Diam-diam aku ragu, diam-diam pula aku malu padamu. Mendadak malu. Menyambung perkara kebodohanku semalam karena membayangkan yang tidak-tidak akan dilakukan pak Ranu kepadaku, nyatanya pagi ini aku yang malu sendiri. Malu karena terlalu bodoh memikirkan hal seperti itu dengan kondisi aku bukan ditubuhku sendiri. Padahal kalau aku lihat dari gerak geriknya, pak Ranu biasa saja. Seperti pagi-pagi sebelumnya. Menikmati sarapan, sambil membaca berita-berita terupdate dari tab yang ada ditangannya. Sedangkan aku dan ibu, yang masih dalam tahap pemulihan, hanya diam-diam saling pandang. Melontarkan percakapan dari tatapan kami. “Kok tumben Elam enggak datang pagi ini?” tegur pak Ranu pada ibu. Merespon kaget, ibu membalas tatapan pak Ranu dengan bias-bias perasaan cinta yang bisa kurasa

