Bab 16

1156 Kata

Tawaku tak sederhana, karena lukaku tidak kunjung reda.   Sekitar 15 menit aku baru keluar dari toilet, dimana ibuku sudah tidak ada di depan pintu. Bibirku tersenyum kecut mendapatkan fakta ini. Walau kupikir ibu yakin aku tidak akan menangis jika ditinggalkan sendiri, tapi sayangnya ibu tidak paham. Selama tadi aku berada didalam toilet karena aku sibuk menangisi kondisi saat ini. Kondisi dimana aku pun bingung mengartikannya. Karena sejujur saja, hatiku bicara, aku tidak ingin memiliki ayah pengganti. Tapi bagaimana bisa aku bicara seperti itu kepada ibu? Bukankah egois namanya jika aku memutuskan sepihak. Oleh karena itu, sesuai saran Elam, aku mencoba untuk mengenali lebih dalam laki-laki itu, Ranu Wardhana. Laki-laki yang berusia cukup muda, namun dengan hebat mau meminang ibuku.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN