REYSAM - 8

1044 Kata
Pagi ini Samantha bangun dengan perasaan yang aneh. Setelah semalam ia diantar pulang oleh Harey, banyak hal yang berseliweran di kepalanya. Sam senang karena bisa bertemu dengan Rey lagi. Tapi ia yakin jika Rey sudah melupakannya. Maka dari itu Sam membuat banyak pilihan. Mulai dari menjauhi Rey, memberi tahu Rey yang sebenarnya, pura-pura saja tidak kenal dengan Rey, atau bersikap ketus seperti biasa pada Rey. Pikiran-pikiran itu membuat Sam pusing setengah mati hingga akhirnya ia memutuskan untuk berpura-pura tidak kenal dengan Rey dan jalani saja semua sesuai rencananya. Sam segera bangkit dari ranjangnya lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk ke sekolah. ***** "Selamat pagi, Nona" sapa para pelayan saat melihat Sam menuruni tangga. "Selamat pagi" jawab Sam ramah. "Pagi, Nek" sapa Sam pada Sarika lalu mencium pipi Sarika. Sebuah kegiatan yang sangat ingin Sam lakukan setiap hari dengan ibunya. Dulu, Sam tak pernah melakukan hal seperti itu karena sebagian besar kegiatannya selalu ditemani oleh sosok ibunya. Tak pernah ada sosok Maura yang menantinya di meja makan, karena ibunya itu selalu membangunkannya dan memandikannya setelah ibunya selesai membuat sarapan untuknya. Setelah itu mereka bersama-sama pergi ke meja makan. Terkadang malah Sam yang menunggu ibunya menyelesaikan masakannya. "Pagi, Sayang. Ayo duduk. Kamu mau sarapan apa?" Tanya Sarika. "Aku mau omelette sayur dan sosis goreng, Nek" jawab Sam. Kedua makanan itu adalah masakan yang paling sering Maura masak untuk Sam kecil. Yang membedakan, dulu Sam tidak akan memakan sayur. Sam dan Raga memiliki sebuah kesamaan yang membuat Maura sebal setengah mati. Mereka sama-sama tidak menyukai sayuran. Namun sejak Maura tak ada di sisi Sam, gadis itu terus memaksa dirinya sendiri untuk memakan banyak sayuran. Bahkan ia selalu sarapan dengan omelette sayur. Ia menganggap seolah ibunya yang memasakkan makanan itu. Dalam hati ia selalu berharap agar sarapan esok, ibunya yang akan benar-benar membuatkannya. ***** "Selamat pagi, Nona Sam" sapa Reno saat Sam keluar dari rumah. "Pagi, Kak. Berangkat sekarang ya" perintah Sam yang langsung di setujui oleh Reno. Saat mereka melewati gerbang, entah kenapa Sam terus menoleh dan menatap rumah sebelah; rumah Harey. ***** Sam sampai di sekolah tepat seperti yang ia rencanakan. Sekolahnya masih sepi sehingga tak akan ada yang melihatnya turun dari mobil mewahnya. Sam segera pergi ke lokernya untuk mengambil buku yang akan ia pelajari dan menukarnnya dengan buku yang kemarin sempat ia bawa pulang. "Pagi" ujar seseorang saat Sam menutup pintu lokernya. Sontak Sam kaget bukan main. "Pagi" jawab Sam datar setelah berhasil mengendalikan dirinya. "Pagi-pagi udah judes aja" tegur seseorang pada Sam. Pemuda itu adalah Rey. Pemuda yang tinggal di sebelah rumahnya dan pemuda yang ternyata menempati loker di sebelahnya juga. "Kenapa sih kamu seneng banget kagetin saya?!" Ujar Sam ketus. "Lho? Siapa yang kagetin? Lo aja yang kagetan" "Terserah" Sam lalu meninggalkan Rey. "Lo mau kemana?" Tanya Rey sambil melangkah di sebelah Sam. "Kemana aja yang nggak ada kamunya!" Sam pun mempercepat langkah kakinya. Rey pun berhenti berjalan dan tak berniat mengejar. Dari buku yang semalam ia pelajari, harus ada tarik ulur. Kalau ia kejar Sam sekarang, gadis itu pasti akan menolaknya mentah-mentah. Namun jika ia tak mengejar Sam, gadis itu pasti akan bertanya-tanya dimana keberadaannya. "Kenapa muka judesnya Sam ngingetin gue sama Arin, ya?" Gumam Rey yang tiba-tiba tersadar akan sesuatu. Sedari pertama bertemu Sam, memang Rey terus berpikiran jika mereka pernah bertemu sebelumnya. Namun setelah beberapa kali mendapati wajah masam milik Sam, akhirnya kali ini Rey mengerti mengapa ia selalu berpikiran seperti itu. Rey menarik kesimpulan jika Sam mirip dengan Arinda, cinta pertamanya. Bagaimana gadis itu tertawa, bagaimana gadis itu menangis, dan bagaimana gadis itu marah padanya. Semua terlihat mirip di mata Rey. Seolah Rey sedang mengulang kembali memori yang ada di kepalanya. "Reeey, kamu udah dateng?" Sandra tiba-tiba datang entah dari mana dan langsung mengamit tangan Rey. "Lepas!" Perintah Rey dingin. "Kamu kenapa sih Rey terus-terusan dingin sama aku?" Ujar Sandra lalu melepaskan tangannya yang memeluk lengan Rey. Rey tak menjawab Sandra, ia langsung pergi meninggalkan gadis itu sendiri. Membuat Sandra mengepalkan tangannya karena sempat melihat Rey mengajak gadis asing berbicara. "Seperti yang seharusnya. Nggak ada yang boleh deket sama kamu Rey kalau kamu masih jauh dari aku" gumam Sandra dengan mata yang berkilat-kilat. ***** "Selamat pagi anak-anak" sapa Mister Yudi, guru Bahasa Indonesia. Karena merupakan sekolah dari yayasan asing, maka panggilan di Riverdale School menggunakan bahasa asing seperti Miss atau Mister. Namun pelajaran sehari-harinya tidak jauh dengan kurikulum Indonesia meskipun dengan kurikulum campuran. "Pagi Miss...ter" jawab murid-murid meledek. "Tumben kamu Rey, tidak terlambat" sindir Mister Yudi pada Rey, menghiraukan murid-muridnya. Rey hanya membalas senyuman tipis ucapan Mister Yudi. Cool dan badboy adalah imej yang benar-benar Rey CS junjung di sekolah. Bukan tanpa alasan, Rey CS ingin seperti karakter novel yang di gilai tanpa perlu banyak bicara. Awalnya Rey dan Figo menolak. Namun usul dari Michael ini boleh juga setelah beberapa kali mereka lakukan. Akhirnya mereka menjaga mati-matian imej itu di lingkungan sekolah. Kecuali saat mereka sedang bertiga saja dan keadaan aman. "Mari masuk!" Perintah Mister Yudi pada gadis yang sedari tadi berdiri di balik pintu kelas. Sam pun masuk ke dalam kelas dengan wajah acuh. Murid-murid dikelas pun mulai berbisik. Mereka bertanya-tanya, siapa gadis yang berdiri dihadapan mereka. Tak terkecuali Figo dan Michael, meskipun mereka hanya menyimpan pertanyaannya di dalam hati. "Jangan berisik! Silahkan perkenalkan dirimu" Mister Yudi berdehem keras agar terlihat berwibawa di hadapan Sam. "Selamat pagi. Nama saya Samantha Rianda, saya murid pertukaran pelajar dari Riverdale School New York" ucap Sam yang di balas dengan "oh" panjang dari teman-teman sekelasnya. "Kok bukan bule, Mister?" Tanya Radit Si Biang Onar iseng. "Kamu tanya aja sendiri nanti! Samantha, silahkan duduk. Pilih dimana saja yang kamu suka" Mister Yudi lalu bersiap ingin memulai pelajaran. Sam mendengus kesal. Bukan tanpa alasan ia mendengus. Mister Yudi menyuruhnya duduk dimana saja namun hanya satu kursi kosong yang tersedia, sebelah Rey. Teman-teman sekelas Rey tentu tidak ada yang berani untuk mengajak Sam bertukar tempat meskipun banyak gadis-gadis yang ingin bersebelahan dengan Rey. Para murid laki-laki pun tak berani berbuat apa-apa meskipun mereka sangat ingin duduk dengan Sam, karena tidak ada yang berani duduk bersama Rey. Padahal, murid laki-laki banyak yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Sam. Gadis itu memang sangat cantik dengan kulit putih bersihnya dan rambut panjangnya yang berwarna kecoklatan karena ayahnya memang keturunan Irlandia.  *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN