Bab 4

1233 Kata
Katakan saja aku gila, yang memaksamu terluka agar aku merasa bahagia.   Weekend… Yes, bisa bangun siang. Akhirnya bisa terbebas dari segala perintah baginda, alias bos anyep-anyep ngeselin. Sekalipun aku sudah bangun sejak pukul 6 tadi, tapi sampai detik ini aku masih berguling santai di atas kasur. Menikmati spreiku yang wanginya sudah sama dengan aroma tubuh ini, sembari men- scroll medsos. Seperti anak gaul saja. Memang. Padahal medsosku sepi banget. Di f*******: contohnya. Statusku sih berpacaran dengan Elam, eh itu bocah jarang banget buka facebooknya. Terus di i********: juga, aku tulis keterangan soulmate dari Elam, eh boro-boro dilihat sama dia, punya i********: juga karena aku yang minta. Heran … serius heran, di zaman modern kayak begini, ada Elam, sosok laki-laki tanpa akun medsos. Luar biasa sekali kan. Awalnya aku bingung, dia melakukan apa diwaktu-waktu weekend seperti saat ini. Masa iya dia keluar rumah terus, atau main tanpa henti bareng teman-temannya. Sungguh sangat tidak mungkin. Ada sih, sekali dua kali dia akan keluar, bertemu dengan temannya. Tapi selanjutnya, yang kutahu selama 2 tahun mengenal Elam, dia akan di rumah. Menyibukkan dirinya. Biasanya setelah membantu ibunya berberes rumah, seperti nyapu dan mengepel, dia akan cuci motor. Dan jadi bengkel seharian di rumah. Atau kalau misalkan kondisi fisiknya lelah, dia akan istirahat saja di kamarnya, sambil sibuk bermain game. Yah, kupikir Elam masih masuk kategori laki-laki normal. Dia tidak merokok. Dia tidak suka keluyuran tidak jelas. Karena setiap dia pergi keluar bersama temannya, dia selalu mengirimkan foto dimana dia berada dan bersama siapa. Dan semua itu bukan aku yang meminta. Dia yang rela melakukannya. Katanya sih, untuk menjaga kepercayaan satu sama lain. Aku sih menurut saja. Apalagi Elam tahu aku orang yang paling anti keluar rumah, jika tidak penting-penting banget. Jadi, mungkin karena itu juga dia mengirimkan foto kegiatannya selama diluar kepadaku. Masih sibuk dengan i********:, f*******: yang nonton iklan doang, sampai twitter yang bacain cerita, pintu kamar dengan design berwarna kayu dibuka oleh ibu. Wajahnya terlihat berbinar, seperti orang sedang kasmaran. Duh, kok feeling- ku jadi tidak enak, ya? “Kenapa, Bu?” “Keluar gih, ada pak Ranu.” Terbengong sebentar, aku menatap ibu, seolah tidak paham maksud kelakuan pak Ranu ke rumah diwaktu weekend ini. “Ah, dia ngapain weekend datang pagi-pagi?” “Ih, pagi dari mana sih, Rhe? Udah siang. Udah jam 10. Kamu aja yang bangunnya kesiangan.” Aku sedikit ragu melirik jam dinding dengan model vintage kayu di kamarku, dan benar kata ibu sudah jam 10. Waduh gila, kalau sudah menyelami sosmed memang buat lupa waktu. “Ini Rhea banget yang nemuin dia?” “Bukan gitu, ibu mau buat camilan dulu di dapur. Masa dia dibiarin sendirian di ruang tamu. Kamu lah temani. Atau telepon Elam gih, suruh main ke sini.” Bibirku meringis, tidak setuju sebenarnya, tapi masalahnya tatapan ibu penuh harap sekali. Mau tidak mau aku keluar terlebih dahulu. Dengan kondisi belum mandi, belum cuci muka, aku tidak peduli. Bukannya dia berniat sekali ingin bersama dengan ibu, kalau begitu dia wajib menerimaku juga dengan segala kekurangan yang kumiliki. Salah satunya jarang mandi jika libur. “Eh, pak Ranu,” sapaku sambil menguncir rambutku asal. Dia terlihat tersenyum. Tulus sekali. Sampai aku terhanyut dan sempat lupa jika dia adalah laki-laki yang memaksa ibu untuk menikah buru-buru. “Kamu baru bangun, Rhe?” Satu pertanyaan meluncur dari mulutnya. Dan sudah sangat lebih luwes. “Hm. Bangun sih udah dari tadi, cuma ini baru turun dari kasur aja.” Jujur dong. Masa mau memulai sesuatu harus bohong sih. “Iya sih, libur memang enaknya tidur  … an,” jedanya sambil terkikik geli. Aku mengiris, mendengar leluconnya yang garing. Mungkin maksudnya ingin membuatku tertawa saat ini. Tapi sayangnya tidak ada niat sedikipun untuk aku tertawa sekarang. “Elam enggak ke sini?” “Dia mah kalau weekend gini main bengkel-bengkelan di rumahnya.” Jawaban asalku kepada pak Ranu malah ditanggapi serius olehnya. Jelas sekali aku melihat manik mata berbinar darinya saat ini. Seperti pak Ranu baru menemukan orang yang se- passion dengannya. “Loh pak Ranu suka juga main bengkel-bengkelan?” Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah tertawa. “Iya. Saya suka otak atik barang. Kadang motor. Kadang sepeda. Kadang kipas angin.” “Abis diotak atik tetap bener, apa jadi ancur?” tanyaku penasaran. Kalau biasanya aku, setelah tangan ini mengotak atik sesuatu, barang tersebut akan hancur dan tidak bisa berfungsi kembali. “Hidup, lah. Kamu kali tuh yang sukanya ngerusakin.” Gaya bicaranya yang semakin santai, malah membuatku ingin teriak. Ya ampun ini orang SKSD banget!!! “Oh, maaf. Maaf kalau saya salah bicara,” ucapnya sewaktu melihat ekspresi kesalku. Sumpah demi apapun, dulu Elam saja butuh waktu cukup lama untuk bisa benar-benar membuatku nyaman ketika kami sama-sama saling berbicara. Tapi pak Ranu ini, baru kenal dalam hitungan hari saja, sudah berani bicara seenaknya. “Maaf, Pak. Saya mau mandi dulu.” Langsung saja kutinggalkan dia sendirian di ruang tamu, karena mood baikku sudah benar-benar hilang. Memangnya dia pikir dia siapa? Belum menikah dengan ibu saja sudah seenaknya. Apalagi sudah menikah nanti, aku bisa-bisa terjajah.   ***   “Bodo amat, aku enggak mau tahu. Kamu aja yang datang ke sini, dan temenin tuh orang. Males banget aku lihatnya. Sumpah ya, dia tuh pengen SKSD, tapi jadinya aneh. Pengen aku pites aja kepalanya. Ya ampun, enggak kebayang sama sekali kalau dia jadi bokap tiri aku nanti!!!” Sambil membersihkan wajah di depan meja rias, intonasi suaraku ketika menghubungi Elam sama sekali tidak bisa terkontrol. Aku menumpahkan segala hal yang terasa di hatiku, sampai-sampai hanya terdengar helaan napas stress dari Elam mendengar aku emosi berkepanjangan seperti ini. “Udah marahnya?” “Belum lah, kamu ke sini makanya.” “Ngapain aku ke rumah kamu? Mau dengerin kamu ngomel-ngomel doang?” “Ih, bukan gitu. Aku juga enggak rela ibu cuma berduaan sama dia di ruang tamu. Aku benar-benar enggak ikhlas. Sumpah, rasanya dulu ayahku enggak begini banget orangnya. Tapi kenapa sekarang ibu jatuh cinta sama laki-laki seaneh pak Ranu ini?” “Ye, kok kamu ngomongnya gitu. Dengerin aku ya, walau seburuk apapun pak Ranu dimata kamu, tetap ada satu hal pastinya yang bisa buat ibu kamu nyaman. Jadi jangan samain penilaian orang. Emangnya kamu mau ada yang nilai gitu juga ke aku. Misalkan gini, idih Rhea kok mau-maunya sih sama Elam. Elam kan orangnya bawel, banyak ngomongnya, suka cengegesan doang. Emang kamu suka dengar komentar kayak gitu. Enggak suka kan. Karena dimata kamu, aku laki-laki terbaik yang pernah kamu kenal.” “Hah, apa? Sinyalku jelek nih, tulilalilut lilalilut….” “Alah, bisaan aja kamu. Intinya cuma satu, apa yang kamu rasakan terhadap satu orang, belum tentu orang lain merasakan hal yang seperti kamu kepada orang itu.” “Wah enggak bener nih.” “Enggak bener kenapa?” tanya Elam terdengar bingung. “Enggak bener karena kamu belum apa-apa udah bersekongkol sama pak Ranu. Apalagi udah ada hubungan sah. Kayak calon papa mertua tiri. Wah, enggak baik ini mah.” “Tuh, kan. Mulai deh pikiran buruk kamu. Rhe, please lah dengerin aku. Yang bikin pak Ranu salah terus dimata kamu, karena penilaian kamu ke dia udah enggak baik. Kamu posesif, Rhe. Kamu takut terlupakan oleh ibu kamu, setelah dia menikah dengan pak Ranu. Tolong akui itu.” Gerakan tanganku mengusap kapas berisi toner lagi-lagi terhenti. Semua anggota tubuhku seolah patuh atas perintah otakku, yang menyetujui kata-kata Elam barusan. Karena sejujurnya semua itu benar. Aku hanya tidak ingin ibuku melupakanku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN