Leo dan Marsya berbarengan memanggil nama Aini dan Dave.Ya, mereka adalah Leo dan Marsya, kalian sudah pasti tahu siapa Leo bukan? Namun mungkin belum dengan Marsya. Marsya adalah mantan Dave sewaktu kembali ke Indonesia setelah beberapa waktu. Mereka berpacaran istilahnya untuk anak muda beberapa tahun lalu hanya sebentar. Dan bagi Dave sementara mengalihkan sedikit rasa sedih di hatinya saat itu. Dulu mereka berpisah juga dengan cara baik-baik begitulah pikir Dave, tapi entah untuk Marsya yang sampai saat ini masih memiliki harapan.
"Hai, Dave!" sapa Marsya dengan wajah cerah dan mata berbinar.
"Hai juga, Marsya. Apa kabar?" tanya Dave.
"Aku baik, bagaimana denganmu? Masih sendiri sajakah?" Marsya balik bertanya.
Dave yang melihat masih ada harapan di mata Marsya berniat akan mematahkannya sebentar lagi karena dia tidak tertarik sedikitpun dengan Marsya. Padahal dibanding Aini, Marsya adalah teman semasa SMA-nya saat itu.
Aini yang melihat Leo ingin memanggilnya sekali lagi langsung menolehkan wajahnya agar tak disapa, kesempatan pikir Aini, tapi mungkin memang belum rezeki Aini, Dave langsung menahan lengannya.
“Kamu mau ke mana? Kamu masih ada satu hutang denganku. Ayo kita mainkan peran," ucap Dave.
"A–apa maksudmu?" tanya Aini tergagap, bingung melihat Dave.
"Aku akan bertunan. Kenalkan, ini Aini, kekasihku," ucap Dave tegas agar Marsya percaya.
Tapi mungkin tidak bagi Leo yang tahu Aini bagaimana juga Dave, dia baru mengetahui semalam siapa Dave dan tidak mungkin sekarang mengambil resiko berurusan dengan manusia seperti mereka apalagi Arjuna.
"Oh, ya? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Marsya sedih.
Marsya yang terkejut karena apa yang disampaikan oleh Dave barusan merasa tidak percaya melihat ke arah Aini, memindai wanita seperti apa dia dan tidak menyangka mengapa Dave menyukai wanita seperti ini sekarang. Karena setahunya, Dave menyukai wanita sexy dan menggoda. Tapi mungkin tidak begitu bagi Dave.
"Kami tidak pernah memberitahu siapa pun. Hanya kami saja. Dan setelah tunangan, mungkin beberapa bulan lagi kami akan menikah" ucap Dave, "semoga kau juga mendapatkan jodoh yang terbaik" tambahnya lagi.
Sejenak Dave seperti melihat kesedihan di mata Marsya yang berkaca-kaca. Namun, hanya sebentar karena dia langsung menjawab dengan tenang, "Ya, kudoakan jika kau langgeng, jika tidak, masih banyak yang lain. Seperti mati satu tumbuh seribu dan masih banyak ikan di laut. Ya, ‘kan?" ucapnya dengan pandangan berbinar pada Dave namun remeh kepada Aini. Aini yang dasarnya cuek tidak memperhatikan tapi berbeda dengan Dave yang melihat sedikit pancaran dan senyum licik dari bibir Marsya. Siapa sangka mantannya adalah teman mantannya juga. Dan dia tidak ingin kembali.
"Ah, ya kau benar. Tapi aku akan bertunangan sebentar lagi, nanti aku beri undangannya, ya!” ucap Dave padanya.
Leo yang masih tidak percaya menyela, "Kamu akan bertunangan, Ni?" tanyanya.
Aini yang terkejut dengan pertanyaan itu akhirnya menjawab, “I–itu, ah, aku belum tahu. Masih kami rundingkan.”
Dave yang mendengar perkataan Aini pun langsung terpengarah, ternyata gadis polos ini bisa juga diajak bersandiwara.
Arjuna yang tahu pasangan di depannya ini sedang memainkan sebuah peran ikut menimpali, "Hem, kalian baru bilang sekarang? Padahal sudah jauh hari aku mengatakan kalau kalian harus mempercepat pernikahannya, takutnya kebablasan nanti,” ucap Juna sengaja memancing suasana.
Dave yang mendengar tertawa. “Tenang saja, kami pakai pengaman,” ucapnya lugas.
Berbeda dengan Aini yang mukanya sudah merah bagai kepiting rebus, Dave semakin menjadi. "Ya kan, sayang? tanya Dave memastikan. Aini hanya menunduk, tapi Dave tak membiarkan mereka canggung.
"Semoga kamu cepat menyusul juga Marsya. Dan kamu, Leo, mantan Aini, ‘kan? Yang Aini pernah cerita saat itu. Iya, 'kan?" tanya Dave, padahal jelas sekali Dave tahu, bahwa Leo ini adalah orang yang kemarin bertengkar dengannya, saat ia akan menolong Aini, dasar anak lelaki lemah yang berdiri di bawah ketiak ayahnya.
Mantannya, si Leo itu, tidak akan bisa berkutik setelah tahu siapa yang menjadi tunangan seorang Aini.
"Tapi, Aini tidak pernah bercerita siapa yang dekat dengan dia,” ujar Leo masih tidak percaya.
Dave yang mendengar terkekeh pelan seolah mengejek. “Memangnya kamu siapa? Kamu hanya mantannya yang mungkin sudah berlalu lama. Lagi pula, Aini bukanlah anak-anak yang masih mengadu apalagi itu hanya tentang mantannya. Dia bercerita panjang lebar tentang kamu, tapi tidak harus tentang saya dia cerita ke kamu, bukan?" tanya Dave.
"Tapi, bahkan kamu tidak tahu apa-apa tentang Aini," desak Leo.
Dave yang mulai kehabisan sabar menahan emosinya, hampir saja terpancing. Untungnya dia bisa menahannya. “Aku tahu, bahkan luar dalam pun aku tahu," ucap Dave masih santai tapi terdengar dingin.
"Kamu bahkan tidak tahu makanan dan warna kesukaan Aini. Kalian baru kenal semalam," ujar Leo tidak terima. Ucapannya itu membuat Marsya dan Aini melihat ke arah Leo. “Kenapa?" tanya Leo.
"Berarti kamu mengakui bahwa semalam kamu mengganggu kekasiLeo?” ucap Dave dingin. Membuat siapa pun yang melihat harus berpikir dua kali untuk berurusan dengannya, tapi Leo yang tidak terima membantah.
"Bukannya semalam kamu yang mengejar Aini?” tanyanya.
"Hahaha. Kalau sepasang kekasih sedang berlari mengejar satu dan yang lain wajar, tapi kamu siapa? Mengapa mengejar kekasih orang lain?" ujarnya semakin memojokkan Leo. Marsya yang melihat perdebatan itu mencoba menarik Leo dari sana.
"Ayo kita pergi saja! Besok-besok kamu bisa berbicara dengan Ainimu itu," ujarnya.
"Tidak ada waktu, besok apalagi kapan-kapan. Karena aku tidak akan membiarkannya,” ujar Dave tegas. Marsya hanya menghela napas lalu menarik Leo dan berlalu.
***
"Kamu bodoh!" ucap Marsya.
"Kenapa? Apa aku salah?" tanya Leo kebingungan.
"Iya, kamu emang salah.”
"Di mana salahku?" tanya Leo, "jelaskan!” tambahnya lagi.
"Nanti saja. Sekarang kita menysuun rencana dulu,” ujar Marsya.
"Kamu tidak tahu seberbahaya apa Dave dan seberapa besar kekuasaannya," tambah Mmarsya Dia tahu cara untuk memisahkan mereka. Karena sebenarnya jika ingin memisahkan Aini dan Dave itu gampang saja. Aini adalah tipe yang mudah diatur dan penurut, berbeda dengan Dave. Marsya merutuki Leo yang mencoba kasar pada Aini di depan Dave.
"Kita harus mengatur rencana," ujar Marsya lagi. "Jangan bertindak bodoh, Leo! Mereka tahunya kamu dan aku tidak saling mengenal. Kita harus memerankan itu.”
***
.
Di lain tempat.
"Maksud kamu tadi apa?" tanya Aini marah pada Dave.
"Ah, yang tadi nanti saja dijelaskan. Ayo ikut aku!"ktitah Dave menarik lengan Aini.
“Jun, kamu pulang sendiri saja ya? Aku masih ada urusan sebentar,” ucapnya.
"Ya, baiklah. Mau lama atau sebentar itu urusan kalian. Aku tidak mau tahu" kata Juna mengedikkan bahu masih sambil menyesap minumannya.
"Hei, kamu akan membawaku ke mana?" tanya Aini sambil memukul tangan Dave yang menarik sebelah lengannya.
"Kemana saja, asal tidak membawamu ke rumah hantu, atau memang kamu mau ke sana?" Dave sengaja menggoda wanita itu.
"Enak saja!” ucap Aini. Mereka hingga sampai di parkiran.
“Masuk!" ucap Dave.
Aini yang bingung melihat antara mobil dan Dave akhirnya membuat Dave gemas sendiri. Dia mendorong Aini masuk ke dalam jok. “Masuk saja dan duduk diam!” perintahnya sekali lagi lalu dia memasuki kemudi.
"Kamu mau ke mana?" tanya Dave.
“Ini orang aneh banget, deh,” batin Aini. Dia yang mengajak kenapa dirinya yang ditanya. "Enahlah. Aku malas pulang," jawab Aini tak berselera.
"Oke" kata Dave singkat dan entah kemana mereka akan pergi.
Akan kemana mereka? Hanya Dave yang tahu, Sebab Aini pun tidak tahu kemana arah tujuan mereka. Jangankan tujuan mereka, dia sendiri saat ini tidak tahu tujuannya sendiri.
***