Wajah Dokter

1001 Kata
Tapi ... untuk apa Pak Joko menyembunyikan sesuatu? Kami sudah kenal lama. Apa lagi selama ini hubungan beliau dekat dengan Bapak mertua. Bahkan aku dengar, dulu beliaulah yang banyak membantu keuangan Bapak mertua saat pernikahanku dengan Sarah, ya walau bantuan itu berupa hutang. Bayangkan saja, jaman sekarang mana ada orang mau memberikan hutang cuma –cuma tanpa bunga? Kalau saja tidak ada Pak Joko, pasti hutang Bapak sudah beranak pinak sekarang di bank sekarang. “Ah, tidak! Mikir apa aku ini?” Kugelengkan kepala kala bisikan jahat itu muncul. Kami diajarkan untuk balas budi, bukan malah membalas air s**u yang diberikan orang lain dengan air tuba. Nanti sajalah, kucari tahu lagi. Pak Joko mungkin sibuk. Apa lagi dia belum menemui keluarganya sejak pulang dari toko, meski tidak bekerja sebagai bawahan orang lain dengan pekerjaan rutin di kantor, tapi tokonya selama ini lumayan ramai dikunjungi pelanggan. Wajar jika dia lelah dan ingin istirahat lebih dulu. “Besok saja kalau ketemu aku akan menanyakannya secara langsung, siapa tahu setelah ini orangnya membalas juga,” celetukku. Sambil menunggu jawaban, barang kali Pak Joko berubah pikiran dan membalas pesan, aku pun membuka kotak masuk yang lain. Pesan yang kutulis untuk orang tua itu, bukan pesan biasa, tapi masalah serius. Dahiku mengerut, kala melihat beberapa nomor baru berjejer mengirim pesan baru. “Siapa?” gumamku, sambil mengklik salah satu nomor itu. Mata ini memicing kala melihat foto profil pengirim. Seorang perempuan yang membuatku seketika membeku. “Maya.” Kusebut sebuah nama seseorang yang dulu pernah membuat duniaku seperti berada di surga dan berakhir dalam neraka, sampai aku bisa bernapas kembali setelah bertemu dengan Sarah. [ Mas. Aku dapat nomor kamu di grup alumni. ] “Grup alumni? Bukannya aku tidak gabung dalam grup itu?” Aku bahkan selalu ke luar setiap kali Doni atau admin lain memasukkan nomorku. [ Katanya istri kamu meninggal, ya, Mas. Aku turut berbela sungkawa. Aku juga sudah bercerai dari suamiku tahun lalu. ] “Heh.” Aku tersenyum sinis. Apa maksud Maya mengucapkan bela sungkawa sekaligus memberi tahu infonya? [ Terima kasih. ] jawabku singkat. Tak ingin terkesan senang mendapat pesan dari mantan. Kematian Sarah bahkan belum sehari, tapi dia sudah punya pikiran bahwa aku akan mencari wanita lain? Ketika ke luar dari dinding obrolan, benar saja ada grup baru tersemat di atas layar ponsel. Dan lagi, Maya kembali mengirim pesan, yang entah apa. Kuabaikan saja pesan dari Maya dan grup yang terus bertambah jumlah angka pesan baru itu dan beralih ke pesan lain, milik Doni. Grup itu terlalu ramai, jadi wajar kalau Sarah tak pernah mengizinkan untuk bergabung. Aku bisa paham sejauh mana kekhawatirannya. [ Assalamu alaikum, Fan. Sorry, gue masukin ke grup Alumni karena Maya maksa terus. Dan puncaknya tadi saat rame ada kabar istri kamu meninggal karena kecelakaan. Oya, gue turut berduka cita. Semoga almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah. ] [ Sorry, gue ke luar lagi, Don. ] Setelah mengirim pesan balasan untuk pria itu, sebagai formalitas dan sopan santun, tidak ke luar grup begitu saja tanpa lapor admin, aku pun segera left. Meninggalkan obrolan yang menurutku tidak jelas ke mana ujungnya. Walau aku sempat di –tag dan beberapa mereka menulis ucapan bela sungkawa. Ya, karena sering kali, perselingkuhan terjadi karena grup alumni tersebut. Dan beberapa teman kami sendiri sudah mengalaminya. Mereka ini apa –apaan? Hanya menambah pikiran saja. Aku mana sempat menyimak obrolan di grup dan membahas hal tak penting di saat seperti sekarang? Pikiranku masih terkuras pada kematian Sarah yang janggal dan menyisakan banyak tanda tanya dalam benak. Tak berapa lama, Tomy dan Bapak mertua datang, dengan kondisi Tomy yang diomeli pria tua itu. “Kamu ini apa –apaan, Tom? Berpuluh –puluh tahun, bapakmu hidup sekali pun belum pernah melihat hantu. Apa lagi ini kakakmu sendiri! Bagaimana kalau orang lain dengar, dan mengira kakakmu gentayangan? Mereka akan bergosip buruk!” pria itu terus menekan kata –katanya selagi ke dua kakinya berayun secara bergantian mendekat ke arahku. “Pak, tapi aku beneran lihat,” kekeuh Tomy. Dia tampak tak mau disalahkan. “Lagian aku ngomongnya cuma ke kita –kita aja. Keluarga kita. Gak pake toa mushola di kampung,” protesnya lagi. “Hiss, ini anak kalau dibilangin!” Tangan Bapak mertua terangkat seolah akan memukul Tomy. Pria itu pasti sangat kesal pada anaknya. “Bisa saja kamu salah lihat. Kalian katanya berempat tapi cuma kamu yang lihat dia sebagai Sarah. Artinya kamu hanya berhalusintrasi.” Aku tersenyum miris mendengar ucapan Bapak. Lucu saat orang mengatakan halusinasi dan terpeleset ke ucapan lain. “Halusinasi, Pak.” Tomy mengkritik. “Ya, sudah. Itulah! Pokoknya. Jaga ucapanmu! Jangan diulangi minta antar ke toilet, kalau kamu tidak mau bapak sunat dua kali!” Pria itu mendelik memperingatkan. Dia tampak sangat kesal. Kini setelah dekat, tatapan Bapak beralih padaku. “Bagaimana Fan, belum selesai juga?” tanya pria paruh baya itu. “Geh, Pak. Belum.” Sahutku menggeleng. “Operasi kan perlu waktu, Pak. Seenggaknya satu jam.” Tomy menimpali. “Kamu pikir, kita cuma sebentar di toilet?” kesal Bapak. Entah, sampai kapan mereka terus berdebat seperti ini. Tak lama. Sebelum Bapak dan Tomy sempat duduk, dokter sudah ke luar dari operasi. Kami pun berdiri untuk menyambutnya. Tak sabar mendengar jawaban hasil operasi. Namun, wajah pria itu datar sampai aku tak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi? “Dok, bagaimana?!” tanyaku antusias. “Ehm, kami telah berupaya maksimal.” Dokter itu menjawab. Apa maksudnya? Kenapa dia seolah mengatakan kalau sesuatu yang buruk telah terjadi? “Apa maksud Dokter? ! Dokter bilang akan menyelamatkan anak Sarah setelah membelah perutnya!” Bapak mertua protes dengan nada suara tinggi. Dia tidak terima jika setelah berdebat panjang dan pihak dokter berhasil meyakinkannya, ternyata anaknya tak bisa diselamatkan. “Pak sabar.” Dokter itu berusaha menenangkan. “Saya belum selesai bicara.” Aku yang tak bisa sabar, akhirnya langsung menerobos masuk ruang operasi dan melihat sendiri. Alangkah terkejutnya aku saat tahu hasil akhir operasi. "Sa ... rah?" Bersambung .... Next, insyaallah malam ini update bab selanjutnya. ??
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN