Tak mengapa jika kini kusendiri, asalkan pertemuan ini segera terjadi. Sebagai calon menantu kesayangan ibu, Elam langsung mengerjakan hal yang kuperintahkan. Dia langsung mengeluarkan hape dari sakunya, lalu menekan nomor 2, untuk menghubungi ibu. Beberapa saat kami saling tatap, menunggu sambungan tersebut diangkat oleh ibuku. Tak berapa lama, suara sapaan lembut ibuku terdengar. Karena Elam sengaja menekan pengeras suara, agar aku bisa mendengar suara ibuku. “Halo, kenapa, Nak?” “Ah, enggak, Bu. Ini, Rhea minta aku hubungi Ibu,” ucap Elam membuatku mendelik. Kudengar ibuku tertawa. “Mana itu anak? Cuma bisa ngumpet di belakang kamu aja.” “Haha, ini lagi sama saya orangnya, Bu.” “Terus gimana? Kalian ikut ibu sama pak Ranu, kan? Dia bilang sudah mau jalan ke rumah untuk jemput

