat mobil bewarna hitam masuk kedalam perkarangan rumah barunya. Perlahan tapi pasti, Razka berlari kearah pintu depan rumah barunya. Air mata yang belum sepenuhnya kering ia biarkan saja. Ingusnya bahkan belum sempat ia bersihkan karena begitu bersemangat. Tepat saat pintu depan terbuka, seorang wanita dengan rambut diikat ekor kuda keluar dari mobil hitam itu. "Bundaaaa!" Dengan semangat Razka berlari ke arah Nara. Kakinya yang tidak berbalut sendal berlari kencang menuju Nara. Prempuan itu menjongkokkan badannya lalu merenangkan kedua tangannya. "Babang kangennn..." Nara terkekeh saat merasakan eratnya pelukan Razka. Setelas puas memeluk, Razka melonggarkan pelukannya dan beralih menciumi pipi ibunya. Prempuan itu tertawa saat Razka menciumi segala sisi wajahnya. Kening Nara berkerut saat melihat wajah sembab Razka. Tanganya terulur menangkup kedua pipi tembam Razka. "Anak Bunda nangis?" tanya Nara yang diangguki Razka malu-malu. "Kenapa?" "Bunda hilang waktu Babang bangun." "Bunda tadi mau ajak Babang ke minimarket depan, tapi karena Babang bobok Bunda pergi sendiri deh." Razka mengerucutkan bibirnya. "Kenapa gak bangunin Babang? Bunda jadi capek nanti." Nara tersenyum lebar lalu mengecup kening Razka. "Iya, nanti kalo pergi lagi Bunda ajak. Sekarang banatuin Bunda bawain belanjaannya yah. Bunda juga bellin semangka buat Babang." Razka tersenyum senang mendengarnya. "Siap, Bunda boss!" Nara memberikan kantong plastik yang tidak terlalu berat. Dengan senang hati Razka mengambilnya lalu membawanya masuk kedalam rumah. Setelah Razka pergi, Nara terdiam seraya menegakan tubuhnya. Prempuan itu kembali menatap rumah yang baru saja ia beli dari hasil tabungannya saat bekerja menjadi sekretaris Adrian. Ia sengaja tidak menempati rumah lamanya karena ingin merasakan lingkungan baru. Nara kembali terdiam. Ingatannya kembali beberapa jam lalu, ia bukan hanya pergi ke minimarket melainkan juga datang menemui Adrian. Dan disana, Nara memilih hidup bersama Razka, meninggalkan Adrian juga Dariel. Bohong, jika hati Nara tidak sakit saat Adrian membohonginya dengan janji laki-laki itu. Belum lagi pemikiran Adrian tentang Razka membuatnya tidak mengenali Adrian sama sekali. Tapi, bukan berarti Nara lepas tanggung jawab pada Dariel. Ia sudah menyangi bocah cadelnya itu seperti anaknya sendiri. Nara menghela nafas panjang dan menerbitkan satu senyuman kecil di bibirnya. Ia harus kuat untuk menjalani ini semua. "BUNDAAAA, BABANG MAU SEMANGKANYA!! TOLONG BUKAIN!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN