22

2001 Kata
Lena berjalan santai. Menikmati udara di sore hari ketika Nalaya memilih menutup butik lebih cepat karena orang tuanya harus berangkat ke Kanada dalam waktu yang lama, Nalaya akan mengantarnya ke bandara. Matanya jatuh pada pohon-pohon yang terhias apik dan lampion-lampion yang menggantung di udara. Akan ada festival rakyat malam nanti. Lena hampir lupa, dia akan datang setelah membersihkan diri. "Lena," Langkah Lena terhenti. Dia menoleh dan melihat Advan keluar dari pagar kayu rumah mungil itu. "Oh, Advan," Lena tersenyum saat pria itu berjalan menghampirinya. "Kau tidur di sini?" Advan menoleh menatap rumahnya dan mengangguk pelan. "Ya, malam ini," "Hmm," Lena mengangguk. Tidak tahu harus bicara apa. Dia menoleh, menatap lampion-lampion yang terus bertambah tergantung di udara. "Ada festival malam ini. Akan ada banyak makanan, pertunjukkan kecil, barang-barang berdiskon," kata Lena. Advan mengikuti arah pandang wanita itu. Dahinya mengernyit karena dia asing dengan acara itu. "Festival?" Lena mengangguk. Dia antusias. "Aku tidak akan masak malam ini. Karena aku ingin jajan sepuasnya," dia terkikik geli sendiri. Advan menatap wajah itu dengan sorot mata dalam dan mendengus kemudian. "Kapan itu terjadi?" "Nanti, mungkin dua jam dari sekarang," Advan melirik jam di pergelangan tangannya. Dia menganggukan kepala. "Kau mau datang?" Oke, itu pertanyaan spontan yang meluncur bebas begitu saja. Advan melirik Lena yang mengangguk senang dengan senyum. "Aku akan datang!" Advan terdiam sebentar. Dia berpikir cukup lama sambil menatap pohon apel yang dihias beraneka bentuk dan lampion yang bermacam-macam siap dinyalakan. "Apa aku ... boleh ikut?" Iris hutan itu melebar sempurna. Lena menahan geli di bibirnya saat dia menganggukkan kepala gemas. "Tentu saja. Kenapa tidak? Mungkin membosankan, tapi setidaknya bagus mengisi waktu luang dibanding kau dirumah. Benar, tidak?" Advan hanya mengangguk tipis menyetujui ucapan wanita itu. Dia melihat Lena memutar tubuhnya, berjalan menjauh menuju belokan jalan untuk pergi ke rumahnya. "Aku akan menjemputmu, jam tujuh," bisik Advan pelan saat sosok Lena tidak lagi terlihat di matanya. Helaan napasnya terdengar panjang. Advan menengadah, menatap langit sore hari yang begitu cerah. Tidak ada tanda-tanda hujan akan turun. Jam tujuh tepat. Sesuai janji Advan pada dirinya sendiri, dia berdiri di depan pagar kayu yang terkunci. Dia mencoba menepuk pagar itu agar Lena keluar. Pintu kayu itu terbuka. Lena melebarkan matanya ketika dia kembali menutup pintu dan memperbaiki ikatan rambutnya. Dia belum selesai merapikan diri setelah mandi, dan kenapa Advan ada di depan pagar rumahnya? Saat Lena mengambil tas selempangnya yang sudah terisi dompet dan ponsel, dia bergegas keluar rumah. Mengunci rumahnya dan menyimpannya di dalam tas. Lena berjalan mendekati pagar. Sedangkan Advan hanya berdiri diam, menunggu dalam keheningan. "Kupikir kau akan pergi sendiri," kata Lena saat dia menutup pagarnya. Advan meliriknya sekilas. Mereka berpakaian santai malam ini. Lena hanya memakai sweater berwarna biru langit dan rambutnya terkuncir. Juga celana kain hitam yang membungkus kakinya. Dan Advan memakai kemeja abu-abu dan celana bahan. Karena dia tidak membawa kaus yang pantas untuk pergi ke luar selain kaus untuk tidur, dia memakai kemeja seadanya yang tertinggal di dalam rumah. Advan menunduk. Dan Lena menangkap tatapan lirih itu. "Kau kenapa?" "Penampilanku ..." Lena menatap penampilan Advan malam ini dan dia tertawa pelan. "Oh, kau seperti bapak-bapak siap pergi ke kantor?" Lena menggodanya dan Advan mendengus keras. Memandangi rupa yang menggambarkan ekspresi geli sekarang. Dia tertawa lagi. "Tidak, kau bagus dengan kemeja itu," Lena memberikan jempolnya pada Advan. Ketika Lena berpaling dan mereka kembali berjalan, Advan menundukkan kepalanya, menyimpan sendiri senyum samar yang terbit di bibirnya. Dia terusik saat Lena memekik dan mereka masuk ke dalam festival. Festival yang tidak pernah Advan lihat selama hidupnya. "Ini festival?" Lena mengangguk. Saat banyak orang berkumpul untuk membeli sesuatu atau melihat-lihat barang yang bagus dengan harga terjangkau, Advan mulai tidak nyaman di keramaian. Advan menatap para pedagang makanan yang menjual aneka makanan dalam rasa dan bentuk yang berbeda. Dia merasa asing dengan beberapa makanan yang dijual. "Lumpia basahnya satu," pesan Lena pada wanita paruh baya yang dengan gesit membuatkan pesanan Lena. "Kau mau?" Advan menoleh dengan kening berkerut. Dia bolak-balik menatap lumpia itu dan beralih pada Lena. "Ini makanan apa?" "Lumpia," Lena mengernyit. Tiba-tiba dia bingung bagaimana harus menjelaskan pada Advan. "Lumpia basah," bisiknya pelan dengan ekspresi bingung. "Ini cukup lezat, menurutku. Kau mau mencobanya? Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Akan kupesankan satu, kalau kau mencoba?" Advan menghela napas. Kepalanya menggeleng pelan. Lena mengerti hal itu, dia hanya mengangguk tipis. Saat lumpia itu ada di tangannya, Lena mencoba makan dengan mengorek isinya dengan sumpit yang diberikan. Advan menatapnya bingung. "Cari tempat duduk kalau kau mau makan," katanya, menasihati. Lena menggeleng dengan tawa saat mulutnya penuh berisi tahu fermentasi dan kacang serta tauge. "Tidak perlu mencari tempat duduk kalau kau di sini. Mereka tidak menyediakan tempat duduk," balas Lena singkat. Berpendar mencari tempat yang lebih senggang untuk mereka berdua. Advan terpaku. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan memang tidak ada tempat duduk yang disediakan. "Tidak apa. Aku mengerti karena kau baru pertama kali datang ke festival," Lena menelan lumpia itu di dalam mulutnya. "Kau ingin beli sesuatu? Mereka menjual aneka macam makanan dan souvenir. Festival biasanya begitu." Advan menggeleng pelan. "Sosis bakar, mungkin?" Advan menggeleng lagi. Lena terkekeh. "Oke," Mereka menghabiskan waktu sekitar lima belas menit untuk berkeliling. Terkadang Lena masih mencoba wisata kuliner dengan membeli beberapa makanan yang menurut Advan sangat mengenyangkan perut, dan napsu makan wanita itu benar-benar luar biasa. Tatapannya jatuh pada takoyaki yang sedang dimasak. Advan menoleh, tidak mendapati Lena di sisinya saat dia kebingungan dan memutar kepalanya mencari kemana wanita merah muda itu pergi. "Ini takoyakinya," kata penjual laki-laki muda itu. Advan membeli dua takoyaki. Satu untuknya dan satu untuk Lena. Saat dia berputar arah mencari kemana Lena pergi di tengah keramaian seperti ini, dia tidak menemukan wanita berambut gulali itu dimana pun. Advan mengambil ponselnya. Dan dia tersentak. Karena baru menyadari kalau dia tidak memiliki nomor Lena di ponselnya. "Sial," Advan menggeram dalam hati. Kepalan tangannya pada plastik bungkus takoyaki mengerat. Napas Advan penuh kelegaan ketika dia berjalan sedikit jauh dan menemukan Lena ada di tengah-tengah pembeli gantungan kunci yang dijual anak remaja tanggung yang sejak tadi berbicara merayu para pembeli untuk membeli dagangannya. "Khusus malam ini, beli satu gratis satu," katanya merayu. Lena memutar mata dengan senyum geli. Dia memilih-milih dalam diam saat mencari-cari gantungan kunci yang cocok untuk pintu kamarnya. "Tampan sekali," pekik gadis berambut cokelat sebahu itu riang. Dia menatap Advan yang berdiri kaku di samping Lena, dan