3. MULAI CURIGA

1105 Kata
Haruskah aku mendatangi rumah Nadya? Entah mengapa pikiranku terlalu berlebihan seperti ini. "Bilangnya capek, ternyata malah kluyuran," gumamku kesal. Tak peduli walau ini masih sangat gelap. Kuputuskan untuk mendatangi rumah Nadya. Langkahku terhenti secara tiba-tiba ketika akan membuka pagar. "Iya kalau Mas Rega di rumah Nadya. Kalau enggak? Malah aku yang malu," batinku. Segala pikiran buruk ini selalu saja tertuju kepada Nadya. Sorot lampu mobil membuat indra penglihatanku silau. Mobil itu berhenti tepat di depan rumahku. Mas Rega terkejut ketika melihatku berada di luar tengah malam. "Kamu dari mana, Mas?" tanyaku seraya melirik ke arah temannya satu per satu. "Kamu kenapa di luar? Aku habis kumpul-kumpul sama mereka," jawabnya. Kulihat lagi lima orang pria yang sedang menatap kami. Mereka tersenyum ketika melihatku. "Kami balik dulu, Ga." "Oke, hati-hati!" "Mari, Mbak!" kata mereka kepadaku. Aku hanya mengangguk. "Kamu ngapain di luar, Sayang? Jam segini lagi," kata Mas Rega sambil menuntunku masuk. "Seharusnya aku yang tanya sama kamu. Kamu dari mana, Mas? Ngapain keluar malam-malam tanpa sepengetahuanku? Katanya capek?" tanyaku kesal. Kulipat tangan di depan d**a seraya duduk di sofa. "Aku cuma kumpul-kumpul sama mereka. Sudah kebiasaan kami nongkrong malam-malam. Kamu jangan kaget!" jawabnya santai. Keningku berkerut mendengar jawabannya. "Harus, ya, malam-malam begitu? Nggak bisa kalau sore saja?" tanyaku. "Kami nggak ada waktu, Sayang. Sama-sama sibuk bekerja. Lagian, aku nongkrong juga cuma sebentar, kok. Baru berangkat jam sebelas tadi. Tuh, lihat! Cuma berapa jam? Malahan, aku biasa lebih lama dari itu. Tapi aku ingat kamu. Kasihan di rumah sendiri." Aku menatap Mas Rega yang ada di hadapanku dan berkata, "Mas, kita ini pengantin baru, loh. Kita baru menikah. Seharusnya kamu lebih banyak menghabiskan waktu buat aku. Bukan malah kumpul sama teman-temanmu. Selama ini kita selalu berjauhan, loh, Mas. Sekarang kita sudah bersama. Seharusnya kamu memanfaatkan kesempatan ini supaya bisa lebih dekat sama aku." Mas Rega meraih tanganku dan mengecupnya. Dia berujar, "Maaf, Sayang. Iya, aku minta maaf. Aku akan banyakin waktu untuk kamu." "Katanya, kamu capek, Mas? Kenapa dibela-belain keluar? Jangan-jangan ada ceweknya, ya, di tempatmu berkumpul?" Mas Rega menggelengkan kepala cepat. "Eng ... nggak, Sayang. Nggak ada. Kamu jangan mikir begitu! Waktu itu mereka nggak datang di pesta pernikahan kita, 'kan? Kamu tahu sendiri jaraknya jauh. Jadi, mereka ingin ketemu sama aku. Sebentar lagi juga jarang ketemu karena aku sudah punya istri. Waktuku akan lebih banyak untuk kamu, Sayang." "Hmm. Ya sudah, aku mau tidur lagi," kataku sambil beranjak. Sejujurnya aku paling malas dengan yang namanya perdebatan. Mas Rega menarik tanganku. "Sayang, maafin aku yang pergi tiba-tiba." "Ya, Mas. Lain kali jangan diulangi lagi!" Meski hatiku masih tak percaya dengan ucapannya, tetapi aku tak mau memperpanjang masalah ini. Namun, diam bukan berarti percaya begitu saja. Aku akan bertindak untuk membuktikan suamiku berbohong atau tidak. *** "Pagi, Sayang." "Pagi, Mas." "Masak apa? Aromanya membuat perut lapar." "Aku lagi menggoreng bakwan, Mas." "Pantas aromanya menggugah banget." "Tunggu, ya, Mas." Beberapa saat kemudian, ayam suwir pedas dan bakwan goreng sudah tersaji. Saat pacaran dulu, Mas Rega pernah mengatakan jika ia sangat suka bakwan. Aku senang melihatnya menyantap bakwan dengan lahap. "Kamu jago masak, ya!" "Ayah dan ibuku tukang masak, Mas. Kalau anaknya nggak bisa masak, malu, dong," kataku sambil tertawa. "Bangga, deh, sama kamu," pujinya. Ayahku memiliki usaha sate yang cabangnya sudah tersebar di lima kota. Sedangkan ibu memiliki dua rumah makan yang menyajikan aneka makanan. Dari kecil aku sudah terbiasa melihat mereka memasak. "Besok mau dimasakin apa, Mas?" "Apa, ya? Terserah kamu, deh, Sayang." "Hmm, oke, deh. Nanti sore jalan-jalan, yuk! Biar aku tahu daerah sini, Mas." Mas Rega menelan makanannya terlebih dahulu kemudian berkata, "Maaf, ya, Sayang. Aku harus olahraga nanti sore. Di dekat minimarket sana, loh. Aku biasa olahraga di situ." "Emang nggak bisa ditunda, ya, Mas? Sekali ini saja." "Nggak bisa, Sayang. Kita jalan-jalan hari Minggu saja, ya!" "Kamu bisa mengganti jadwal olahragamu, Mas. Aku hanya ingin jalan-jalan." "Nggak bisa, Sayang. Maaf, ya!" Mas Rega mengusap kepalaku dan tersenyum. Aku tahu ia menjaga bentuk tubuhnya yang sangat menawan. Wanita mana pun pasti akan ketar-ketir melihatnya. "Aku ikut olahraga, boleh?" tanyaku iseng. Mas Rega terbatuk-batuk. Setelah meneguk air minum, ia berujar, "Jangan, Sayang!" "Kenapa, Mas?" "Pertama, tubuh kamu sudah bagus. Aku menyukai bentuk tubuhmu yang langsing seperti ini. Ke dua, di sana banyak laki-laki. Aku nggak mau kamu jadi pusat perhatian mereka. Kamu cantik dan menarik. Pasti mereka akan terhipnotis untuk selalu melihatmu. Aku tidak ingin itu terjadi," jelasnya. "Ada ceweknya?" "Ada, sih, tapi cuma beberapa." "Tuh, 'kan? Berarti aku nggak apa-apa, dong kalau ikut." "Jangan, Sayang. Aku nggak mau kamu digoda oleh mereka. Kamu cantik banget, loh. Aku tidak ingin istriku yang cantik dilihat maupun digoda oleh siapa pun," katanya seraya mencubit dagu runcingku. "Hmm ... ya sudah. Tapi janji, ya, hari Minggu jalan-jalan?" "Janji, Sayang." Setelah Mas Rega berangkat ke kantor, aku membersihkan rumah seperti biasa. Tidak banyak yang aku lakukan. Mas Rega orangnya sangat rapi dan rajin. Selama tinggal bersamanya, tak pernah kudapati ia meletakkan barang-barang di sembarang tempat. Semuanya berada di tempatnya masing-masing. Mas Rega adalah anak laki-laki ke empat. Ketiga kakaknya adalah perempuan. Suamiku terbiasa hidup dalam didikan kakak-kakak perempuannya. Mungkin itu yang membuatnya rajin dan selalu rapi. Kulihat Nadya berjalan menenteng kantong kresek. Sepertinya ia pulang berbelanja. "Hai, Valen!" tegurnya kepadaku yang sedang menyiram tanaman. "Hai! Habis belanja?" tanyaku basa-basi. "Iya, nih. Oh, ya, kemarin kenapa nggak ke rumah? Saya tungguin, loh." "Oh, maaf, kemarin Mas Rega capek. Jadi, dia lebih memilih istirahat." "Kamu bisa main sendiri ke rumah saya tanpa Mas Rega. Jangan sungkan!" ucapnya seraya tersenyum. "Iya, deh, nanti." "Saya tunggu, loh, ya!" Aku mengangguk dan melihatnya berlalu. Melihat Nadya aku menjadi malu. Bisa-bisanya aku salah sangka kepadanya semalam. Untung saja aku belum mendatangi rumahnya. Tak terbayang betapa malunya jika malam itu aku sudah mengetuk pintu rumahnya dan marah-marah kepadanya. *** Sore pun tiba. Suamiku juga sudah berangkat ke tempat kebugarannya. Aku memutuskan pergi ke rumah Nadya tanpa sepengetahuannya. Sejak pagi hingga sore aku merasa kesepian dan bosan di rumah sendiri. Kuketuk pintu rumah Nadya, tetapi tak ada sahutan dari dalam. "Nadya?" panggilku untuk ke sekian kalinya. "Mbak Valen cari Mbak Nadya?" tanya Bu Ratna yang sedang menyuapi anak kecil. Aku hafal dengan Bu Ratna karena selalu bersamanya jika berbelanja di tukang sayur. "Iya. Ke mana, ya? Kok, sepi?" "Biasa. Mbak Nadya lagi olahraga. Ini anaknya selalu dititipin sama saya." "Oh, gitu, ya? Ya sudah, kalau gitu saya permisi dulu, Bu." Aku berlalu meninggalkan rumah bercat ungu itu. Hatiku mendadak panas ketika mengetahui Nadya pergi ke tempat kebugaran. Suamiku juga sedang ada di sana. Pantas saja Mas Rega bersikeras melarangku ikut ke sana. Ternyata di sana ada Nadya. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak boleh diam begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN