Aira sudah kembali ke rumah. Ia merapikan barang belanjaannya yang tak seberapa itu ke rak makanan sambil otaknya berpikir keras. Ucapan ibu warung tadi benar -benar membuat Aira bingung sekaligus penasaran tingkat dewa. Apa sih maksudnya?
Kalau bingung, jelas Aira bingung. Aira tidak mengingat apapun. Lagi pula, ia dan Zidan juga baru kenal. Memang sih, terkadang ada perasaan berdesir di dad4 Aira. Tapi, itu jelas hanya sebuah ilusi saja.
Siang ini, Zidan ijin pergi ke Kampung sebelah. Ada kerjaan untuk memberikan ceramah pada ibu -ibu pengajian yang tergabung dalam majelis taklim.
Katanya sih, Zidan bakal pulang sore hari. Tapi, kurang tahu juga. Namanya juga ustadz, setahu Aira, Abinya juga janji pulang sore, ternyata datang ke rumah malam hari. Terkadang ada sesia tanya jawab dan konseling yang tidak bisa dicut begitu saja. Namanya juga kerjaan kemanusiaan. Siap atau tidak siap, ya harus tetap siap dalam setiap kondisi apapun.
Ustadz itu kan sosok. Figur yang dianggap memiliki satu level kesempurnaan dibandingkan manusia dalam masyarakat umum.
Berhubung, Zidan belum pulang juga sampai sore hari, Aira mengambil alih semua pekerjaan rumah. Memang sudah seharusnya, Aira yang melakukannya. Tetapi, berhubung Zidan itu terlalu memanjakn dirinya, alhasil beberapa hari berada di rumah ini, Aira benar -benar diratukan sekali sebagai perempuan dan menjadi seorang istri.
Seharusnya, Aira senang dan bahkan bahagia diperlakukan seperti ini. Tetapi apa yang terjadi, Aira malah bimbang dan selalu dihantui oleh masa lalu. Cintanya dengan Raka belum selesai.
Aira duduk di Gazebo sambil mengajarkan beberapa anak kecil mengaji. Lama -lama, Aira menyukai aktivitas ini. Mengajar ngaji, menjadi istri Zidan yang super baik dan perhatian.
Keluarga kecil Aira dan Zidan sangat bahagia. Aira pun lama -lama bisa menerima Zidan sebagai suami. Ditambah lagi, Zidan begitu bucin sekali dengan Aira.
Zidan sudah duduk di kursi makan. Kali ini ia sedikit takjub dengan sikap Aira yang tiba -tiba berubah. Aira yang menyambut kedatangannya dengan sikap yang hangat.
Aira mulai membiasakan mencium punggung tangan suaminya dan membawakan apapun yang dibawa suaminya lalu menyiapkan pakaian bersih dan kini istri kecilnya itu mulai memasak dan menyajikan di meja makan tanpa meminta dibantu.
Aira sudah meletakkan beberapa lauk dan sayur. Bau masakannya sangat wangi dan pastinya enak. Semua makanan Aira dibuat dengan kelembutan dan penuh cinta.
"Makan Mas, biar Aira ambilkan," jelas Aira dnegan senyum penuh ketulusan.
Jujur, Zidan merasakan perubahan ini dan ia sangat sennag. Aira yang kini ada di depannya seperti menjadi Airanya yang dulu. Aira yang selama ini ia idamkan. Penuh kelembutan, ketulusan dan binar cintanya sangat besar.
"Mas ... Mau makan apa? Aira ambilkan," ucap IAra menatap lekat dua bola mata Zidan. Zidan yang sedang melamunkan Aira pun langsung kaget dengan suara AIra yang lebih tinggi intonasinya dibandingkan biasanya.
"Iya ... Terserah, apapun yang kamu siapkan pasti aku makan," jelas Zidan dengan cepat.
Aira mengangguk kecil. Ia mulai mengambil nasi, tumis kangkung dan telur dadar. Masakan sederhana tapi terlihat nikmat sekali.
Piring yang sudah terisi nasi dan lauk pauk itu diletakkan di depan Zidan.
"Makan Mas ..." titah Aira dengan lembut.
Aira pun juga mulai mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Lalu menikmati masakannay yang memang enak. Umi Hany selalu mengajarkan Aira memasak sejka kecil, hingga dewasa, Aira ingin masuk ke sekolah memasak dan terwujud.
Zidan juga nampak makan dengan lahap seperti belum makan selama berhari -hari.
"Pelan -pelan Mas. Ini minumnya," titah Aira yang mendekatkan gelas berisi air putih ke dekat Zidan.
Zidan mengangguk kecil dan mengambil air minum. Ia agak tersedak dan sulit menelan saking senangnya ingin menikmati masakan AIra.
Glek ...
Air putih itu sangat enak dan langsung melancarkan tenggorokannya.
"Udah enakan. Pelan -pelan kalau makan, kan gak ada yang minta juga," ucap Aira dnegan senyum mengembang.
Lagi -lagi, Zidan ikut tersenyum merasakan perubahan Aira yang sangat signifikan sekali. Sungguh ini membuatnya sangat bahagia sekali.
"Aku udah lama gak makan masakan seenak ini, jadi kayak pengen cepet -cepet," jelas Zidan dengan kedua mata berbinar.
"Ini masakan rumaha Mas. Cuma tumis kangkung sama telur dadar. Gak ada istimewanya," jelas Aira.
"Tetap istimewa Aira. Karena dibuat oleh wanita istimewa dan dnegan cinta yang luar biasa ..." jelas Zidan lagi sambil menatap Aira tanpa berkedip.
Tatapan itu jelas membuat Aira salah tingkah. Beberapa pertanyaan yang sudah dipersiapkan oleh Aira untuk Zidan pun mendadak buyar. Kedua matanya mengerjap pelan. Pujian Zidan itu menembus hati Aira yang paling dalam. Kenapa rasanay Aira sennag sekali di puji seperti ini oleh Zidan. Rasanya di dalam dad4 ada yang berbunga -bunga.
"Kenapa?" tanya Zidan yang melihat perubahan raut wajah Aira.
"Hmmm gak apa -apa," jawab Aira terbata.
"Beneran gak apa -apa?" tanya Zidan lagi sambil terkekeh.
"Ehmmm ... Mas ..." pangil Aira.
"Ya? Kenapa?" tanya Zidan pada Aira.
Jarang -jarang mereka ngobrol panjang lebar di ruang makan ini. Apalagi ngobrol dari hati ke hati.
"Aira mau tanya, memang kita pernah kenal sebelumnya?" tanya Aiara pada Zidan. Ttaapan Aiara benar -benar penasaran sekali.
Deg ...
Deg ...
Deg ...
Zidan tidak menyangka, kalau Aira bakal melontarkan pertanyaan ini dengan cepat dari perkiraannya. Sesuatu yang tidak sesuai dengan prediksinya.
"Mas? Kenapa diam?" tanya Aira bingung.
"Eummm ... Gak diam. Cuma mesti jawab apa? Kamu pikir kita sudah mengenal sejak lama?" tanya Zidan kembali memastikan pada Aira.
"Lho kok malah tanya balik, Aira kan tanya sama Mas ..." ucap Aira dengan dengusan kecil. Ia benar -benar ingin tahu soal ini.
"Hmmm ... Yang jelas aku kenal kamu sudah lama sekali," jelas Zidan pada akhirnya.
"Oh .. Jadi benar ya ..." ucap Aira pelan.
"Gimana? Benar apanya?" tanya Zidan bingung.
"Eumm ... Gak apa -apa. Kita pernah pacaran sebelumnya?" tanya Aira mendesak Zidan.
Zidan terlihat sedang menarik napas dalam. Jujur, pertanyaan ini mmebuat Zidan bingung. Haruskah ia mnceritakan semuanya dengan jujur sesuai fakta. Abi Hanafi sudah mewanti -wanti Zidan untuk tidak membuka perihal ini kalau Aira belum mengingat semuanya. Nanti dianggap semua hanyalah bualan omong kosong saja.
"Enggak," jawab Zidan tegas.
"Oh ... Benar dugaan Aira, kita memang orang asing kan? Mana mungkin kita kenal dan sedekat itu dulu. Masa Aira gak ingat appaun. Sungguh lucu gosip orang -orang itu," ucap Aira sambil terkekeh.
Zidan menyipitkan matanya. Ada hal yang tidak ia ketahui sepertinya. Apa itu.
"Maksud kamu apa?" tanya Zidan pada Aira.
"Ohh ... Bukan apa -apa. Beberapa hari lalu Aira belanja di warung depan. Mereka seperti mengenal AIra dengan baik dan mereka bilang sekarang tambah cantik masih sama seperti dulu pertama kali dibawa Ustadz Zidan. Kira -kira apa maksudnya Mas?" tanya Aira pada Zidan.
Perasaan Zidan saat ini seperti dilempar batu besar. Sakit? Tentu saja iya. Kalau ingat waktu itu dan setelah itu. Rasanya Zidan kalau tidak kuat iman, ia sudah menghilang dari muka bumi ini.
Rasa cinta Zidan kepada Aira sangat besar. Keluarganya juga sangat mendukung Zidan untuk bersama dengan Aira. Dukungan ini yang mmebuat Zidan kembali bersemangat ingin kembali mendapatkan Aira seutuhnya melalui jalur langit. Dan ternyata Allah mengabulkan semua doa -doa itu.