“Aini, makan malam!” seru Hendramo yang baru pulang. Dia menggedor-gedor pintu kamar Aini. Namun, anak tersebut tidak kunjung keluar. Kerutan di kening Hendramo bertambah, dia berusaha untuk membuka pintu kamar anaknya tersebut hanya untuk menemukannya terkunci. Susah payah Hendramo kembali mengetuk-ngetuk pintu tersebut hingga akhirnya Aini terbangun. “Iya?” jawabnya dengan suara serak. Hendramo yang melihat Aini sudah bangun nampak kesal. “Maaf, aku ketiduran.” Hendramo tidak mengucapkan apa-apa dan segera pergi menuju meja makan. “Cepat datang ke meja makan, makanan sudah ada.” Aini segera menganggukkan kepala, tidak masalah bila Hendramo tidak melihatnya dan segera berlari untuk mengikuti Hendramo yang mengambil langkah besar karena perasaan yang kacau, Aini hanya bisa menggigit