sayangnya Lena belum mengetahui kehadiran Advan di sisinya. Advan berdeham pelan. "Lena," "Heh?" Lena melirik dari sudut matanya dan dia kebingungan. Saat menoleh ke tempat penjual takoyaki, dia baru menyadari sesuatu. Lena menutup wajahnya. "Maafkan aku karena meninggalkanmu di tempat takoyaki itu," bisiknya menyesal. Advan menggeleng cepat. Dia menatap Lena yang kini mengalihkan pandangannya pada gantungan kunci di atas meja. "Aku beli yang ini satu," Lena membawa gantungan kunci itu ke gadis penjual dan gadis itu menunjuk meja lagi. "Pilih salah satu lagi. Yang satu ini gratis," Lena mengerutkan keningnya. Dia menatap satu-persatu gantungan kunci yang unik menurutnya di atas meja. Keningnya mengernyit. "Menurutmu, bagus yang mana?" Lena menoleh dan mendapati Advan mengerjap. Pria itu melamun sembari menatapnya. Lena menunggu dalam diam ketika tatapan Advan jatuh pada puluhan gantungan kunci di atas meja. "Yang ini?" Lena mengambil gantungan kunci pilihan Advan. Gantungan itu hanya berbentuk suling yang terbuat dari kayu dan dicat mengkilap. "Oke," kata gadis itu saat dia membungkus dua gantungan kunci yang Lena pilih. Setelah Lena membayar, dia berjalan bersama Advan untuk keluar dari festival. Lena melirik ke tangan pria itu, ada dua takoyaki yang terbungkus dalam plastik sama. Apa Advan lapar? Lena berpikir dalam benaknya. Lena pikir Advan akan pergi langsung menuju rumahnya karena lebih dekat dan tidak memutar. Tapi perkiraannya salah, Advan mengantarnya pulang lebih dulu walau dia harus berjalan sedikit lebih jauh. "Terima kasih," Lena mendorong pagar kayu rumahnya dan tersenyum. Advan menatapnya dalam diam, kepalanya mengangguk tipis saat Lena merogoh sesuatu dari plastik kecil yang dia bawa. "Ini untukmu," Lena mengulurkan telapak tangannya di mana gantungan kunci berbentuk suling kayu itu ada di sana. Pandangan mata Advan cukup lama menyapu gantungan mungil itu, wajahnya meredup perlahan. "Simpan saja, anggap saja kenang-kenangan dariku," Lena memaksa Advan dengan mengambil telapak tangan pria itu dan menaruh gantungan kunci mungil di atas sana. Advan terdiam. Dia menatap gantungan kunci itu agak lama dan saat Lena berbalik, dia kembali memanggil namanya. "Aku membeli dua takoyaki," Advan menunduk, mengambil bungkus takoyaki yang sama besarnya dengan miliknya. "Untukmu." "Benarkah?" Lena mengambil takoyaki itu dengan senyum malu. "Terima kasih." Advan hanya mengangguk tipis. Dia melihat Lena berbalik dan melambai kecil padanya. "Selamat malam," dia sedikit berteriak dan akhirnya pintu mungil itu terbuka. Lena masuk ke dalam dan menutup pintunya. Advan kembali larut dalam keheningan. Dia menundukkan kepala, menatap gantungan kunci itu dengan sorot lirih tak terbaca saat Advan berjalan pergi menjauh dari rumah mungil Lena.  *** "Kemana Nalaya pergi?" Lena berujar cemas setelah melihat Nalaya yang terburu-buru keluar dari butik dengan air mata mengalir deras membasahi seluruh permukaan wajahnya. Lena yang kebingungan lantas mengejar Nalaya sampai parkiran dan gadis itu tidak mendengarkannya sampai Nalaya pergi begitu saja. Haruka menggeleng dengan ekspresi sedih. Begitu pula dengan Mara yang merespon sama. Mereka sama-sama tidak tahu kemana Itoo itu pergi. Lena berdiri dari kursinya, dia membuka ruangan milik Nalaya yang tidak terkunci. Dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan sahabatnya itu. Saat Lena mencoba menyalakan komputer milik Nalaya, dia terkejut dengan berita harian luar negeri dimana kecelakaan mobil beruntun baru saja terjadi. Sekitar enam orang tewas di tempat. Lena mencoba membacanya dalam hati dengan serius saat dia mengetahui dimana lokasi kecelakaan itu terjadi. Di Kanada. Orang tua Nalaya ada di Kanada. Lena mengerti sekarang. Karena di artikel itu tidak tertulis siapa nama korbannya dengan jelas, Lena menduga-duga bahwa pihak rumah sakit di sana menghubungi Nalaya tentang orang tuanya. Lena merasakan jantungnya berdegup kencang. Dia berlari dari ruangan Nalaya dan mencari tasnya. Mengambil ponsel miliknya dan menghubungi nomor Nalaya berulang kali. Hanya ada pesan suara yang terdengar. Lena mendesah panjang. Wajahnya berubah sangat cemas karena Nalaya tidak kunjung mengangkat panggilan darinya. Lena mengambil mantelnya dan menitipkan butik pada Haruka dan Mara yang mengangguk lalu membiarkan Lena pergi mencari Nalaya di suatu tempat. Lena memanggil taksi yang lewat di depan butik. Dia segera bilang pada sang supir untuk membawanya ke taman kota, karena itu jarak paling dekat yang bisa Nalaya tempuh untuk menemui kekasihnya. Kantor Raka tidak jauh dari taman, Lena berdoa dalam hati agar dia belum terlambat untuk menemui gadis itu. Setelah Lena membayar taksi, dia segera berlari. Mencari Nalaya dengan berkeliling tak tentu arah. Dia mencoba sekali lagi menghubungi Nalaya, sayangnya tidak diangkat. Lena menarik napas panjang, dia mulai tidak tenang. "Aku akan meminjamkan pesawat pribadiku padamu kalau kau ingin mengejar waktu ke Kanada secepat mungkin," Lena menghentikan langkahnya mendengar suara isakan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Matanya jatuh pada sosok Nalaya yang menangis di pelukan seorang pria. Di tempat duduk yang sepi di pinggir taman. Advan. Lena tidak berani mendekat lebih jauh. Saat dia berhenti untuk mendengar isak tangis Nalaya yang pecah lebih jauh lagi. Tangan Advan terulur untuk mengusap bahu dan rambutnya. Lena masih terpaku selama beberapa saat, tidak mampu berbuat apa-apa. Seharusnya tidak begini, kan? Seharusnya dia datang, berlutut di hadapan Nalaya dan mereka menangis bersama. Tidak peduli ada Mori Advan di sana, tidak seharusnya Lena berdiri layaknya patung di sini. Tapi kenapa? Kenapa langkah kakinya terasa berat untuk sekedar melangkah lebih jauh lagi? Lena bingung dengan dirinya. Fujita Abe menunduk, menatap Advan dan Nalaya bergantian dengan helaan napas panjang. Dia ada di sini setelah makan siang bersama Advan dan mereka pergi ke taman untuk mencari udara segar selepas makan. Dan ini yang dia dapatkan. Iris biru laut Abe menangkap sosok yang tidak lagi asing di depannya, berdiri tidak jauh di depan mereka. Napas Abe semakin tertahan kala dia melihat Lena menegang di tempatnya berdiri dalam diam. Ketika Advan menghentikan usapan tangannya, kepalanya terangkat naik secara perlahan, dan dia menahan napasnya ketika sorot matanya menangkap sosok lain yang berdiri dengan air mata menggenang. Lena berjalan mendekati mereka. Air mata siap tumpah dari pelupuk matanya ketika Nalaya memutar kepala, menyeka air matanya dan Lena berlari memeluknya. Advan membeku cukup lama. Mendengar keduanya menangis sembari berpelukan, dia menjauh dari sana secara perlahan. Itoo Nalaya berdiri dengan senyum. Dia menatap Advan dengan kelopak mata membengkak. "Terima kasih untuk kebaikanmu," dia berdiri. Mengusap wajah Lena dengan tangan bergetar saat Nalaya berpamitan untuk pergi dari sana karena Raka menunggunya. Lena menarik napas panjang, mengusap wajahnya yang basah dan kembali menunduk, meremas tas selempangnya. Sedangkan Advan berdiri membatu di belakang punggungnya. Dia mencoba meraih tangan mungil itu saat Lena berjalan pergi, menjauh darinya tanpa menoleh ke belakang. Dimana Advan ada di sana dan berharap bisa melihat wajahnya, walau hanya sebentar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN