Tiana menatap Guntur dengan tatapan tak enak. Sejahat apapun pria itu, tetap saja dia lebih tua darinya, dan ia merasa tak enak hati berbicara seperti itu kepada orang yang lebih tua. Tetapi mau bagaimana lagi, Yama menolak kehadiran ayahnya sendiri. Tiana tahu bahwa Yama pasti membenci pria itu karena sedari tadi Yama hanya diam dengan tatapan kosong, sedangkan tangan lelaki itu terus menggenggam tangannya dengan erat. “Na ...” ucap Yama pelan seraya menatap dirinya. “Iya?” “Suruh dia pergi, Na. Tolong ...” Yama berkata dengan nada terbata-bata. Guntur yang mendengar hal itu, menjadi sadar diri. Ia tersenyum kecut seraya menatap Yama yang kini ia ketahui bahwa lelaki remaja itu adalah anak kandungnya. “Kalau kamu merasa tak senang Ayah ada di sini, gak apa, Ayah akan pergi,” ujar

